Protes Munarman dari Balik Jeruji Tahanan
Rabu, 20 Agustus 2008 | 22:24 WIB

TINGGAL di balik jeruji tahanan Polda Metro Jaya selama lebih dari 20 hari tak menyurutkan nyali mantan Ketua Umum YLBHI Munarman untuk melancarkan protes atas
kesewenangan-wenangan dan ketidakadilan para penegak hukum. Rabu (20/8), dengan keterbatasan ruang geraknya, mantan aktivis HAM ini menyatakan penegak hukum payah.

Di saat aksi massa yang menuntut pembebasan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq dari tahahan karena massa tahanan sudah habis sejak Selasa (19/8) dan belum ada perpanjangan surat penahanan, tiba-tiba Munarman muncul di balik jendela ruang tahanan narkoba Polda Metro Jaya, tempat selama ini Munarman ditahan.

Kemunculan Munarman dari balik cendela ruang tahanan ini langsung disambut teriakan takbir 'Allahu Akbar' oleh massa FPI. Wartawanpun mendekat ke arah cendela ruang tahanan. Meski masih terhalang jarak yang cukup jauh, tapi bisa mendengarkan beberapa patah kata protes yang dilontarkan Munarman. Ia berteriak "Payah".

Teriakan itu sebagai bentuk protes atas penahanan Habib Rizieq, dirinya, dan beberapa anggota FPI, yang tanpa disertai surat perpanjangan penahanan. Surat penahanan mereka sudah habis dan belum ada surat perpanjangan penahanan. Tapi mereka tetap tidak dilepaskan.

Sampai Rabu (20/8), menurut keterangan kuasa hukum FPI, Sugito, baru Habib Rizieq saja yang ada surat perpanjangan penahanannya. Itupun setelah lewat lebih dari 12 jam Habib Rizieq ditahan tanpa surat penahanan. Sementara Munarman dan anggota FPI lain yang ditahan dalam kasus insiden bentrokan di Monas, belum ada surat perpanjangan penahanannya. Padahal surat penahanan terhadap mereka juga sama-sama habis.

Selain meneriakan kata "payah", Munarman juga menjungkirkan jempol tangan kanannya.  Ekspresi lain yang ditunjukan Munarman sebagai tanda protes atas ketikdakadilan yang diterimannya, ia membuat gerakan isyarat seperti menyembelih lehernya dengan tangan, seraya menampakkan ekspresi wajah senyum sinis. Tanda ini isyarat yang ditunjukkan Munarman ini secara umum biasanya dimaknai ketidakberdayaan sebuah lebaga atas tekanan pihak lain.


Sugiyarto
Sumber : Persda Network
Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
route @ Rabu, 20 Agustus 2008 | 23:01 WIB
Kalo orang mau menang sendiri dan tidak menghargai kemajemukkan ya hrs gitu, idup di hutan atau dipenjara. Di hutan aja kudu saling menghargai antar binatang, kecuali merasa gede sendiri baru boleh sok kuasa.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
87