Pangan Indonesia "Muahal"
Petani penggarap di Desa Karang Anom, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, Rabu (16/4), memanen padi. Dalam sepekan terakhir, harga gabah kering panen di Lampung terpantau tinggi, sekitar Rp 2.200 per kilogram. Tingginya harga gabah membuat petani tidak langsung menjual gabah, melainkan menyimpannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selasa, 10 Juni 2008 | 17:46 WIB

JAKARTA,SELASA - Indonesia kini berada pada platform sistem pangan yang baru. Menurut Dr. Bayu Krisnamurthi, Deputi Menteri Koordinator Ekonomi (Ministry of Economic Affair) Indonesia, setidaknya ada tiga platform yang berubah. Hal ini diungkapkannya ketika memberikan key note address pada Seminar On "Impact of High International Commodity Prices: Evidence, Challenges and Opportunities" di Hotel Borobudur, Jakarta,  Selasa (10/6).

Platform pertama yang akan berubah terhadap sistem pengembangan pangan di Indonesia adalah harga pangan yang mahal dan diprediksi akan berlangsung sampai dua-lima tahun mendatang. "Bahkan, menurut DR. Dominique Van Der Mensbrugghe, ekonom dari World Bank, mahalnya harga pangan ini bisa berlangsung sampai sekitar delapan sampai sepuluh tahun mendatang," kata Bayu.

Platform lain yang berubah terhadap sistem pengembangan pangan di Indonesia adalah ketidakstabilan harga. Setiap saat, siapapun harus siap dengan turun atau naiknya harga komoditas di pasar. "Oleh karena itu, agrikuktur Indonesia yang katanya tidak bisa bergerak maksimal jika harga tidak stabil akan selalu stres karena harga memang selalu tidak stabil," kata Bayu menjelaskan.

Platform ketiga yang berubah adalah korelasi food-non food yang semakin tinggi. Bayu mencontohkan perubahan platform ketiga ini sebagai hubungan antara perang Irak dan Iran dengan distribusi beras ke negara-negara berkembang. "Perang Irak dengan Iran akan mempengaruhi suplai beras ke Indonesia dari negara-negara lain atau sebaliknya, padahal Irak dan Iran secara tidak langsung tidak terlibat dalam rantai distribusi," kata Bayu.

Untuk mengatasi hal ini, Bayu menambahkan, pemerintah dan masyarakat harus mengubah pola pikir atau mindset yang selama ini telah melekat. Salah satu pemikiran yang harus diubah adalah memaksimalkan sektor perikanan sehingga pangan tidak lagi hanya mengandalkan ekploitasi lahan, seperti pertanian dan perkebunan. "Selain itu, kurang dari 50 tahun lagi, bahan bakar minyak akan habis. Pasti ada hal lain yang bisa dicari untuk bahan bakar," katanya. (M10-08)



A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile16
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort