MANILA, JUMAT - Dua kelompok pemberontak Muslim di Filipina, satu di antaranya terlibat dalam perundingan damai dengan Pemerintah Manila, memberikan tempat perlindungan dan membantu beberapa tersangka teroris Indonesia yang diburu AS. Beberapa tersangka teroris Indonesia yang diketahui bersembunyi di Filipina selatan ini adalah Umar Patek dan Dulmatin, tersangka bom Bali pada tahun 2002 yang melatih pemberontak lokal Filipina merakit bom.
Mohammad Khildan Baihaqi, seorang tersangka kelompok Jemaah Islamiyah yang diringkus oleh pasukan Filipina di provinsi Davao Oriental, Filipina selatan, Februari lalu, menerangkan, Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan Abbu Sayyaf membantunya dan beberapa milisi Indonesia lain mendapatkan perlindungan di Filipina selatan. Pengakuan Baihaqi ini menunjukkan bahwa milisi Indonesia dan Filipina terus mempertahankan hubungan aktif di Filipina selatan dengan membentuk pelatihan teror dan menyusun serangan baru. Militer Filipina menerangkan 40 tokoh radikal yang diburu dalam operasi yang didukung oleh AS sedang berupaya kembali ke Indonesia.
Aparat Pemerintah Indonesia telah diizinkan menginterogasi Baihaqi yang meringkuk di tahanan angkatan darat di Manila. "Pejuang suka rela dan mujahidin Indonesia di Mindanao berada dalam perlindungan MILF dan Abu Sayyaf," demikian keterangan Baihaqi seperti dikutip media Filipina. Wilayah Mindanao di Filipina selatan yang menjadi tempat bermukim minoritas Muslim Filipina telah menjadi medan pertumpahan darah gerakan pemberontak separatis dari beberapa kelompok selama beberapa dasawarsa.
Abu Sayyaf, yang digolongkan dalam daftar hitam oleh Washington sebagai kelompok teroris yang menggencarkan serangan pengeboman, penculikan, serta pemenggalan kepala sejumlah korban dalam beberapa aksi penculikan. "MILF dan Abu Sayyaf secara terpisah berkolaborasi dengan tokoh radikal Indonesia dalam melancarkan serangannya," kata Baihaqi, yang diduga terlibat sebuah rencana pengeboman sebuah Gereja Katedral Katolik Roma di Filipina selatan saat diringkus.