Indonesia Perlu Mengubah Konsep Pangan
Kebanyakan petani dan bandar gabah di pantai utara memanfaatkan median jalan untuk menjemur hasil panen, seperti terlihat di Kecamatan Kertasemaya, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (2/4). Hal itu karena mereka tidak memiliki lantai penjemuran gabah. Selain itu, penjemuran di jalan membuat gabah lebih cepat kering.
Jumat, 6 Juni 2008 | 22:01 WIB

SEMARANG, JUMAT - Indonesia perlu mengubah konsep pangan yang menyatakan beras sebagai satu-satunya makanan utama. Konsep pangan semacam itu dinilai menjadi sumber terpuruknya nasib petani, dan hilangnya ragam pangan lain yang pernah eksis di Indonesia. Padahal keragaman jenis bahan pangan itu bisa mengindari adanya krisis pangan.

Hal itu disampaikan staf pengajar Fisipol UGM, Susetiawan dalam seminar Jurnal Renai ke-12 bertema, Jerat Krisis Pangan: Perubahan Iklim, Krisis Energi dan Kerusakan Lahan, Jumat (6/6) di Kampoeng Percik, Kota Salatiga.

Menurut dia, dengan konsep yang berlaku, pemerintah menganggap beras akan menciptakan stabilitas politik. Karena itu, pemerintah berupaya menyediakan beras yang cukup dan murah bagi masyarakat. "Konsep itu menjadi dasar legitimasi untuk mengimpor beras, agar stok beras cukup," katanya.

Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah mengatur tata niaga beras sedemikian rupa. Menurut dia, impor beras dan sistem tata niaga beras itu merugikan petani karena mereka tidak pernah bisa menjual hasil panennya dengan harga yang menguntungkan.

Selain itu, pemerintah terjebak untuk menetapkan standar kemakmuran berdasarkan tingkat konsumsi beras per hari. "Pengembangan jenis makanan lain seperti jagung, sagu dan umbi-umbian terlupakan. Kalau konsep pangan berubah, krisis pangan bisa diatasi karena fokus pemerintah bukan hanya pada beras," tambahnya.

CEO Garuda Food, Sudhamek AWS mengatakan, ancaman krisis pangan di Indonesia hanya bisa diatasi jika pemerintah mau mengambil peran yang lebih optimal untuk mendorong dan meningkatkan taraf hidup petani. Petani akan bisa meningkatkan produktivitasnya jika penghasilannya dari sektor pertanian mencukupi.

Menurut dia, pemerintah perlu mendorong kerja sama antara petani dengan pengusaha. Selain itu, ketersediaan pupuk, infrastruktur dan ketersediaan lahan juga harus dijamin. "Pemerintah bukan hanya regulator dan fasilitator, tapi juga harus menjadi akselerator," katanya. (A09)  



Share on Facebook
A A A
Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
sigit @ Rabu, 11 Juni 2008 | 10:23 WIB
Kalau menurut saya sebaiknya Pulau Jawa dikhususkan untuk lumbung pangan saja terutama beras karena lahannya subur, banyak bendungan, infrastruktur (jalan, irigasi, listrik) bagus. Industri dikembangkan di luar Jawa karena tidak memerlukan lahan subur. Tapi semua maunya di Jawa karena fasilitas lengkap. Kesimpulannya, pemerintah perlu membangun infrastruktur yang baik di luar Jawa. Jakarta tidak perlu dibangun triple decker atau sub way tetapi biayanya utk jalan trans Kalimantan. Itu contoh
yulpas @ Rabu, 11 Juni 2008 | 09:41 WIB
Diversifikasi adalah peng-aneka-ragaman, bukan mengganti beras dengan pangan lain. ..Tanpa menaikkan harga beras mustahil akan terjadi diversifikasi pangan. Demikian harga komoditas lainnya harus menarik sehingga menarik minat petani untuk produksi. Kalau beras murah dan tidak menguntungkan buat apa produksi banyak...cukup kebutuhan sendiri... yang penting aman..dan ter-kendali... seperti prinsip ORBA dan masih diwarisi sampai saat ini. ...BLT dan RASKIN...Sampai kapan bertahan...??
weduz @ Rabu, 11 Juni 2008 | 06:15 WIB
harusnya pemerintah itu menggenjot beras dengan mensubsidi dan memproteksi pertanian.. kalau memang beras adalah andalan utama, lha kenyataannya sekarang ini, kebijakannya ndak singkron harga pupuk mahal, dan segala hal terkait aspek pertanian juga terhambat.. mana mau maju pertanian di indonesia ... ndak ada orang tertarik jadi petani..
dimaslaw @ Senin, 9 Juni 2008 | 13:33 WIB
(Part 3) untuk itu, menjadi pertanyaan apakah pemerintah telah benar2 bekerja/ hanya ingin membodohi rakyat dan merubah ideologi dan kultur Indonesia? SEKALI LAGI SANGAT BODOH APABILA KITA MERUBAH KONSEP PANGAN, DAN SANGAT TIDAK BERMORAL SEORANG PINTAR DARI Univ. TERKEMUKA MEMBODOH-BODOHI RAKYAT... Salam ... MERDEKA dan MARI SEJAHTERAKAN PETANI!!!
dimaslaw @ Senin, 9 Juni 2008 | 13:26 WIB
(Part 2) Bahwa saat ini telah diketemukan bibit padi unggul yang bernama Mari Sejahterakan Petani (MSP), yang dapat mencapai hasil yang sangat signifikan. terlebih bibit ini adalah bibit lokal, bukan seperti bibit pemerintah yang dibeli dari china, yang merupakan bibit hibrida (tidak dapat ditanam kembali/dijadikan benih). Artinya pemerintah tidak mau mengembangkan dan mensejahterakan petani dan malah mematikan petani dengan memberikan bibit yang tidak dapat ditanam kembali.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1