Harga Minyak Tembus 144 Dolar AS
Kamis, 3 Juli 2008 | 08:21 WIB

NEW YORK, RABU - Harga minyak melesat ke rekor tertinggi baru sebesar 144 dolar AS, Rabu (2/7) waktu setempat, atau Kamis (3/7) pagi WIB. Harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus melonjak ke rekor tertinggi 144,65  dolar AS sebelum mantap pada 144,26 dolar AS, naik 3,59 dolar AS.

Sementara, kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Agustus, terdorong ke rekor perdagangan harian 143,91 dolar AS, sebelum ditutup pada 143,57 dolar AS, atau naik 2,60 dolar AS. Dalam perdagangan "after-hours", minyak mentah New York melesat ke posisi tertinggi 144,15 dolar AS per per barrel.

Kenaikan ini terjadi karena melemahnya dolar AS dan turunnya cadangan minyak negara adidaya itu. Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan Rabu, cadangan minyak mentahnya telah turun 2,0 juta barrel pada pekan yang berakhir 27 Juni yang mempercepat kenaikan di pasar berjangka.
     
Melemahnya dolar AS juga mendorong naiknya harga minyak karena pembayaran dilakukan dalam mata uang ini. Dolar Amerika turun terhadap sebagian besar mata uang utama.
     
Phil Flynn dari Alaron Trading mengatakan, harga minyak terus memperoleh momentum di tengah kekhawatiran tentang ekonomi global, dolar dan penyakit lainnya.
     
Di tengah turunnya cadangan minyak AS, Sekretaris Jenderal OPEC Abdallah el-Badri, dalam sebuah wawancara Rabu, mengatakan, otoritas AS akan menghentikan tekanan terhadap negara-negara anggota organisasinya untuk memproduksi minyak mentah lebih banyak.
     
"Sebagai kekuatan utama dunia, Saya ingin mereka menghentikan tekanannya terhadap negara-negara OPEC," kata dia kepada surat kabar Spanyol, El Pais, ketika ditanya tentang sebuah tindakan Kongres AS yang mengijinkan departemen kehakiman untuk menggugat anggota-anggota OPEC untuk konspirasi membatasi pasokan atau mendorong harga naik.
     
Ia juga menyatakan bahwa harga minyak yang setinggi langit bukan karena kurangnya pasokan -- seperti pendapat negara-negara barat -- tapi karena spekulasi yang dipicu oleh krisis kredit perumahan di AS.
     
"Pada kenyataaannya, itu semua sangat mudah dijelaskan: krisis subprime pada musim panas lalu di Amerika Serikat telah berdampak buruk terhadap pasar-pasar saham. Para investor mencari produk-produk (finansial) lainnya dan komoditi telah menjadi pilihan menarik untuk spekulasi," kata el-Badri.


MBK
Sumber : AP
Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
ipen @ Kamis, 3 Juli 2008 | 13:39 WIB
Tinggal tunggu semua negara opec minta minyaknya dibayar dengan euro dan menolak dibayar dengan dollar maka hancurlah amerika.
Jet @ Kamis, 3 Juli 2008 | 11:40 WIB
Isi ke10 perintah Allah : Jangan menginginkan harta ( minyak), milik, Isteri/suami orang. Pemerintah Amerika menentang Hukum Tuhan, hasilnya Ekonomi Amerika jatuh dan akan bertambah lebih parah lagi dan akan berdampak negatif pada negara lainnya. Tidak ada jalan lagi kecuali bertobat pada Tuhan.
buyun @ Kamis, 3 Juli 2008 | 09:37 WIB
Tiba saatnya dunia memikirkan dan mengembangkan serta menciptakan alternatif energi yang lain selain migas.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
16