Dosa Koruptor Lebih Besar Ketimbang Pelacur
Seorang pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan aksi Lawan Korupsi di seputaran Bundaran HI, Jakarta, Jumat (9/12/2005). Aksi tersebut merupakan salah satu upaya KPK untuk menyosialisasikan perlawanan terhadap tindak korupsi kepada masyarakat.
Jumat, 30 Mei 2008 | 17:04 WIB

LAMONGAN, JUMAT - Pegawai pemerintah harus memiliki tata karma, sikap dan tingkah laku yang baik. Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, KH Abdul Ghafur pada acara pembinaan mental pegawai di Lamongan, Jumat (30/5), mengatakan tidak jujur dalam pekerjaan seperti korupsi dosanya lebih besar dari pada dosa pelacur selama 70 tahun.  

"Namun sebaliknya apabila dalam keseharian pegawai mau jujur dalam bekerja pahalanya melebihi pahala ibadah selama 70 tahun," kata Ghafur yang juga Ketua Forum Pondok Pesantren berbasis agrobisnis .

Menurut Ghafur, seorang muslim sejati dapat dikatakan baik, ketika dirinya mau memerhatikan, dan menolong sesama yang sedang kesusahan. Tata krama dan perilaku baik merupakan faktor utama manusia diterima surga. Ibadah berguna untuk memperbaiki tata krama manusia.  

"Allah menciptakan neraka karena surga tidak mau menerima manusia berperilaku buruk dan tidak memiliki tata karma. Beruntung bila seseorang memiliki tata krama yang baik dan berperilaku baik pula karena Allah sangat mencintainya," ujarnya.

Wakil Bupati Lamongan, Tsalits Fahmi berpendapat selayaknya pembinaan mental untuk siraman rohani bagi pegawai pemerintah dilakukan setiap minggu. Pegawai pemerintah akan selalu ingat menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan tepat dan melalui siraman roh ani diharapkan mengurangi penyelewengan.

Seorang pegawai pemerintah ketika ingin jadi teladan harus mengendalikan hawa nafsu yang mengarah pada keburukan, dan melakukan pekerjaan dengan baik dan jujur. "Melakukan kebaikan lebih mudah dari pada melakukan keburukan. Namun untuk dapat istiqomah dan bisa berkelanjutan sangatlah susah karena dalam diri manusia terdapat nafsu baik dan nafsu buruk," kata Tsalits.


ACI
Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Joe @ Senin, 9 Juni 2008 | 22:02 WIB
kenapa harus dikait-kaitkan dengan pelacur? kenapa bukan dengan jaringan teroris yang telah membunuh jutaan manusia tak berdosa hanya untuk membenarkan ajaran mereka. saya yakin para pelacur juga tidak mau menjadi spt apa mereka sekarang kalau mereka mempunyai kesempatan utk menikmati pendidikan yang layak,dan kesempatan berusaha yang layak spt anda. belum lagi ditambah mungkin dengan kesempatan nyogok atasan utk naek pangkat?
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
4