"Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari Minyak Tanah
Kamis, 26 Juni 2008 | 16:56 WIB

SURABAYA, KAMIS - Kontroversi banyugeni sedikit demi sedikit menguap. Belum juga berakhir kini muncul bahan bakar "minyak gendruwo" yang diklaim jauh lebih hemat daripada minyak tanah. Namun, kali ini tidak ada rahasia-rahasiaan sebab bahan bakar alternatif tersebut sudah siap dipasarkan berikut kompor pembakarnya.

Bahan bakar alternatif ini dibuat para peneliti di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Bisa disebut "minyak gendruwo" karena bahan bakar tersebut memang dibuat dari singkong gendruwo, jenis singkong yang umbinya berukuran cukup besar. Para penelitinya sendiri menyebut minyak tanah BE-40.

Secara fisik tak ada yang istimewa dengan bahan bakar tersebut. Pada dasarnya, BE-40 adalah cairan bio-ethanol biasa. Namun, terobosan yang diperkenalkan ITS adalah pemilihan bahan baku yang murah serta proses pembuatannya yang mudah.

"Bio-ethanol itu sangat hemat, karena satu liter minyak bio-ethanol setara dengan sembilan liter minyak tanah biasa", kata peneliti bio-ethanol, Ir Sri Nurhatika MP di Surabaya, Kamis (26/6). Didampingi Pembantu Rektor (PR) IV ITS Surabaya, Prof Ir Eko Budi Djatmiko, ia mengatakan, harga satu liter bio-ethanol Rp10.000, sedangkan sembilan liter minyak tanah berkisar Rp27.000 dengan asumsi harga Rp3.000 per liter.

Tidak hanya itu, bio-ethanol juga dapat dibuat sendiri oleh masyarakat, karena bahan pembuatan ethanol dapat ditemukan di pasar dan cara pembuatannya pun mudah. Menurut dia, ethanol sebenarnya dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbohidrat, di antaranya ubi kayu, walur, kelapa sawit, tetes tebu, kacang koro, limbah tahu, limbah sampah, dan sebagainya.

"Bahan paling ideal adalah ubi kayu yang di Jawa dikenal dengan sebutan singkong gendruwo, karena tingkat karbohidratnya cukup tinggi. Singkong gendruwo juga mengandung pati (racun) yang tak layak dikonsumsi," katanya menambahkan.

Cara pembuatannya, kata dosen senior Biologi ITS Surabaya itu, singkong gendruwo itu ditumbuk halus, kemudian dimasak dengan panci sampai menjadi bubur. Hasilnya diberi ragi untuk memicu proses fermentasi dan didiamkan selama 4-5 hari sampai keluar cairan ethanolnya dengan kadar 90 persen. Namun, kadar ethanol 90 persen itu belum cukup untuk berfungsi seperti minyak tanah, sebab kadar ethanol yang dibutuhkan adalah 95 persen sehingga perlu ditingkatkan.

"Kalau kadar ethanolnya di bawah 95 persen masih mengandung Pb (timbal), sedangkan bahan bakar harus bebas dari Pb, sebab kalau ada Pb-nya bisa meledak. Untuk menaikkan kadar ethanol itu, katanya, perlu ditambahkan batu kapur (gamping), sehingga ethanol-nya menjadi bersih dari Pb.

Selain itu, kompor minyak tanah bio-ethanol juga tidak bersumbu. Dengan dukungan peneliti Teknik Mesin ITS Surabaya, desain kompor khusus bio-ethanol pun dikembangkan. "Hasil desain Teknik Mesin ITS itu akhirnya kami kerjasamakan dengan Koperasi Manunggal Sejahtera Yogyakarta, untuk memproduksi kompor tanpa sumbu yang harganya Rp40.000", katanya.

Oleh karena itu, minyak tanah bio-ethanol tidak hanya ekonomis, tapi juga terbukti tanpa jelaga. "Mungkin pemanasan minyak bio-ethanol yang agak lama. Misalnya, untuk memasak mie, kompor minyak tanah biasa hanya membutuhkan waktu 10 menit, sedangkan kompor bio-ethanol 2-3 menit lebih lama", katanya.


WAH
Sumber : Antara
Share on Facebook
Nilai 4.75 A A A
Ada 32 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
ivanariess @ Sabtu, 22 November 2008 | 21:17 WIB
maybe yess maybe no
urban @ Kamis, 3 Juli 2008 | 16:46 WIB
aq masih sangsi tuh, kalau ini bisa berjalan buat masyarakat...kan orang-orang kita dathengling.....kalo pas awal sih giat....tapi ntar melempem..... tapi pada dasarnya ada sisi logis dari nproses dapetin tu BE.... nah, pengalamanq nih....sampah organik tuh bisa di pirolisis jadi hidrokarbon cair.....mungkin bisa dikembangkan ga ya......... mungkin bisa kerjasama ama pabrik genting tradisional ya.....
sari @ Senin, 30 Juni 2008 | 09:00 WIB
ada baiknya perlu konfirmasi dgn beberapa pihak terkait untuk suatu produk yang baru. dalam hal ini, ada bbrp penjelasan dari nara sumber yang mungkin terdelete krn sepertinya agak aneh keberadaan Pb menyebabkan meledaknya kompor dan juga dengan pemrosesan sederhana etanol yang dihasilkan kurang dari 60%.
ecek2 @ Senin, 30 Juni 2008 | 06:13 WIB
VIVAT ITS!! HIDUP ITS HIDUP ITS HIDUP ITS
boni @ Minggu, 29 Juni 2008 | 13:07 WIB
saya minta cara pembuatanya dong?serta semua bahan yg di butuhkan serta proses pembuatan sedetail2nya sampai siap pakai.makasih ya buat temuannya.sukses !!!!!
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
45