Potensi Biofuel dari Jerami
Petani-petani di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu membakar jerami bekas panen untuk membasmi hama sundep sesuai anjuran penyuluh pertanian.
Kamis, 29 Mei 2008 | 12:25 WIB

 

JAKARTA, KAMIS - Di sejumlah besar daerah jerami masih dianggap sampah bahkan akhirnya berakhir dengan dibakar karena tak bermanfaat. Padahal, produk sampingan dari usaha pertanian padi tersebut sebenarnya punya potensi besar sebagai bahan dasar biofuel, bahan bakar ramah lingkungan.  

 

Tidak hanya akan memberikan nilai tambah, pemanfaatan jerami juga mencegah pelepasan karbon ke atmosfer saat terbakar. Siklus karbon ke atmosfer dapat diperpanjang dengan mengubahnya menjadi biofuel.  

 

Terobosan tersebut telah dilirik produsen ethanol di China. Apalagi, sebagai salah satu negara terbesar, setiap tahun sekitar 230 juta ton batang jerami dibuang begitu saja. Tiga fasilitas pengolahan jerami menjadi biofuel telah dibangun sampai saat ini.  

 

Namun, untuk mengolah jer ami bukan hal yang mudah. Batang jerami yang kaya selulosa tidak mudah terurai bakteri yang biasa dipakai dalam proses pembuatan biomassa. Para peneliti memanfaatkan larutan alkali sodium hidroksida untuk melunakkannya sebelum proses fermentasi atau peragian.  

 

"Semuanya dilakukan pada suhu kamar, tanpa energi tambahan, dan butuh sedikit air, sehingga secara keseluruhan prosesnya sederhana, cepat, efektif biaya, dan ramah lingkungan," ujar Xiujin Li dari Universitas Teknologi Kimia Beijing.  

 

Metode yang sama sebenarnya juga sudah digunakan untuk memproduksi ethanol di lebih dari 30 negara. Namun, bahan yang diolah adalah tebu, jagung, dan kedelai yang notebene merupakan sumber pangan utama manusia, bukan bahan buangan.  

 

Sementara di China, jerami diolah agar menghasilkan biogas. Penggunaan larutan tersebut telah terbukti meningkatkan produksi campuran gas methan dan karbon dioksida hingga 65 persen. Residu atau sampah olahannya juga bermanfaat sebagai kompos.  

 

"Dengan cara ini, jerami benar-benar didaur ulang seluruhnya," ujar Li. Memang masih ada gas karbon diosida yang dilepaskan, namun kadarnya tak sebesar jika jerami dibakar.  

 

Pilot proyek tiga pabrik dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah China melalui Program Riset dan Pengembangan Teknologi Tinggi. Sebagai negara agraris penghasil padi, bukankah teknologi semacam ini sangat tepat di Indonesia daripada menggunakan singkong atau kelapa sawit.

 


WAH
Sumber : LIVESCIENCE
Share on Facebook
Nilai 9 A A A
Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Fps @ Minggu, 5 Oktober 2008 | 14:27 WIB
@unyil. Gw orang pinter, dan gw masi diIndonesia kok.
Yoedie @ Selasa, 17 Juni 2008 | 21:37 WIB
Masih ada yang peduli koq, please contact Bpk Yusri Yusuf yang tinggal di Bogor (yusri.yusuf@hotmail.com) Beliau konsern dengan masalah alternative energy dari sekam tersebut.
unyil @ Minggu, 8 Juni 2008 | 10:25 WIB
Kenapa ya Indonesia gak oernah bisa beroikir yang efisien dan efektif. kemana nih semua orang-orang pinternya? Padahal setelah dibaca itu kan proses yang sederhana mudah, yang semua orang bisa menerapkan dalam skala kecil. Ada yang salah ma pendidikan kita kali ya
yaniii @ Selasa, 3 Juni 2008 | 21:45 WIB
nah yang ini baru bener, djoko mah penipu
agus @ Senin, 2 Juni 2008 | 17:15 WIB
kagak nyambung... kalo giru sih. masyarakt jadi mandiri dong.. jadi gak ada proyek..proyek.. lagii pejabat . ladang korupsinya.. jadi kecil dong..
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
45