Otonomi Daerah tak Lebih Baik Meski Demokrasi Pulih
Selasa, 8 Juli 2008 | 17:17 WIB

JAKARTA,SELASA - Distribusi pembagian kekuasan di antara pemerintah pusat, regional dan lokal- atau yang sering disebut otonomi daerah- sebagai salah satu agenda utama dari transisi demokrasi, pada dasarnya digerakkan oleh motif pengaturan kekuasaan yang lebih adil.

Namun, faktanya otonomi daerah menjadi sebuah agenda transisi yang terpisah dan terlepas dari rasionalitas demokrasi sejak demokrasi di Indonesia "dipulihkan" pasca reformasi. Hal ini diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Airlangga Daniel Sparringa dalam Panel I Lokakarya Nasional VII HAM yang diselenggarakan oleh Komnas HAM di Jakarta, Selasa (8/7).

Menurut Sparringa, saat ini otonomi daerah menciptakan sejumlah praktik politik lokal yang ganjil, aneh, kontradiktif dan paradoksikal. Orientasinya lebih kepada elite daripada massa, mendorong terjadinya fenomena local boss politics atau timbulnya raja-raja kecil di daerah, meluasnya korupsi serta menghasilkan politik identitas yang tidak saja mengancam HAM dan pluralisme, namun juga multikulturalisme.


LIN
Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
orangawam @ Selasa, 8 Juli 2008 | 17:49 WIB
Otonomi daerah itu dilaksanakan dengan baik diluar negeri (Amerika), karena budaya kemandirian sudah lama diterapkan. Di Indonesia orang masih suka dipimpin walaupun bisa mandiri. Budaya "menunggu petunjuk dari atasan" masih tetap melekat. Akibatnya, "raja-raja kecil" tumbuh dimana-mana karena masyarakat masih menginginkannya.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1