
SELURUH Hebron hari ini berada di bawah kendali militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi di sana. Dua tank dan dua buldoser meratakan pasar sepanjang dua blok. Bahan-bahan makanan berserakan dan lumat di kota yang penduduknya kelaparan. Reaksi pertamaku hanyalah terpatung di sana, menangis, dan tersedu.
Itu penggalan kisah Arthur G. Gish, atau Art Gish, dalam buku hariannya tahun 2003 lalu. Kumpulan tulisan tersebut akhirnya dibukukan, dengan judul Hebron Journal: Stories of Nonviolent Peacemaking, atau versi Bahasa Indonesianya, Hebron Journal, yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.
Penggalan itu diambil dari kejadian yang dialami Gish pada 30 Januari 2003. Saat itu Gish merasa tak berdaya, tetapi tetap sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu. Belum pulih dari kekagetannya, Gish mulai bergerak memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldoser.Kira-kira ada 12 kotak berhasil ia selamatkan.
Gish pun harus berhadapan dengan militer pendudukan Israel. Tiga serdadu mengacungkan senapan mereka dan menghampiri sekelompok orang Palestina yang menyaksikan aksinya. Gish menduga mereka akan menembak orang-orang itu. Tak menunggu lama, Gish menghambur ke hadapan mereka, dan berteriak, "Tembak aku, ayo tembak!" Tentara tersebut berlalu.
Ancaman belum berlalu. Sejurus kemudian sebuah tank datang menderu, menuju tepat ke hadapannya. Moncong meriam itu ditodongkan ke kepalanya. Gish lalu mengangkat kedua tangannya ke udara, berdoa, dan berteriak, "Tembak, tembak!" Seperti tiga serdadu Israel, tank itu berhenti beberapa inci di hadapannya, dan mengalihkan jalannya.
Gish lahir dan dibesarkan di sebuah kompleks pertanian di Lancaster, Pennsylvania. Bersama dengan istrinya, Peggy Gish, ia menjadi anggota sebuah organisasi kemanusiaan, Christian Peacemaker Teams (CPT). CPT percaya bahwa dengan menggunakan tenaga kreatif anti-kekerasan, orang-orang biasa mampu berdiri menghadang senjata dan mendorong cara-cara yang tidak menggunakan kekerasan agar terjadi perubahan.
Sejak 1995, Gish bertugas di Palestina setiap musim dingin sekitar tiga bulan. Sampai 2008, ia telah pergi ke Palestina sebanyak 13 kali. Ia mengatakan dalam buku hariannya, pergi ke Hebron tampaknya sudah menjadi kebiasaan. "Aku antusias tentang CPT; sebagian hatiku ada di Hebron, dan aku terus merasakan panggilan yang mendalam untuk bekerja demi keadilan sosial dan rekonsiliasi," tulisannya.
Banyak hal yang telah dilakukan Gish untuk kaum tertindas di Palestina. Pada peluncuran bukunya di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (24/7), ia bercerita, "Ketika aku sedang berjalan di Hebron, aku melihat seorang pemuda Palestina sedang menggigil kedinginan, dan di dekatnya ada beberapa tentara Israel. Aku menghampiri seorang tentara dan bertanya , Apa yang terjadi? Tentara itu mengatakan tidak ada apa-apa," tuturnya.
Gish tidak percaya begitu saja. Ia pun mencoba bertanya kepada si pemuda. Ternyata para tentara itu sedang memeriksa identitas pemuda itu dan pemeriksaan itu sudah berlangsung selama kurang lebih empat jam.
Menurut Gish, hal ini keterlaluan. Kemudian ia mulai menanggalkan baju dinginnya, baju, dan kaus dalamnya. Ia mengatakan kepada tentara, "Jika Anda tidak melepaskan pemuda tersebut, saya tidak akan pergi dari tempat ini, tidak peduli betapa pun dingin. Dan aku beritahu, aku adalah orang yang sangat keras kepala." Akhirnya tentara tersebut menyerah dan meninggalkan pemuda tersebut.
Di lain kesempatan, ia bercerita dirinya sedang tinggal di salah satu rumah penduduk lokal di sana. Gish bercerita, "Ketika malam, aku mendengar ada beberapa tentara yang menggedor-gedor rumah yang aku tinggali. Tentara itu juga berteriak-teriak keras sambil mencemooh. Aku sangat takut. Namun, ketika aku buka pintu, dan tentara mengetahui bahwa aku seorang warga Amerika Serikat, saat itu juga suasana berubah menjadi hening kembali." .
Menurut Wakil Direktur Operasi Penerbit Mizan Putut Widjanarko, yang pernah beberapa kali bertemu dengan Gish sewaktu menempuh pendidikan di Ohio, AS, kehadiran aktivis seperti Gish, terlebih jika membawa kamera, membuat para tentara menahan diri karena khawatir diekspose lebih besar.
Ketika beberapa orang menyebutnya sebagai pahlawan, ia mengatakan, "Aku bukan seorang pahlawan. Aku hanya melakukan apa yang dapat aku lakukan." Sedangkan bagi Putut, Gish merupakan cerminan seorang humanis yang prihatin kepada nasib orang-orang tertindas. (C9-08)

LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |