Nikmatnya jadi Petani Amerika
Petani di North Dakota memanfaatkan teknologi dan peralatan canggih untuk bertani.
Jumat, 8 Agustus 2008 | 18:04 WIB

Laporan dari Minot, North Dakota

Apa yang terjadi jika panen Pak Amat di Jawa Tengah atau Kang Asep di Jawa Barat gagal? Keluarga mereka pasti akan mengalami kesulitan setelahnya. Bisa jadi mereka terpaksa makan nasi aking, menggadaikan barang-barang, dan menunggak bayaran sekolah anaknya. Tapi bila mereka adalah petani di Amerika Serikat, hal seperti itu sepertinya tak akan terjadi. Pasalnya pemerintah akan mengganti kerugian gagal panen mereka.

Jaminan dari pemerintah adalah salah satu kenikmatan yang didapat para petani. Selain jaminan gagal panen, para petani AS juga mendapat bantuan pengetahuan dan teknologi dari berbagai pihak, terutama universitas. Mereka bisa dengan mudah mendapat informasi bibit unggul terbaru, kondisi cuaca harian, bahkan harga berbagai jenis panenan. Itu artinya para petani diharapkan akrab dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Jay Fisher, direktur Pusat Riset Distrik di North Dakota State University, petani memang sudah menggunakan internet untuk mencari berbagai informasi. "Petani di North Dakota sebagian besar memiliki akses internet dari rumahnya," ujar Fisher saat ditemui Senin (28/7) di pusat riset di pinggiran kota kecil Minot, North Dakota.

Selain di rumah, para petani dan peternak bisa berkumpul di pusat riset untuk mengikuti ceramah tentang produk pertanian atau peternakan. Bukan hanya mendengarkan para peneliti lokal, mereka juga bisa bertanya atau sharing dengan peneliti di lokasi lain secara teleconference. "Akibatnya petani menjadi akrab dengan teknologi. Mereka bahkan menentukan apa yang akan ditanam atau di mana hasil panen akan dijual melalui internet," ujar Fisher.

Kedekatan para petani terhadap teknologi juga terlihat dalam penggunaan alat-alat pertanian mereka. Selain mesin-mesin besar yang dipakai memanen, mereka juga memiliki perlengkapan penanda lokasi semacam GPS (global positioning system) yang bisa menuntun jalannya traktor sehingga tidak belok ke lahan orang. Alat ini sangat penting mengingat tiap petani menggarap rata-rata 1.000 hektar lahan. Dengan ketepatan alat ini, lahan-lahan pertanian terlihat rapi terkotak-kotak dari atas langit North Dakota.

Lalu hal apa yang bisa ditiru petani Indonesia? Sulit memang mencontoh penggunaan mesin-mesin besar dalam proses pertanian karena lahan para petani Indonesia tergolong amat kecil. Kebanyakan petani juga bukan pemilik lahan melainkan penggarap. Namun teknologi dan informasi tetap bisa dimanfaatkan. Petani sayur di Buleleng, Bali, misalnya sempat meneguk keuntungan setelah mereka melalui internet berhasil mengetahui kebutuhan pasar. Ada pula petani kacang di Jawa Timur yang menemukan pembeli setelah menjelajahi dunia maya. Tak jarang di antara mereka membentuk komunitas online untuk saling bertukar pikiran.

Permulaannya memang sulit. Kebanyakan petani Indonesia bercerita bahwa mereka sangat takut mengoperasikan komputer. Takut keliru, katanya. Tapi itu bukan hanya masalah di Indonesia. Petani Amerika pun mengalami hambatan serupa. "Awalnya sulit mengajak mereka memanfaatkan internet," papar Fisher. "Namun setelah beberapa orang mendapatkan manfaat, yang lain akhirnya tertarik."

Hal lain yang dirasa sangat membantu petani adalah mudahnya mengakses informasi pertanian lewat internet. Situs North Dakota State University misalnya menyediakan hasil-hasil penelitian mereka yang terbaru mengenai hama dan sistem pertanian. Itu juga pasti bisa dibangun di Indonesia. Yang sedikit sulit mungkin adalah memastikan petani akan mendapat ganti rugi bila panen mereka gagal. Namun bisa jadi itu bukan hal yang mustahil kelak. Dan bila sudah begitu, produk pertanian kita mungkin bisa bersaing di pasar dunia. Siapa tahu?


A. Wisnubrata
Share on Facebook
Nilai 4.67 A A A
Ada 52 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
william sanusi @ Senin, 22 September 2008 | 09:34 WIB
wah, andai petani di indonesia bisa seperti di usa....tapi kalo nelayan di usa, kira-kira bagaimana ya?
azri @ Rabu, 10 September 2008 | 20:02 WIB
pemerintah harus jamin nasib petani yang benar benar kehidupan dari hasil bertani,kita negara agraris ,kembangkan terus teknologi pertanian ,hentikan pembangunan shooping center, orang banyak kelaparan ko disuapin mall
Tony @ Rabu, 10 September 2008 | 13:10 WIB
Kalo petani kita dijamin oleh pemerintah bila gagal panen, tentunya petani indonesia akan makmur dan sejahtera. Semoga petani bisa menikmati hasil jerih payahnya untuk memberi makan manusia Indonesia
ansori @ Rabu, 10 September 2008 | 10:25 WIB
Ambil contoh yang baik buang yang buruk .Mungkin nggak ya , Pertanian ( palawija) di asuransikan kerugian panen ?. Peluang yang tak terhingga tuh untuk asuransi
Sulaeman @ Rabu, 10 September 2008 | 08:12 WIB
Waduh bisa berabe kalo kita ngarepin pemerintah ngurusin petani sape kayak di Amrik sana, mereka pasti tak akan balik modal waktu cari posisi. Boss kita kan lebih suka nyuplai ke proyek yang nantinya bakalan macet, biar diputihkan terusssssssss.....
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
62