Kasus STPDN Terulang di STIP, Cilincing
Kamis, 15 Mei 2008 | 16:14 WIB

Laporan Wartawan Kompas, C Windoro AT

JAKARTA, KAMIS - Kasus penganiayaan senior terhadap yuniornya yang terjadi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) diduga juga terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Cilincing, Jakarta Utara.

Tiga taruna tingkat satu STIP yang diduga dianiaya melapor ke Kepolisian Resor Metro (Polrestro) Jakut, Kamis (15/5) pagi, menyusul tewasnya seorang taruna tingkat I, Agum B Gultom (20), Senin (12/5) malam.

Tiga orang kemungkinan akan ditetapkan sebagai tersangka.Ketiga korban yang diduga dianiaya tersebut, menurut Kepala Polrestro Jakut Komisaris Besar Muhamad Roem Murkal, adalah DA, Kus, dan FO. "Terkait dengan ini, sekarang kami masih memeriksa 20 orang, antara lain petugas piket STIP, perwira pengawas, taruna, dan seorang pengemudi ojek," paparnya kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis.

Ketiga korban mengadu ke anggota Polrestro Jakut ketika diadakan prarekonstruksi kematian Agum di Kampus STIP. Mereka mengaku terpengaruh imbauan Roem agar taruna yang mengalami kekerasan melapor kepada polisi.

"Sebulan lalu saya memang memberi seminar di STIP. Dalam acara tersebut saya mengimbau hindari narkoba, dan mengingatkan bahwa pemukulan itu tindak pidana. Saya imbau para taruna agar menghentikan segala bentuk kekerasan dalam hubungan taruna senior dan yunior. Hubungan senior-yunior harus bersifat edukatif. Jadi kalau melakukan hukuman, sebaiknya dibuat hukuman yang bersifat mendidik," tutur Roem.

Ia menambahkan, pihaknya kemungkinan besar akan menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini. "Sekarang kan belum 24 jam. Masih ada waktu untuk menetapkan tersangka," kilahnya.Ketiga korban, Kamis pagi, divisum di Rumah Sakit Koja, Jakut, sekitar pukul 08.00. "Tentang kapan tindakan penganiayaannya, saya belum tahu, sedang diperiksa. Yang jelas, diduga penganiayaan dilakukan dengan tangan kosong," ucap Roem.

Agum dilaporkan tewas, Senin malam, setelah mengikuti latihan inisiasi pedangpora. Pihak STIP mengatakan, Agum tewas karena kelelahan. Jenazahnya dibawa dan dimakamkan di Tandes, Surabaya, Jawa Timur. "Karena ada dugaan kuat, kematian Agum dilatarbelakangi tindak pidana, maka kami akan meminta keluarga Agum membongkar kembali jenazah Agum untuk diotopsi. Mudah-mudahan keluarga korban memaklumi hal ini," jelas Roem.


C Windoro AT
Share on Facebook
A A A
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
iwan @ Selasa, 27 Januari 2009 | 19:12 WIB
"di indonesia mah kekerasan di sekolah kedinasan uda ga bisa dipungkiri lagi.mau gimana lagi,itu da jadi tradisi kampus.pa lagi,kan ga adil bila kita di beri kekerasan,tapi ga bisa kasi kekerasan ma junior".tapi statement tadi tetap aja dalah.karna kampus bukan tempat ajang unjuk kekerasan,tapi tempat cari ilmu.
christine @ Senin, 23 Juni 2008 | 13:32 WIB
Dear lora, meski tidak seseram .... tetap saja itu penyiksaan. apa yang mereka lakukan merupakan penghinaan bagi seorang ibu yang anaknnya dipukuli karena mereka menyekolahkan anaknya bukan untuk dijadikan sansak para senior. saya sebagai seorang ibu merasa terhina dan terpukul melihat tingkah laku amoral itu
Darmo's @ Minggu, 22 Juni 2008 | 17:05 WIB
Udah warisan dari angkatan dulu.. udah jadi budaya yang mengakar.. kalo mo dihilangin susah banget atau bisa dibilang mustahil.. Awalnya bagus cuma memang manusia bangsa ini mentalnya kurang bagus akhirnya awal bagus tadi diserongkan jd sesuatu yang tidak bagus...
Lhora @ Jumat, 20 Juni 2008 | 17:30 WIB
Dear All, Apa yang anda semua lihat dan dengar itu tidak seseram
Lhora @ Jumat, 20 Juni 2008 | 17:29 WIB
Dear All, Apa yang anda semua lihat dan dengar itu tidak seseram
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
87