Spirit Obama Bisa Berimbas ke Indonesia
Seorang pendukung Obama membawa gambar senator Illinois yang menghabiskan masa kecilnya di Jakarta itu.
Kamis, 19 Juni 2008 | 17:13 WIB

JAKARTA, KAMIS - Figur pemimpin muda untuk menjadi calon presiden Indonesia mendatang mendapat tanggapan dari sudut pandang yang berbeda. Bagi Presiden PKS, Tifatul Sembiring, spirit Barack Obama sebagai capres Amerika Serikat bisa berimbas bagi Indonesia. Namun, bagi politisi muda PDI Perjuangan, Budiman Sujatmiko, kultural Amerika belum tentu sama dengan semangat politik di Indonesia.

Bagi Budiman, ada beberapa sarat utama bagi figur muda untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Tifatul dalam pemaparannya, semangat memunculkan figur muda harus sudah disuarakan saat ini. Figur muda diyakini bisa memberi angin segar bagi sistem pemerintahan ke depan.

"Keinginan harapan bagi figur muda sekarang ini, sudah ada buktinya. Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) dalam Pilgub Jabar, memberi semangat muculnya figur-figur muda yang lain," kata Tifatul Sembiring dalam diskusi di Jakarta, Kamis (19/6).

Ia mengklaim, di internal PKS saat ini mayoritas diisi oleh figur-figur muda yang potensial. "Semangat Barack Obama dalam Pilpres di Amerika, tentu saja menjadi spirit juga bagi Indonesia," tukas Tifatul.

Namun, bagi Budiman Sujatmiko, semangat Barack Obama itu belum tentu berlaku di Indonesia. Budiman mengaku salut dengan Barack Obama yang juga diyakini, akan menjadi pemimpin negara Paman Sam ini. Politisi PDI Perjuangan ini tidak sepakat bila dikatakan Amerika harus menjadi kiblat segala-galanya, Barack Obama menjadi argumentasinya. "Amerika bukan yang secara tiba-tiba mengubah dunia. Segala sesuatunya, tidak bisa ditentukan oleh Amerika. American dream, belum tentu Indonesian dream," kata Budiman yakin.

Sosok figur muda yang dibutuhkan Indonesia adalah yang bisa membentuk institusional building. Tantangannya, mampu merawat image builidng. "Amerika image builiding-nya oke. Tapi, Indonesia perlu institusional builidng," kata Budiman.

"Menjadi Presiden (Indonesia) bukan karena banyak uang dan mampu membuat image, tapi harus mampu membangun jaringan-jaringan di daerah. Kalau mau jadi presiden, harus bisa memimpin yang kecil dulu. Jadi pemimpin partai nasionalnya. Salah satu kebangkrutan Indonesia adalah selalu memilih memimpin yang kaya, tapi kaya karena mencuri," tambah Budiman Sujatmiko. (Persda Network/yat)



Sumber : Persda Network
Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
mang jen @ Kamis, 19 Juni 2008 | 19:41 WIB
Memang amerika bukan kiblat politik, tapi mereka mengemosiuasai dunia. yg bisa diambil pelajaran ya yang mudanya diberi kesempatan tuk maju, bukan spt kita yang tua terus antri mau capres padahal dlm kelompok kecil saja slalu ricuh,emosi tinggi, mau menang sendiri, kalah marah... dan dak tau malu.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1