Wawancara Bill Gates, Kekayaan Intelektual adalah Jantung Inovasi
Bill Gates
Video
Jumat, 9 Mei 2008 | 10:04 WIB

TERLAHIR sebagai William (Bill) H Gates pada tanggal 28 Oktober 1955, sebagai orang terkaya di dunia yang mendirikan perusahaan raksasa Microsoft Corporation, adalah orang yang tersibuk di dunia. Bill Gates mungkin memiliki kedudukan yang setara dengan para kepala negara di seluruh dunia, dan diperlakukan sebagai ”Kepala Negara Microsoft”, lengkap dengan protokoler dan sistem keamanan tersendiri.

Untuk melakukan wawancara dengan pendiri Microsoft bersama Paul Allen, teman semasa kecilnya, menjadi tidak mudah. Kompas hanya bisa melakukan wawancara melalui e-mail, sarana komunikasi digital yang mudah dan cepat bisa diakses Bill Gates di mana pun ia berada di dunia.

Bill Gates merencanakan untuk berhenti mengurus persoalan sehari-hari Microsoft, dan mulai bulan depan, ia akan memfokuskan pekerjaannya pada masalah kesehatan dan pendidikan global melalui Bill & Melinda Gates Foundation. Sampai dengan bulan Juni 2007, penghasilan Microsoft mencapai 51,12 miliar dollar AS dan mempekerjakan sekitar 78.000 orang di 105 negara.

Dari pertanyaan yang diajukan Kompas, Bill Gates sulit untuk memperkirakan jenis perangkat lunak apa yang kiranya ingin diciptakan 30 tahun lalu, sehingga menjadi lebih terjangkau bagi negara berkembang untuk ikut memiliki kesempatan menikmati keajaiban digitalisasi. ”Tetapi yang menarik sekarang ini adalah isu-isu yang terkait dengan keterjangkauan teknologi digital yang berhasil diselesaikan, seperti perangkat keras, penyimpanan, dan pita lebar jejaring (network bandwith), yang semuanya meningkat dalam ukuran dan tenaga, serta menurun dalam biaya,” kata Bill Gates dalam e-mail-nya.

Disebutkan, hasil dari semua ini adalah muncul berbagai perangkat komputasi dari berbagai jenis yang menjadi sangat bertenaga, murah, dan mudah dibawa-bawa. Sekarang, lanjut Gates, puluhan juta orang di negara-negara berkembang memiliki ponsel yang memiliki tenaga komputasi yang lebih bertenaga dibandingkan dengan komputer yang digunakan 30 tahun lalu.

”Di masa mendatang, bagi orang di Indonesia dan ekonomi berkembang lainnya, sebuah ponsel akan menyediakan akses internet dan kemampuan komputasi yang memungkinkan mereka mulai berpartisipasi dalam ekonomi global berbasis pengetahuan,” tulis Gates.

Kekayaan intelektual

Ketika ditanya persoalan terkait pertumbuhan ekonomi di dalam sistem jejaring internet yang menghadirkan ketidakpastian, terutama berkaitan dengan persoalan hak cipta atas kekayaan intelektual, Bill Gates mengatakan memang masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan konsumen lebih mudah dan tidak terbatas untuk berbelanja, berpengalaman, serta berbagi berbagai jenis media digital yang dijajakan di jaringan internet.

Namun, kata Gates, pada saat yang bersamaan apa pun sistem yang akan digunakan dalam mengembangkan sistem perekonomian di jejaring digital yang semakin pesat tumbuh dan berkembang, juga harus bisa melindungi HAKI orang-orang kreatif yang menulis dan memainkan musik, atau yang mengembangkan perangkat lunak, dan membuat film, video, serta menggunakan media apa pun.

”Kekayaan intelektual adalah jantung inovasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Di Microsoft, kita selalu kuat percaya pentingnya hak atas kekayaan intelektual,” lanjut Gates. Dikatakan, akar dari kewiraswastaan dan proses kreatif adalah kesempatan untuk diakui dan dihargai, sehingga berbagai solusi berkaitan dengan kemajuan dan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi sebagai basis pertumbuhan ekonomi dan perdagangan berbasis pengetahuan, harus menghadirkan solusi yang menyeimbangkan secara tepat antara harapan konsumen dan hak para pencipta.

Dalam pertemuan Bill Gates dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibahas pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan, dan Indonesia bertekad mengejar ketertinggalan pemanfaatan teknologi informasi di pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan kesehatan.

Menjawab pertanyaan Bill Gates tentang akses internet di Indonesia, Presiden menjelaskan pekerjaan pemerintah untuk memperbaiki jaringan internet di seluruh Indonesia agar akses di daerah-daerah bisa lebih cepat dilakukan.


Rene L Pattiradjawane, Wisnu Nugroho



Share on Facebook
A A A
Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
xXx @ Minggu, 29 Juni 2008 | 11:07 WIB
JOGI FAHRISAL RAMADHAN calon pengganti BILL GATES di perusahaan microsoft!!!
Hanafi YSA @ Senin, 12 Mei 2008 | 08:19 WIB
Memang perlu ada basis ekonomi kuat untuk mendukung program untuk kemajuan teknologi manusia. Orang tanpa basis ekonomi kuat kurang bisa berbuat banyak. Seperti Indonesia ini. Aliran dana dari bawah keatas mustinya jadi pola pemerintah, bukannya seperti sekarang. Dana dipegang konglomerat yang kurang terasa manfaat alirannya untuk kalangan bawah. Bukti nyata, kalangan bawah sulit untuk mendapat kredit untuk menjalankan ekonominya. Bagaimana Pemerintah?? Berdoalah Bill
tolle @ Jumat, 9 Mei 2008 | 16:52 WIB
Maksud Anda Indonesia ini pasar yang potensial? Bisa datengin duit banyak jika semua pemakai komputer windowsnya mesti bayar ke Anda? hebat bgt? kalau semua harus bayar semahal harga windows dan office sekarang, jgn harap anak-anak Indonesia hari ini sudah bisa comp kayak sekarang. semua ini berkat para penolong yang bersedia menggandakan CD Microsoft. kita tidak mau mencuri punya anda. tapi karena anda menjual terlalu mahal 'n tidak pernah mau ngasih gratis, terpaksa kita copy. sori bill
Indonesia Jaya @ Jumat, 9 Mei 2008 | 14:27 WIB
jika Bill Gates emang niat berbuat untuk ilmu pengetahuan dunia, kenapa Windows nggak dibikin gratis aja?
amperawarman @ Jumat, 9 Mei 2008 | 14:20 WIB
Teknologi itu memang bagus dan diperlu untuk ditingkatkan penggunaannya di indonesia, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana agar kita tidak mengimfor selalu dari bill gates, tetapi tirulah india dengan lebih mengutamakan kemampuan sendiri dalam bidang teknologi, sehingga hutangnya tidak seperti negara kita yang suka berhutang ke pada negara luar dengan iming-imingan teknologi
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1