Kekerasan Tidak Terkait dengan Agama dan Budaya
Rabu, 25 Juni 2008 | 16:39 WIB

JAKARTA, RABU - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai sesi pertama World Peace Forum (WPF) telah memberikan gambaran baru tentang akar kekerasan. Ada kesamaan pandangan dari para politisi yang memberikan pendapatnya tentang akar kekerasan. "Ini sebuah kemajuan, mengingat adanya keragaman latar belakang negara dan agama dari para pembicara," ujar Din di Jakarta, Rabu (25/6).

Kesamaan itu, menurut Ketua Pelaksana WPF Rizal Sukma, adalah pada pendapat bahwa kekerasan tidak ada hubungannya dengan agama dan budaya tertentu. Kekerasan bisa disebabkan oleh ketidakadilan, dan kesenjangan ekonomi yang mendalam. "Dalam kasus kekerasan yang terkait dengan agama, selalu ada masalah lainnya yang mengikutinya," ujarnya.

Menurut Rizal, agama memang tidak menjadi bagian dari masalah namun hampir selalu muncul menjadi pembenaran terhadap usaha dan aksi kekerasan yang dilakukan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kekerasan itu muncul karena sumbangan dari ketimpangan dari sistem dunia, ujarnya. (MAM)   

 


MAM
Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Johnny.S.Pangimangen @ Rabu, 27 Agustus 2008 | 19:01 WIB
Saya setuju kekerasan tidak ada hubungannya dengan agama karena agama tidak mengajarkan kekerasan. Orang yang mengatasnamakan agama yang melakukan kekerasan itu yang harus diproses dan dihukum seberat-beratnya karena merusak ajaran agama itu sendiri.
oRANG aWAM @ Rabu, 27 Agustus 2008 | 18:09 WIB
Kekerasan Tidak Terkait dengan Agama dan Budaya, betul 100 % tapi kenyataan terbalik 100%, apa solusinya Pak Din Samsudin, pekerjaan Rumah banyak nih gimana mendoktrin umat agar tidak anarkis
Diah @ Rabu, 25 Juni 2008 | 19:12 WIB
Kekerasan memang tidak ada hubungan dengan agama dan budaya,Munculnya kekerasan dikarenakan Pelampiasan kekesalan terhadap ketidakadilan dan kedzaliman terhadap rakyat kecil.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1