Gang Dolly? Libur Duluuu!!!
ilustrasi
Senin, 1 September 2008 | 11:33 WIB

SURABAYA, SENIN — Momen Ramadhan bagi para pekerja seks komersial (PSK) berarti waktunya menganggur beberapa saat. Risiko diciduk petugas bisa saja menimpa mereka jika nekat 'berdagang'. Karena itu selama puasa mereka memilih pulang kampung.

Seperti Ayuk (29), salah satu PSK Lokalisasi Putat Jaya (Jarak), yang terlihat  mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pulang ke Mojokerto, Sabtu (30/8). Selain dua kardus berisi makanan dan pakaian, perempuan berambut sebahu ini membawa sebuah rice cooker untuk oleh-oleh orangtuanya di Mojokerto. “Prei (libur) dulu mbak, puasa,” kata Ayuk yang saat itu mengenakan jaket jeans biru bercelana hitam.

Kepulangan Ayuk sebenarnya direncanakan Minggu (31/8), namun karena wisma sudah tutup sejak Sabtu (30/8), perempuan berwajah manis ini pun mengawali 'liburannya'.

Sejak Sabtu sejumlah wisma Jarak seperti di Gang II A sudah menutup operasinya. Tidak ada denting musik keras dari blok wisma atau suara PSK yang sedang berkaroke dengan pelanggannya. Penutupan ini ditandai dengan ditempelnya pengumuman bertulis 'Tutup' dari Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Penutupan awal itu dilakukan setelah lokalisasi ini dirazia Front Pembela Islam (FPI) Sabtu pagi (30/8). Ancaman bakal diobrak, membuat pengelola wisma mulai keder. “Tanpa diancam akan diobrak (dirazia) pun kami sudah tutup, karena sudah ada aturan pemerintah untuk menutup. Tidak usah diancam-ancam begitu,” kata salah seorang warga.

Jika Gang IIA sudah menutup wismanya, gang IIB dan sebagian lokalisasi Jarak termasuk Dolly baru menutup wismanya Minggu (31/8). Penutupan usaha ini ditandai dengan pemulangan sejumlah PSK oleh mucikarinya. Bahkan sejumlah wisma menyewa angkutan khusus untuk pemulangan PSK ini. Seperti wisma Barbara yang sengaja menyewa sebuah bus untuk memulangkan PSK nya.

Rono, warga Putat Jaya, mengakui, ketakutan para PSK dan muncikari ini beralasan karena setiap tahunnya selalu ada operasi besar-besaran selama Ramadhan. Operasi biasanya gabungan antara polisi dengan Satpol PP. “Mereka tidak pandang bulu, kalau ada yang nekat beroperasi langsung diciduk. Jadi mending tutup saja,” kata Rono.

Operasi ini biasanya gencar dilakukan pada minggu pertama Ramadhan. Setelah itu mulai jarang. Dan itu biasanya dipakai para PSK untuk mencuri-curi waktu beroperasi. Hanya saja mereka tidak melakukannya di wisma, tapi hanya menggunakan wisma untuk janjian dengan pelanggan.

Usai janjian di wisma, mereka lalu memilih hotel atau penginapan untuk memuaskan nafsunya. “Mereka takut sebab banyak intel yang beroperasi siang hari. Jadi lebih baik menghindar saja,” ungkap Rono.

Sementara itu, tutupnya lokalisasi ini ternyata berdampak bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya di sana. Seperti Budi, pemilik toko di salah satu lokalisasi Jarak. Pria ini mengaku omzetnya turun berlipat-lipat. Jika biasanya dalam sehari dia bisa mendapat hasil Rp 2,5 juta, saat puasa penghasilannya turun drastis hanya Rp 100.000 per hari. “Kalau sebelumnya yang beli pendatang, sekarang hanya masyarakat sini saja Mbak,” katanya. (UUS)



Share on Facebook
Nilai 4.5 A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
agung @ Selasa, 30 Desember 2008 | 20:43 WIB
untuk mbak ayu dkk..boleh anda memilih pekerjaan itu,tapi jangan selamanya ya.., and bwt pengelolo dolly,plis jngan over dunk bka praktek nya..thanks,cpry klo agak menyinggung....peace..
suwaryo @ Senin, 1 September 2008 | 17:13 WIB
mbak Ayuk cs, mumpung libur sebulan, coba cari bisnis lain yang diridhoi Tuhan, kudoakan anda2 dapan jalan yang akan membahagiakan baik didunia n alam nanti...amin.
Pelanggan @ Senin, 1 September 2008 | 15:03 WIB
Kok libur sih, ente semua gak ngerti. Gara2 libur di bulan puasa...ane bisa puasa siang dan puasa malam. Sedih banget
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
4