Bagian 2
It is the Technology, Stupid...!
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Minggu, 31 Agustus 2008 | 02:36 WIB

MAAF pembaca, judul ini mungkin terlihat agak kasar untuk sebagian dari Anda.

Tapi, kita memang sering tidak sadar bahwa horisontalisasi yang menyebabkan demokratisasi di segala bidang sebenarnya memang disebabkan oleh perkembangan teknologi.

Mas Ninok Leksono dari Kompas mengingatkan saya sekali lagi tentang hal ini seusai acara ”Kompas Political Gathering” di Bentara Budaya Jakarta, Rabu malam kemarin. Acara ini merupakan acara khusus yang diselenggarakan oleh Kompas untuk menjalin silaturahmi dengan para pemimpin partai politik peserta Pemilu 2009.

Pak Jakob Oetama yang membuka acara tersebut menekankan bahwa dari satu pemilu ke pemilu berikutnya, demokratisasi Indonesia bertambah matang. Survey menunjukkan bahwa sebagian besar warga negara menyatakan puas atas pelaksanaan demokrasi di negeri ini.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).


Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Herwandi @ Selasa, 23 September 2008 | 20:08 WIB
Sy sendiri bekerja sebagai marketing di perusahaan website. Kesadaran orang akan internet masih sangat kurang. Untuk satu tahun kedepan, dunia bisnis sudah harus wajib memiliki website. Pernah suatu hari saya menawarkan. Pak/Ibu, saya bermaksud untuk menawarkan website untuk Bisnis Bpk/Ibu. Tapi katanya: 1. Sy tidak pakai begituan di kantor 2. Kami perusahaan kecil, gak pake gitu gituan. 3. Maaf kita gak nyetok website 4. Website itu apa yah??? Walaahhh.. lucunya orang-orang indonesia
nurul @ Sabtu, 20 September 2008 | 08:57 WIB
Memang pak, tehnologi membuat semua menjadi "borderless", orang bisa nulis apa saja, seperti Nachtzeherer, bisa bawa - bawa alamat website favoritnya kesini.
Nachtzehrer @ Selasa, 16 September 2008 | 04:32 WIB
Namun, belakangan, seperti juga sudah saya ceritakan di atas, saya malah keranjingan Facebook. Awalnya saya memang bergabung karena didaftarkan oleh staf saya di MarkPlus, Inc. Namun, lama-kelamaan saya kok merasa asyik sendiri, --> jangan sampai anda daftar di adultfriendfinderdotcom deh... takut kjdian yang sama terulang..huhuhu apalagi setelah saya mulai terbiasa menggunakan BlackBerry yang saya bawa kemana-mana. --> ini nih contoh horisontalisasi iklan, btw chargernya jangan ketinggalan ya
Alvin @ Selasa, 2 September 2008 | 11:25 WIB
Pak Herman, dah..tahu Pak...ente aja yang ketinggalan .. kesian deh...
didin @ Senin, 1 September 2008 | 05:08 WIB
sebelumnya saya pesimis dengan bisnis yang akan saya geluti mengigat saya masih mahasiswa belum tau banyak tentang bisnis tapi setelah baca tulisanya Pak Hermawan rasa peismis molai hilang, makasih Pak ya.. juga buat kompas yang menyelenggarakan acara ini
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299