SBY, Super Toy, dan Super HL
Sabtu, 6 September 2008 | 06:28 WIB

KISAH tentang staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertambah. Bukan dari staf khusus bidang hukum Denny Indrayana yang baru diangkat dan berkantor di Istana. Kisah itu muncul dari staf khusus lama, Heru Lelono.

Kisah terakhir adalah Blue Energy. Kisah penuh misteri pencarian bahan bakar alternatif ini juga muncul dari Heru. Dalam kisah ini, selain Heru, mencuat nama Djoko Suprapto.

Hubungan Heru dengan Djoko adalah hubungan bisnis. Heru adalah Komisaris Utama Sarana Harapan Indogrup (SHI) yang membawahi tiga perusahaan, yaitu Sarana Harapan Indohidro, Sarana Harapan Indopangan, dan Sarana Harapan Indopower. Djoko peneliti pada laboratorium Sarana Harapan Indohidro.

Presiden terbawa-bawa dalam Blue Energy lantaran ikut mempromosikan dan memberikan dukungan untuk proyek SHI.

Ada hubungan

Sejak September 2002, Yudhoyono diangkat sebagai Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia Bersatu (GIB). Heru adalah Sekretaris Umum GIB. Ketua Umum GIB adalah Suko Sudarso.

Kedekatan ganda di Istana dan di GIB membuat Heru memiliki hotline dengan Yudhoyono. Ketika mencuat kisah Super Toy HL-2, hotline tetap terjaga. Presiden menelepon Heru yang melekat ke Yudhoyono jauh sebelum menjadi presiden.

Super Toy HL-2 adalah varietas padi yang ditanam di lahan 103 hektar di Desa Grabag, Purworejo, Jawa Tengah, sejak Desember 2007. Saat panen raya perdana di kampung halaman Ny Ani Yudhoyono ini, Presiden datang dan memberi dukungan.

Super Toy HL-2 yang belum memiliki sertifikasi dipromosikan dapat dipanen tiga kali per tahun, tanpa perlu menanam ulang bibit. Kapasitas panen 15,5 ton gabah per hektar.

Optimisme Presiden terhadap Super Toy HL-2 mencuat. Menurut SHI, Super Toy HL-2 ditemukan Tuyung Supriyadi dengan menyilangkan Rojo Lele dan Pandan Wangi. Tuyung saat ini berkantor di laboratorium SHI di Cikeas, Bogor. Sebelumnya, Tuyung adalah pegawai perusahaan benih milik pengusaha Korea.

Nama Super Toy HL-2 adalah gabungan nama Tuyung sebagai penemu dan Heru Lelono sebagai pembuka jalan penyebaran benih. ”Pak Tuyung ingin menghormati Pak Heru sehingga varietasnya diberi nama tambahan HL,” ujar CEO SHI Iswahyudi yang di GIB menjabat wakil sekretaris umum.

HL menjadi nama sandi Heru. Sebelum merapat ke Yudhoyono, HL adalah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. VW Caravelle warna biru yang kini digunakan Heru juga diakhiri huruf HL setelah nomor B 1255.

Untuk kedekatannya dengan Yudhoyono, Heru mengaku memiliki komitmen pribadi. Karena itu, ketika ada desakan mundur, Heru tenang-tenang saja. Desakan mundur dikemukakan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok. ”Kalau saya memperburuk citra dan membuat SBY seperti orang bodoh, pasti saya sudah dipecat,” ujar Heru.

Heru mengatakan, SBY bukan boneka yang bisa dibawa ke sejumlah proyek yang digagasnya. Super Toy, Super HL.


Wisnu Nugroho A
Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
hendarto @ Kamis, 11 September 2008 | 21:31 WIB
Kisah gagal panen bibit supertoy jelas terlihat bukan karena bibit yan buruk, tetapi nampak jelas bahwa budidaya penanaman bibit tersebut tidak menggunakan standar prosedur (SOP) yang benar karena nampak kurang air (masalah irigasi), banyak gulma (malas membersihkannya). jadi mari kita hargai penemuan ini dengan bertani yang benar dan disiplin. Pak SBY, majukan terus sektor pertanian. rakyat perlu makan. Tidak mengapa sekarang dilecehkan, tapi terus lakukan penelitian. Wassalam
hendarto @ Kamis, 11 September 2008 | 21:27 WIB
Sebenarnya ini menunjukkan komitmen yang luar biasa dari presiden SBY untuk memajukan industri pertanian dan kepercayaan yang besar pada anak bangsa. Saya pribadi salut pada keberanian presiden SBY yang berani di depan pasang badan demi memberi tempat yang terhormat bagi penemuan ilmiah anak bangsa. Kami dari tim Revolusi Agro telah membuktikan bibit tersebut dapat tumbuh dengan baik asalkan dikelola dengan sistem budi daya yang benar dan disiplin terhadap SOP penanaman padi. Selamat pak SBY.
Todi @ Senin, 8 September 2008 | 16:16 WIB
Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Hendaknya kita mengambl hikmah dan mencoba utk meneliti ulang. Janganlah kita menjadi bangsa yg suka mencemo'oh dan mencibir atas kegagalan org lain. Sesungguhnya diri kita belum tentu lebih baik dari orang yg kita hina.
SURYAWH @ Minggu, 7 September 2008 | 08:31 WIB
Apa departemen pertanian sekarang sudah tidak ada? Menteri Pertanian kan pembantu presiden.
genitz @ Sabtu, 6 September 2008 | 22:57 WIB
Bangsa ini selalu aja merasa bisa!
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1