Konsumen Indonesia Suka Klenik
Dua warga melintas di tengah Taman Langsat, Jakarta Selatan, Jumat (15/2). Selain sebagai daerah resapan dan ruang terbuka hijau, taman tersebut juga bisa digunakan untuk berolahraga karena dilengkapi dengan jogging track sepanjang 750 meter.
Video
Jumat, 22 Agustus 2008 | 08:37 WIB

JAKARTA, JUMAT - Pemasaran, ini hal paling penting dalam berdagang ataupun berbisnis. Pemasaran akan berjalan mulus, jika pengusaha tahu karakter konsumennya. Apalagi jika berjualannya di Indonesia. Sebab warga negara kepulauan ini, memiliki keunikan tersendiri. Chairman Fronteir Consulting Group, Handi Irawan D, mengatakan konsumen Indonesia memiliki keunikan dalam budaya, komunikasi non-verbal, tingkat pendidikan dan pendapatan, regulasi, sistem sosial, serta penegakan hukum. Ia mencontohkan masyrakat Indonesia menyukai hal-hal yang berbau klenik alias supranatural, hal ini menjadi salah satu karakter unik dari konsumen Indonesia.

Oleh karena itu, konsumen di Indonesia jangan diperlukan sama dengan konsumen negara lain."Coba saja tilik beberapa merek internasional yang beriklan dengan cara negara asalnya. Misalkan produk ini membuat kita kembali ke alam. Ini tidak akan dilirik konsumen Indonesia. Mereka akan beranggapan, saya dari kecil juga sudah di tengah alam. Mau se-raket (dekat) apa dengan alam?" ujarnya saat memberikan pelatihan di depan puluhan kliennya di Jakarta, Kamis (21/8) malam.

Menurut Handi, setidaknya ada 10 karakteristik paling menonjol dari konsumen Indonesia, yaitu memorinya jangka pendek, tidak memiliki perencanaan, suka berkumpul, gagap teknologi, mengutamakan konteks daripada isi, suka buatan luar negeri, beragama dan suka supranatural, pamer dan gengsi, kekuatan sub-culture, serta rendahnya kesadaran terhadap lingkungan.

Memori jangka pendek, lanjutnya, membuat konsumen lebih memilih obat ces-pleng daripada obat yang aman atau hadiah langsung dibanding point reward. Untuk itu, pengusaha harus mengambil strategi dengan menjual produk yang berjangka pendek dan mampu mengatasi masalah, seperti obat ces-pleng. "Jangan lupa, beri hadiah langsung untuk pembeli," ujarnya.

Sifatnya yang tidak memiliki perencanaan membuat pengusaha harus menawarkan fleksibilitas, seperti kredit yang bisa ditarik ulur waktunya. Tingkatkan juga kebiasaan untuk stok produk dan display yang menarik. Sebab, konsumen cenderung impulse buying. Lalu, beri penghargaan kepada konsumen yang tidak memiliki perencanaan. Penjualan tiket pesawat merupakan contohnya. Pembelian tiket pada saat yang semakin dekat dengan hari keberangkatan, konsumen akan mendapatkan harga semakin tinggi.

"Untuk mengatasi karakter suka berkumpul, salah satunya coba bentuk komunitas. Sementara untuk sifat gaptek, coba tawarkan teknologi yang mengerti konsumen, yaitu teknologi untuk fun, prestise (gengsi), mudah digunakan, dan aman. Jangan lupa pertimbangkan jadi follower. Biarkan perusahaan lain yang mulai memunculkan teknologi itu, biar dia yang mengajarkan. Setelah mereka kelelahan, barulah masuk," jelasnya.

Beriklan, kata Handi, merupakan salah satu cara guna memasarkan produk. Saat beriklan, Handi menyarankan agar pengusaha menggunakan artis dan skenario iklan yang lucu. Namun, jangan lupa memperhatikan kemasannya juga. Karakter yang keenam, sepertinya sudah bukan rahasia umum, jika masyarakat lebih menyukai buatan luar negeri ketimbang dalam negeri. "Jadi, jangan lupa sebutkan darimana produk Anda berasal dan pilihlah nama merek dan simbol yang berbau luar negeri.Selain itu, masyarakat Indonesia masih menyukai hal-hal yang berbau agama dan supranatural. Tak heran jika jasa penyegaran rohani seperti ESQ, mendapat rating paling tinggi," paparnya.

Sifat ini, lanjut Handi, tentunya berseberangan dengan karakter nomor delapan yang masih suka pamer dan gengsi. Karakter kesembilan, kekuatan sub-culture. Beberapa daerah memiliki karakter yang berbeda sehingga, lanjut Handi, Djarum 76 akan lebih disukai di Semarang ketimbang Surabaya. Sebab, produksinya, ada di Jawa Tengah."Terakhir, konsumen Indonesia memiliki kesadaran rendah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, posisikan environmental friendly untuk tingkat corporate, bukan pada produk," jelasnya.


BOB
Share on Facebook
Nilai 5.5 A A A
Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
johan @ Jumat, 22 Agustus 2008 | 18:56 WIB
masukan yang bagus sekali pak Handi, ini merupakan ilmu yang sangat berguna bagi para pelaku marketing, sekaligus pr buat kita2 orang INDONESIA, karena lebih banyak jeleknya.....
Orang Ndeso @ Jumat, 22 Agustus 2008 | 12:40 WIB
Mas Handi, anda cermat sekali mengamati karakteristik konsumen indonesia yang sesungguhnya sekarang ini. Namun saya yakin, 10 atau 15 tahun y.a.d. pola ini akan berubah. Setelah dua generasi sesudahnya sudah menghilang dan digantikan oleh cucu-cucunya yang sudah cerdas, beretika, jujur, toleransi, terbuka, kompetitif, social oriented, dermawan, kritis, berorientasi kedepan dan memperhatikan lingkungan.
yana @ Jumat, 22 Agustus 2008 | 10:37 WIB
sebenarnya bukan jelek apa ga, mgkn karena di indonesia skillnya konsumen blum seberapa tinggi seperti di negara maju laennya, jadi iklannya bikin yg gampang biar bisa cepet ditangkep yg liat n pesen yg disampaikan bs kena ke mereka. Itu cm salah satu strategi dr marketing n advertising buat promosiin di tiap negara, qta harus tau latar belakang n tingkat pendidikan konsumennya, biar iklan yg qta buat itu mengena ke konsumen.
catur @ Jumat, 22 Agustus 2008 | 09:06 WIB
Konsumen indonesia kok ciri2nya jelek2 ya... Apakah itu tanda negara kita ga bakalan bisa menjadi negara maju?? Jd negara konsumen teruuuuuuss...
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
16