Pengamat: Jaringan Bermetamorfosis! Noordin Harus Hidup
Pasukan Densus 88 Antiteror melakukan penyergapan di rumah yang diduga berisi buronan Noordin M Top.
Minggu, 9 Agustus 2009 | 12:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jaringan Noordin M Top bermetamorfosis seusai ledakan bom di Hotel JW Marriott pertama. Noordin tidak lagi merekrut "pengantin" dari Jamaah Islamiyah (JI). Sayap militer jaringan Noordin bergerilya hingga akhirnya memiliki jejaring baru. Salah satunya kelompok bawah tanah, Negara Islam Indonesia (NII).

"Metamorfosis dapat dilihat dari pola rekrutmen. Lima tahun lalu Noordin sudah kesulitan  merekrut "pengantin" dari JI. Lalu mereka melakukan rekrutmen di NII. Dogma atau doktrin  mereka ingin menyerang kepentingan asing di Indonesia sudah tidak cukup lagi. Jika yang di Jatiasih benar, nyata mereka memiliki tujuan lain. Sasaran mereka ingin menghancurkan simbol Indonesia, yaitu RI-1," ujar pengamat intelijen dan militer dari Universitas Indonesia, Andi Widjajanto, ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (9/8).

Menurut Andi, jaringan NII yang telah dimasuki Noordin ini tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Mutasi ini juga terlihat dari sikap JI saat jaringan Noordin melakukan aksi pengeboman. Sikap JI melunak dengan memberikan pernyataan, mengutuk aksi tersebut. Pernyataan itu pun, lanjutnya, disampaikan secara terbuka.

Oleh karena itu, Andi menyarankan agar Noordin M Top ditangkap dalam keadaan hidup. Jika Noordin ditangkap dalam keadaan hidup, polisi diharapkan mendapat keterangan siapa orang pada level satu dan dua jaringannya, termasuk pimpinan NII. Meski dia tahu, Noordin tidak akan membiarkan dirinya ditangkap dalam keadaan hidup. Sebagaimana diketahui, Noordin dikenal sebagai orang yang selalu membawa rompi bom ke mana pun dia berada.

Sebelumnya, Andi menilai, teroris yang tertembak tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri di Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (8/8) lalu, bukan Noordin M Top. Menurut dia, janggal jika Noordin berada di rumah itu sendirian.


BOB
Share on Facebook
Nilai 4.2 A A A
Ada 20 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Sutono @ Selasa, 22 September 2009 | 14:54 WIB
Tul, Semuanya dilakukan oleh Antek2 Malingsia berkolaborasi dengan Taliban dan Al-Qaeda. Tujuannya jelas, menjadikan Indonesia Afghanistan jilid 2. Kalo sudah begitu, yang untung pasti Malingsia sono. Soale semua investasi dan pariwisata akan lari ke Malingsia sono. Di Indonesia tersisa perang sana sini, jihad sana sini, bom sana sini, jenggot2 sana sini, pembataian umat muslim yang tidak sepaham dengan paham Taliba/Al-Qaedah, wanita2 gak bersekolah, gak boleh keluar sendiri, pakai cadar, dll
Dani @ Senin, 10 Agustus 2009 | 11:37 WIB
Waspadai tuh pesantren NII yg di Jawa Barat itu, lupa namanya...
tovic @ Senin, 10 Agustus 2009 | 11:13 WIB
perang melawan teroris tdk cukup dg matinya nurdin. pemberitaan yg vulgar dpt menumbuhkan simpati thdp nurdin dan banyak yg ingin meniru. hidup skrg susah, gantung diri... dosa ya...bom "bunuh diri" solusinya. makanya pemerintah harus dan pers juga bertanggung jawab atas munculnya "pengantin" muda yg direkrut nurdin. jg asal bikin berita atas nama kebebasan pers
tovic @ Senin, 10 Agustus 2009 | 11:12 WIB
perang melawan teroris tdk cukup dg matinya nurdin. pemberitaan yg vulgar dpt menumbuhkan simpati thdp nurdin dan banyak yg ingin meniru. hidup skrg susah, gantung diri... dosa ya...bom "bunuh diri" solusinya. makanya pemerintah harus dan pers juga bertanggung jawab atas munculnya "pengantin" muda yg direkrut nurdin. jg asal bikin berita atas nama kebebasan pers
sri @ Senin, 10 Agustus 2009 | 10:02 WIB
sepanjang presiden dan segenap pemerintah mampu tegas terhadap gerakan-gerakan pemberontakan, maka insya allah takkan ada niat penghancuran terhadap RI-1. Yang namanya soeharto saja, semua gerakan pemberontak langsung ditumpas oleh dia, walo ada beberapa diantaranya dipeluk demi kepentingan politik.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1