Seekor Badak Luka-luka Tersesat di Kebun Sawit
Gambar yang diambil dari video rekaman seekor badak di hutan Sabah, Malaysia yang berada di Pulau Borneo (Kalimantan).
Minggu, 24 Agustus 2008 | 18:54 WIB

SABAH, MINGGU - Seekor badak Sumatera tersesat di kebun sawit di wilayah Sabah, Malaysia yang berada di Pulau Borneo (Kalimantan) dan mengalami luka-luka. Beruntung sejumlah pecinta lingkungan berhasil menyelamatkan dan menggiringnya ke habitatnya sebelum lukanya berakibat fatal.

"Jelas terlihta badak tersebut mengalami luka-luka selama keluar dari hutan ke daerah datar perkebunan kelapa sawit," ujar Senthilvel Nathan, kepala dokter hewan dari Departemen Lingkungan Hidup Malaysia.

Ia mengatakan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan lingkungan habitatnya. Saat timnya pertama kali mendekatinya, badak tersebut tampak agresif dan melakukan perlawanan. Namun, para petugas tetap menjaga jarak dan memberikan daun-daun serta buah-buahan yang dibutuhkan hewan tersebut untuk dimakan.  

Badak tersebut sempat berputar-putar di dalam kebun sawit sebelum akhirnya berhasil digiring ke hutan. Proses pemindahan tersebut melibatkan tidak kurang dari 24 orang dokter hewan, penjaga hutan, dan sukarelawan dari SOS Rhino Borneo dan WWF Malaysia. Mereka memonitor pergerakan badak selama 24 jam setiap hari sampai benar-benar memasuki hutan.

WWF Malaysia dalam pernyataannya Minggu (24/8) yakin bahwa badak tersebut sama dengan badak yang pernah terekam kamera penjebak pada Februari 2007. kamera yang dipasang dalam hutan Sabah itu untuk pertama kalinya merekam kehidupan badak Sumatera di Kalimantan dalam gambar bergerak (video).

Badak di Kalimantan adalah sub spesies badak Sumatera. Bentuk tubuhnya sedikit lebih kecil daripada badak Sumatera umumnya, dengan gigi lebih kecil dan bentuk kepala berbeda.  

Subspesies ini merupakan badak paling terancam punah di seluruh dunia. Populasinya di dalam hutan Sabah diperkirakan tinggal 30 ekor. Selain di Sabah, badak Sumatera juga masih hidup di Semenanjung Malaysia. Pada Desember lalu, foto badak di sana berhasil dibuat setelah 10 tahun tak pernah dilaporkan penampakannya.


WAH
Sumber : PHYSORG
Share on Facebook
Nilai 5.33 A A A
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
cie @ Rabu, 3 September 2008 | 15:41 WIB
Tuh... si Rhino aja berjuang untuk hidup. Masa kita gak tergerak untuk melestarikan alam buat dia dan hewan lainnya?? (juga untuk anak cucu kita loh!)
anom_bali @ Senin, 1 September 2008 | 13:49 WIB
iya bener, jaman sekarang sangat susah menemukan orang yang menyayangi binatang dan atau tumbuhan. yang ada adalah manusia bengis yang memakan daging hewan yg telah mati, dg tiada puasnya. seinget saya dulu, kalo ada hewan tersesat di kebun sawit, pasti ptugas kebun ato pekerja lain langsung nguber pake senapan angin ato golok, tuh binatang pasti jadi hidangan di atas meja, setelah sebelumnya meregang nyawa dengan sakitnya. di JGY juga, kebun binatangnya malah bikin saya menangis kala berkunjun
Bientoro @ Rabu, 27 Agustus 2008 | 21:48 WIB
so sweet... (^ ^ )v
reta @ Rabu, 27 Agustus 2008 | 14:46 WIB
Ternyata masih tersisa manusia di bumi ini yg peduli dengan makhluk lain...
zoe @ Rabu, 27 Agustus 2008 | 13:36 WIB
wah, sisa 30 ekor?ck3, semoga bertahan dech, atau ga, simpan aja gen atau DNA-nya, biar nanti kalo teknologi udah maju, bisa dikembangkan lagi di masa depan. gimana nich indonesia?bonbin di yogya sangat butuh perhatian nich, kayaknya ditelantarkan pemerintah..., ga masuk dalam APBN yach?
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
43