Pusiiing, Desa Wisata di Yogyakarta Terlalu Banyak
Masa liburan panjang membawa berkah tersendiri bagi para kusir andong di Yogyakarta. Andong menjadi pilihan utama para wisatawan yang ingin berkeliling kota saat pagi, siang, maupun malam hari seperti terlihat di Jalan Ahmad Yani, Yogyakarta.
Jumat, 18 Juli 2008 | 09:59 WIB

JAKARTA, JUMAT -  Jumlah desa wisata di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai terlalu banyak sehingga sulit untuk membina dan mengembangkannya menjadi obyek wisata yang menarik.

Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa), Drs H Sarbini di Yogyakarta, Jumat (18/7), mengatakan, idealnya jumlah desa wisata di tiap kabupaten hanya 3-5 sehingga memudahkan untuk pengembangannya.
    
Kabupaten Sleman merupakan kabupaten di provinsi DIY yang memiliki desa wisata terbanyak yaitu mencapai  40 desa, antara lain desa wisata Trumpon yang terletak di Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, desa wisata Turgo, Kaliurang dan desa wisata Ketingan, desa Tridadi Kecamatan Mlati.
    
"Mestinya di wilayah itu paling banyak ada lima desa wisata, sehingga upaya mengembangkannya bisa maksimal dan bisa menarik minat wisatawan berkunjung ke wilayah itu," katanya.
     
Menyinggung tentang prospek desa wisata di DIY, ia mengatakan  desa wisata di DIY agak sulit dikembangkan karena dibentuk hanya untuk kepentingan sesaat yaitu saat ada rencana kunjungan wisatawan.

"Desa wisata baru dibentuk dan dipromosikan jika akan menerima kedatangan tamu wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus)," katanya.
    
Menurut dia, desa wisata adalah desa yang umumnya dikelola warga setempat dan suasananya masih alami serta memiliki potensi khas desa tersebut yang layak ditawarkan kepada wisman maupun wisnus.
 
"Sejumlah atraksi kesenian setempat maupun fasilitas penginapan ala desa serta potensi yang dimiliki desa tersebut disiapkan untuk menyambut dan memberikan layanan kepada rombongan wisatawan yang akan menginap di desa tersebut," katanya.
    
Ia mengatakan,  upaya membentuk desa wisata secara instan hanya akan sia-sia karena ketika rombongan wisatawan usai mengunjungi dan menginap di desa wisata itu, desa wiSata itu akan kembali semula seperti desa biasa.

"Upaya mengelola yang dirintis dan disiapkan  untuk melayani kedatangan wisatawan pada saat itu  berakhir bersamaan dengan kepulangan wisatawan tersebut," katanya.


MBK
Sumber : Ant
Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
fap samodra @ Kamis, 24 Juli 2008 | 02:36 WIB
betul kata Pak Wedo, biarkan mereka tumbuh (jangan dibatasi), biarkan masing2 desa adu kreativitas, marketing, dan tentu juga visi...(dgn satu syarat, "harus diawasi")...ini untuk sharing saja, saya kebetulan jg penduduk tetap di Thailand, kemanapun kita pergi pasti ada sesuatu yang special..
D. Wedo Prihantono @ Jumat, 18 Juli 2008 | 16:21 WIB
sebaiknya jangan dilarang dan dibatasi, biarkan masyarakat kreatif dan berkembang, pemerintah hanya memberi rambu-rambunya saja, pasti akan terjadi seleksi alam, hanya yang punya visi yang kuatlah yang akan terus bertahan.
Ismu @ Jumat, 18 Juli 2008 | 13:40 WIB
Kalau desa wisata dikelola secara profesional tanpa meninggaalkan nilai2 budaya setempat serta ada bimbingan dari instansi terkait,pasti akan ada nilai tambahnya bagi masyarakat
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
72