JAKARTA, RABU — Indonesia membutuhkan sosok pemimpin berkarakter, bukan pemimpin yang populer.
Hal tersebut diungkapkan Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung Wibowo dalam diskusi dalam peluncuran National Press Club di Hotel Sultan, Jakarta, saat berkomentar tentang partai yang banyak mencalonkan artis.
Menurut dia, Indonesia memerlukan pemimpin yang berani mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak memihak rakyat. "Ini bisa membahayakan. Pemimpin populer, tapi tidak berkarakter. Misalnya, maaf ya, pedangdut yang tidak punya pengalaman mencalonkan diri jadi wakil wali kota di sebuah kota di salah satu provinsi di Indonesia. Ini ada kesedihan bagi saya meski itu sah-sah saja," ujarnya, Rabu (27/8).
Dia khawatir, jika pemimpin tidak memiliki karakter dan hanya populer, Indonesia akan terjebak pada pemerintahan instan, seperti pemilihan idola nyanyi di televisi. Menurut dia, nantinya akan ada titik balik bagi masyarakat. Nantinya masyarakat akan kecewa. Apalagi, lanjut Pramono, masyarakat tingkat bawah sudah kecewa terhadap demokrasi.
"Saat ini mereka menilai demokrasi itu menimbulkan kesengsaraan. Lebih baik hidup di zamannya Pak Harto. Ini grass root lho yang beranggapan seperti itu," jelasnya.
Oleh karena itu, tuturnya, PDI-P memilih tidak banyak mengikutsertakan artis pada daftar calon legislatif yang diajukan ke KPU. (BOB)