Tren Perkawinan Sumbang Miliaran Rupiah
ilustrasi
Rabu, 20 Agustus 2008 | 20:25 WIB

DENPASAR, RABU - Tren pesta perkawinan di Bali, baik dari kalangan orang terkenal Indonesia, seperti keluarga Bakrie, maupun selebriti dunia, menyumbang pendapatan sektor pariwisata setempat miliaran rupiah.
    
Koordinator Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Ngurah Wijaya, di Denpasar, Rabu, mengakui besarnya sumbangan pendapatan dari penyelenggaraan pesta perkawinan terhadap berbagai sektor pariwisata setempat belakangan ini.
    
"Satu pesta perwakinan saja bisa mencapai miliaran rupiah, baik untuk biaya hotel maupun berbagai keperluan lainnya. Ini tren yang sangat menunjang pendapatan kepariwisataan kita," katanya.
    
Ia berharap meningkatnya minat menyelenggaraan wedding party di Pulau Dewata dapat terus dikelola dengan baik, sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan berbagai sektor pariwisata setempat.
    
Menurut Dewi Aminudin, salah seorang pengusaha pariwisata di Jimbaran, Bali, tren pesta pernikahan tidak saja menguntungkan hotel, restoran dan penyedia jasa transportasi, seperti penyewaan mobil mewah, tetapi juga menggairahkan usaha gaun pengantin, penyedia bunga, hingga dekorasi dan dokumentasi foto maupun video.
    
Untuk memasok kebutuhan aneka macam bunga, tidak hanya dipenuhi dari Bali, tetapi juga mendatangkan dari Malang dan Batu, Jatim, atau bahkan harus impor.
    
Sementara Evie Dhiani, pengusaha yang belakangan terlibat penyelenggaraan sejumlah pesta perkawinan selebriti di Bali, menyebutkan untuk pesta perkawinan sepasang selebriti dunia belum lama ini, menyewa sampai 12 unit sedan mewah dan penyelenggaraannya di empat hotel secara bergantian.
    
Seorang disainer dari Amerika Serikat yang menikah dengan pengusaha asal Hongkong, membawa tidak kurang 200 anggota keluarga mereka, bertepatan "angka keramat" tanggal 8 bulan 8 tahun 08. Pestanya berlangsung di empat hotel di kawasan Nusa Dua dan Jimbaran.
    
"Coba saja berapa miliar rupiah dana yang dikeluarkan selama pesta empat hari di empat hotel tersebut. Bahkan satu hotel sampai di-blok, tidak menerima tamu lain," katanya.
    
Sementara itu, pesta pernikahan salah seorang keluarga Bakrie, juga bertepatan 8 Agustus 2008 di salah satu hotel dengan pelayanan khusus di Jimbaran yang memasang tarif umum 1600 dolar AS per kamar per malam, mengundang sampai 2.000 orang.
    
Bertepatan tanggal 8 Agustus 2008 tersebut, salah satu perusahaan katering di Bali bahkan mendapat pesanan melayani kebutuhan malan bagi 14 pesta pernikahan. "Ini kan luar biasa. Berapa miliar rupiah dana yang mengalir," tambah Evie.


ABI
Sumber : Ant
Share on Facebook
A A A
Ada 6 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
mulyono @ Senin, 25 Agustus 2008 | 13:11 WIB
saya nikah aja cuma habis 4 juta gila
Yus Aristono @ Senin, 25 Agustus 2008 | 08:42 WIB
fenomena yang menarik dan menjadi asset yang perlu dikembangkan. kalo bisa Jogja juga kayak gitulah....khan Jogja juga punya tempat-tempat wisata yang tersohor dimata dunia. ini pendapatan lho...asal jangan terus untuk memperkaya diri sendiri.
Frans @ Kamis, 21 Agustus 2008 | 16:03 WIB
itu adalah suatu keberhasilan daerah yang mempertahankan budayanya dan harus menjadi teladan semua daerah di pulau Indonesia. Walaupun macam budaya luar masuk, tapi Bali tdk pernah mengikutinya. contohnya saja rumah2, sekolah, perkantoran, pusat bisinis, dan lainya harus ikut corak budaya Bali dan ini masuk dalam perda Bali. Ini adalah contoh yg positif. Di Papua kami mengadopsi budaya Jawa dan Sulawesi sehingga corak budaya kami tdk kelihatan. Papua juga bisa menjadi tempat Parawisata Dunia!
Gabriel @ Kamis, 21 Agustus 2008 | 13:59 WIB
Yang diuntungkan dari setiap acara pernikahan di Bali, bukan hanya orang Bali, tetapi semua bisnis yeng terkait dengan industri Pariwisata Bali, jangan keliru ketika BOm Bali I dan II yang paling rugi adalah orang orang yang mendukung pariwisata Bali, contoh supplier dari Jawa timur, Jakarta dan dari Lombok.
ikomang budiasa @ Rabu, 20 Agustus 2008 | 23:11 WIB
saya bangga dngn BALI mudah2an membawa benefit bagi masyarakat lokal,yang saya tahu bali hanya untuk para investor yang punya uang banyak menjual nama bali,tapi untuk gaji aja, rakyatnya masih jauh dari tailand atau malaysia.bravo indonesia especialy bali.mudah2 pemerintah baru peka.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
7