Antrean di Merak Makin Menggila
Sabtu, 5 Juli 2008 | 13:42 WIB

Laporan wartawan Kompas Anita Yossihara

MERAK, SABTU - Antrean kendaraan yang akan menyeberang lewat Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten, terus bertambah. Hingga pukul 12.00, antrean sudah mencapai KM 97 Jalan Tol Merak, atau sekitar 8 km dari pintu masuk pelabuhan.

Sejumlah sopir truk mengeluh karena tertahan sampai 10 jam lebih dan belum ada kepastian kapan bisa menyeberang. "Sudah tarifnya naik, kemacetan masih saja terjadi," kata seorang sopir truk bersungut-sungut. Ia mengaku sudah menunggu sejak pukul 00.00, dan saat ini masih belum sampai ke pelabuhan.

Dalam pemantauan Kompas, antrean kendaraan mulai mencapai gerbang tol pada pukul 00,00 tadi malam, dan terus mengular ke belakang hingga saat ini. Pihak manajemen PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) memberlakukan kebijakan mengutamakan kendaraan pribadi dan bus, serta truk sayuran untuk lebih dahulu menyeberang. Akibatnya, banyak truk pengangkut bahan nonsayuran tertahan sampai berjam-jam.

Untuk mengurangi antrean di jalan tol, PT Jasa Marga meminta semua kendaraan pribadi dan bus keluar di pintu Cilegon Barat, dan selanjutnya masuk ke jalan arteri Jakarta-Merak (jalan lama) lewat Pulomerak terus ke pelabuhan.

Selain itu, kata Manajer OPerasional PT ASDP Merak Endin Juhendi, pihaknya juga sudah menambah kapal yang beroperasi dari 18 menjadi 19. Rencananya, akan ada satu kapal lagi, sehingga antrean berangsur-angsur berkurang, dan diharapkan hari Minggu (6/7) besok kembali normal.

Seperti diberitakan, antrean kendaraan kembali terjadi di Pelabuhan Penyeberangan Merak sejak beberapa hari lalu. Selain karena meningkatnya arus kendaraan di musim liburan ini, antrean juga terjadi karena sejumlah kapal menjalani perawatan. Dari 29 kapal yang biasa melayani penyeberangan, dalam beberapa hari ini hanya beroperasi 18 kapal.


NTA
Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
87