JAKARTA, SENIN - Beberapa waktu lalu, mantan sekretaris Wakil Ketua Komisi XI Max Moein, Desi, mengadukan anggota DPR itu ke Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK). Max Moein sendiri tak mau menanggapi tuduhan kekerasan seksual yang dilakukannya terhadap Desi.
"Saat diberhentikan, dia meminta saya untuk menerima lagi. Malah pernah menyuruh om-nya. Saat itu ada keributan dengan sekretaris baru saya, Bulkis. Kalau ada kekerasan seksual, kenapa dia maksa masuk lagi," ujarnya kepada pers setelah memberikan keterangan kepada BK di Gedung DPR, Senin (2/6).
Lagi pula, tuturnya, jika memang ada kekerasan, Desi harusnya langsung ke rumah sakit untuk divisum. Namun, dia tak menjawab ketika ada pertanyaan apakah 'perbuatan' tersebut dilakukan secara suka sama suka. Max segera mengalihkan pembicaraan dengan wartawan. Menurut dia, Desi memang gadis yang penuh dengan masalah.
Belakangan, dia mengetahui ada beberapa debt collector yang mengejar-ngejar Desi. Mantan sekretarisnya itu menggadaikan sembilan mobil sewaan dari para debt collector tersebut. Saat mereka menanyakan mobilnya, lanjut Max, Desi membuat alasan mobil tersebut dipinjam oleh mantan Ketua Komisi IX itu.
"Oleh karena itu, Desi banyak tidak masuk dan sering meminjam uang ke sekretaris lain. Suatu hari, mungkin karena kepepet, laptop saya diambil. Waktu saya tanya, katanya ada di laci. Saya tanyakan lagi, dia ngomong kuncinya di rumah. Pas saya congkel laci itu, dia kabur. Ternyata laptop saya memang tidak ada di situ," kata Max.
Max mengatakan, dia menerima Desi atas rekomendasi dari salah kepala sekretariat pansus BLBI, Iskandar. "Pada saat itu Desi merupakan salah satu staf Pak Iskandar. Pada saat saya terpilih, setahun kemudian sekretaris saya menikah dan saya terima dia saat diusulkan Pak Iskandar," jelasnya.