Bagian 13
The Seven Steps to Nirvana
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Kamis, 11 September 2008 | 00:23 WIB

“A business does more than transact. It communicates. It collaborates. It innovates.”

Itulah yang dikatakan Mohan Sawhney dan Jeff Zabin dalam bukunya, The Seven Steps to Nirvana.

Buku ini judulnya memang bisa membingungkan. Mungkin ada yang mengira buku ini tentang spiritualisme.

Padahal sebenarnya, buku ini membahas tentang manfaat e-business (baca: teknologi) dalam sebuah perusahaan. Kata “nirvana” bermakna bahwa kalau sebuah perusahaan bisa menjalankan tujuh langkah yang ada dalam buku ini, niscaya perusahaan tersebut akan mampu mencapai puncak tertinggi dan jadi pemenang.

Kedua penulis mengatakan hal tersebut pasca meletusnya gelembung dotcom pada sekitar tahun 2000. Sawhney dan Zabin bilang, teknologi semahal dan secanggih apapun yang dipraktikkan dalam e-business tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak menjalankan langkah-langkah yang tepat.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 4.88 A A A
Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
m jhon @ Senin, 22 September 2008 | 14:23 WIB
suatu usaha jika hanya keberanian tanpa ada mempelajari teori sepertinya gampang hancur. strategi dan visi itu memang harus sejalan. jika visi kearah kanan, maka harus ada komando yang pasih menuju arah kanan tersebut.
Jos @ Sabtu, 20 September 2008 | 00:33 WIB
Pak Hermawan, saya jadi bingung nih... baru selesai baca buku good to great karya jim collins. Kalo menurut riset beliau, perusahaan yg menjadi hebat itu bukan karena memiliki visi yg hebat, bahkan sebagian tidak memiliki visi yg jelas. Menurut beliau malah kunci pertama adalah SDM. Bukan semua SDM adalah asset, tapi SDM yg tepatlah yg asset, jadi kuncinya adalah kehati-hatian dalam memilih SDM dan keberanian mem PHK SDM yg tdk tepat, walaupun orang tsb tidak punya salah apa2. Gimana nih ?
iwan simatupang @ Kamis, 18 September 2008 | 15:56 WIB
Pak saya bukan orang marketing tapi saya suka membaca, klo untuk ini saya jadi ingat bahwa 30 thn lalu The Beatles bertanya pada Dunia : Darimanakah Orang - Orang Kesepian itu berasal? klo customer gak ada, ke sepian dech. salam laris manis @_@ iwan simatupang @_@
David Dwiyanto @ Rabu, 17 September 2008 | 09:06 WIB
Ketidak berhasilan penerapan sumber daya IT membawa perusahaan untuk dapat melakukan pengurangan biaya (cost reduction), peningkatan pendapatan (revenue expansion), pengurangan waktu (time reduction), dan/atau peningkatan relasi (relationship enhancement) biasanya terjadi karena perancangan sistem informasi yang kurang baik. Dengan perancangan sistem informasi yang dimulai dari Business Process Re-design yang baik, prosentasi keberhasilan penerapan sumber daya IT dapat semakin besar.
Nachtzehrer @ Selasa, 16 September 2008 | 03:20 WIB
Visi bisnisnya memang kurang tepat. Daripada menyasar mainstream market, seharusnya Proyek Iridium ini menyasar pasar-pasar ceruk (niche) seperti para geologist atau personel militer yang berada di lokasi-lokasi terpencil. --> sepertinya sebentar lagi Markplus akan ngadain seminar di Kabupaten Yahukimo dan pulau batu goyang nih
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299