JAKARTA, RABU — Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir mengatakan ketidaksetujuannya terhadap kuota perempuan. Ia takut perempuan terlena dengan sistem kuota. Maka seharusnya perempuan yang ulet dan mampu bersaing yang kemudian menjadi caleg, termasuk dari PAN.
"Mereka enggak mandiri kan jadinya kalau minta-minta jatah," ujar Soetrisno sebelum debat capres yang diselenggarakan National Press Club di Hotel Sultan Jakarta, Rabu (27/8).
Sebelumnya, PAN termasuk partai yang berkas calegnya dikembalikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena belum memenuhi syarat keterwakilan perempuan.
Sementara itu, Ketua Umum Partai Bintang Reformasi Bursah Zarnubi berbeda pendapat. Bursah mengatakan, kuota perempuan dalam pemilihan legislatif justru memperjuangkan kesetaraan dalam dunia politik. "Lagi pula, sekarang trennya ada dua. Satu, pemuda. Dua, perempuan. Fenomena Jatim adalah satu terobosan. Kofifah unggul di putaran kedua," ujar Bursah.
Bursah mengatakan, peran perempuan di dunia politik sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk vote-getter, tapi juga untuk mencairkan dinamika politik yang panas. Dalam daftar calegnya, PBR menempatkan perempuan hingga 44,7 persen dari total caleg.
Caleg perempuan tersebut umumnya adalah aktivis. Hal ini bertujuan supaya perempuan dapat merekonstruksi kegiatan-kegiatan sosial mereka dalam masyarakat. Di PBR, 12 perempuan terdapat di nomor urut 1.