JAKARTA, JUMAT - HIV/AIDS merupakan penyakit yang diakui sampai kini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan secara tuntas. Obat-obat yang tersedia baru sebatas menekan laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuh penderita dengan harga sangat mahal dan kebanyakan masih diimpor dari luar negeri.
Untuk mendukung penyediaan obat di Indonesia, Unit Produksi Antiretroviral (ARV) Kimia Farma diresmikan Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Indroyono Soesilo yang mewakili Menko Kesra Aburizal Bakrie, Kamis (28 /8), dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kimia Farma ke-37, di Pabrik Kimia Farma, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur.
Pada akhir tahun 2002, Kimia Farma mempertimbangkan untuk memproduksi obat HIV/AIDS karena jumlah pengidap AIDS makin banyak sedangkan obatnya masih belum tersedia. Obat yang tersed ia masih impor jadi dan harganya mahal. Kemudian, Kimia Farma berinisiatif untuk memproduksi ARV KF dengan harga terjangkau, tersedia dan murah. Hal ini didukung berbagai pihak sehingga registrasi dan produksi perdana dapat dilakukan di Pabrik Kimia Farma di Bandung dalam skala proyek.
Kimia Farma selaku BUMN Farmasi, melalui Keputusan Presiden Nomor 83 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1237 Tahun 2004 mengembang penugasan pemerintah dalam menyediakan obat-obat ARV, khususnya obat untuk penyakit HIV/AIDS dan mendistribus ikannya pada 25 rumah sakit rujukan se-Indonesia. Terkait hal itu, hari ini, unit ARV Kimia Farma resmi berproduksi.
ARV dibangun dengan mengacu kepada persyaratan Cara Produksi Obat yang Benar (CPOB) atau current GMP serta persyaratan WHO Qualification sebagai prasyarat untuk masuk ke pasar regional dan global. Dalam proses pengujian efektivitas obat ARV bagi pengidap HIV/AIDS di Indonesia, Kimia Farma
Dengan kapasitas produksi 168 juta butir per tahun, bagi penderita HIV/AIDS, ARV adala h penolong utama. Oleh karena itu, ketersediaan ARV yang berkesinambungan adalah harapan besar dalam memberi harapan hidup lebih panjang bagi penderita, dan dapat beraktivitas normal lagi. Indroyono berharap harga obat ARV yang diproduksi Kimia Farma bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas obat.
Anti Retroviral Plant ini merupakan wujud visi Kimia Farma yang baru yaitu komitmen pada peningkatan kualitas hidup, kesehatan dan lingkungan. V isi ini ke depan akan memberi semangat dan inspirasi pada seluruh jajaran di perusahaan untuk mengembangkan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat, kata Direktur Utama Kimia Farma M Sjamsul Arifin.