Menristek: PLTN Akan Dibangun di Pantura Banten
Warga Kampung Bangun Rahayu, Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung, memperbaiki kincir air penggerak turbin pada pembangkit listrik sederhana tenaga kincir air di Sungai Way Jernih yang mengalir di bawah kampung tersebut, Sabtu (19/7). Pembangkit listrik tersebut dibangun secara gotong royong setelah permintaan warga agar PLN membangun jaringan listrik di kampung mereka tidak terjawab. Pembangkit tersebut menghasilkan 2.300 watt dan mampu menerangi 8 rumah di kampung tersebut.
Video
Senin, 4 Agustus 2008 | 04:23 WIB

TANGERANG,SENIN - Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, di Tangerang, Senin, mengatakan, pemerintah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di wilayah perairan Pantai Utara (Pantura) Provinsi Banten.

Kadiman mengungkapkan, PLTN yang akan dibangun pada tahun 2015-2020 tersebut memiliki kapasitas sebesar 1.000 Megawatt (Mw) dengan nilai investasi sekitar 2-3 juta dollar AS.

Alasan pemilihan Peraian Utara Banten sebagai lokasi pembangunan PLTN, katanya, karena wilayah itu dinilai memiliki potensi sumber daya air yang melimpah untuk proses pengelolaan mesin pembangkit tenaga nuklir.
    
Perairan Utara Banten juga dinilai memiliki standar keselamatan radiasi nuklir yang aman dan tidak memiliki riwayat sejarah serta tidak, termasuk daerah rawan gempa dan gelombang tsunami.

Namun demikian, mantan rektor Institut Teknologi Bandung tersebut belum bisa memastikan lokasi desa atau kecamatan yang akan dijadikan pusat operasional PLTN tersebut.

Berdasarkan rencananya, pemerintah akan mengembang teknologi pembangkit tenaga nuklir tersebut pada tahun 2015 hingga 2020 merujuk kepada Undang-Undang 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional berkaitan dengan Indonesia harus memiliki PLTN pada pada 2015-2019.

Rencana tersebut juga diperkuat dengan keluarnya Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tertanggal Januari 2006 tentang keharusan Indonesia memiliki sumber energi listrik dari PLTN.

Sementara itu, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Hudi Hastowo menuturkan pembangunan PLTN di Indonesia terdiri dari enam titik untuk kebutuhan pasokan listrik di Jawa dan Bali.

Hastowo menyebutkan, kapasitas PLTN dengan kekuatan sebesar 1.000 Mw dengan kebutuhan bahan baku batu bara sebanyak dua hingga enam ton dan 30 ton uranium per tahun tersebut termasuk kategori kecil, namun dapat memenuhi pasokan listrik se-Jawa dan Bali.

Program pembangunan PLTN juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengkonsumsi energi listrik per kapitanya hanya mencapai 0,467 di Indonesia atau jauh dibanding Jepang yang menembus angka 4,14.


EDJ
Sumber : Ant
Share on Facebook
A A A
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
usmanto.s @ Kamis, 18 Juni 2009 | 12:56 WIB
Jangan jadi masyarakat dan bangsa yang mental pecundang, PLTN itu adalah salah satu sumber energi yang sangat efektif selain batu bara. mari kita bangun bangsa yang maju.
willy @ Kamis, 11 September 2008 | 03:34 WIB
ck ck ck. tenaga nuklir?? yakin kita sanggup?? bukannya typical indonesia itu bisa bikin/bangun, tp ga bisa ngerawat.... ya macam2 alasan, pusat kurang kasih pendanaan, alokasi dana yg gak merata, sumber daya - lah ato macem2 yg laen. bakalan byk alasan2 klise yg timbul spt proyek2 yg laen. kenapa gak pembangkit listrik tenaga air gak di maksimalkan? di jawa banyak sungai2 besar dan plta2 yg ada masih byk ruang utk disempurnakan. perawatan
ngarayana @ Senin, 4 Agustus 2008 | 08:32 WIB
masalahnya keperluan listrik terbesar yang sangat mendesak ada di jawa dan bali....! apa kita mau krisis energi terus? sementara minyak juga makin mahal? saat ini baru nuklirlah energi yang paling murah dan go green!
y2k @ Senin, 4 Agustus 2008 | 07:51 WIB
Nunggu 2020 .. Indonesia keburu lumpuh perekonomian ... kalo bisa cari alternatif lain yang cepat dan tidak harus menunggu PLTN.. tenaga angin.. matahari .. yg ramah lingkungan .. liat India dan china.. ekonomi mereka melesat karena disupport dengan kemampuan penyediaan energi-nya yg pemerintahnya mati2an menyediakannya .. Indonesia malah kebalik... industri dikorbankan ... TANYA KENAPA ?
ahak @ Senin, 4 Agustus 2008 | 07:04 WIB
mgkn klo losses dan efisiensi di prsh listrik kita bisa dibereskan, lalu pemanfaatan migas lebih ditingkatkan sisi keuntungannya bagi negara, lalu pengembangan sumber daya energi baru dan diperbarui juga didukung baik, mungkin kita tidak harus terlalu mengambil resiko2 nuklir yang dikarenakan ketidaksiapan kita sebagai suatu bangsa.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1