Kamis, 28 Agustus 2008
Harga BBM
Mencari Hari Baik Mengumumkan
Jumat, 23 Mei 2008 | 00:28 WIB

Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (23/5) ini akan menjadi pusat perhatian. Setelah sosialisasi kesulitan pemerintah karena tingginya harga minyak mentah dunia dan meminta pemahaman rakyat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memimpin rapat terakhir pemberian bantuan langsung tunai atau BLT. Kesiapan BLT menjadi syarat utama menaikkan harga premium, solar, dan minyak tanah sekitar 28,7 persen.

Dalam rapat yang kemungkinan akan berlangsung selama berjam-jam itu, jika Presiden Yudhoyono puas dengan persiapan pemberian BLT dan sejumlah kompensasi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sudah lebih dahulu disiapkan akan diumumkan.

Secara berturut-turut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie telah menyatakan kesiapan pemberian BLT dan sinyal kuat pengumuman kenaikan harga BBM. ”Insya Allah dalam satu dua hari ini,” ujar Aburizal, yang disebut Sri Mulyani sebagai ”komandan” BLT.

Pernyataan Aburizal dan Sri Mulyani mengenai waktu pengumuman kenaikan harga BBM sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden M Jusuf Kalla dan Presiden Yudhoyono. Wapres mengemukakan, kenaikan harga BBM diumumkan akhir Mei. Sementara Presiden menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM sebelum BLT siap. Presiden tak ingin salah langkah, menaikkan harga BBM tanpa kesiapan pemberian kompensasi kepada 19,1 juta keluarga atau setara dengan 76,4 juta jiwa.

Mengenai kapan tepatnya keputusan kenaikan harga BBM akan diumumkan dan mulai diberlakukan, pemerintahan Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla memiliki dua referensi yang bisa diacu untuk meminimalkan berbagai dampaknya. Dua referensi itu adalah dua kali diambilnya keputusan kenaikan harga BBM sebelumnya.

Pemerintahan yang sejak kampanye menjanjikan perubahan itu menaikkan harga BBM pertama pada 28 Februari 2005 dan diberlakukan mulai 1 Maret 2005 pukul 00.00. Kenaikan rata-rata yang ditetapkan kala itu adalah 29 persen.

Usia pemerintahan yang dipilih langsung oleh rakyat itu baru lima bulan. Pemberlakuan kenaikan harga BBM bertepatan dengan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Sebagian rakyat menganggap kenaikan harga BBM itu sebagai ”serangan umum 9949”.

Kenaikan harga BBM kedua diputuskan pada 30 September 2005 dan diberlakukan 1 Oktober 2005. Besaran kenaikan harga BBM rata-rata 128 persen. Kenaikan itu dilakukan dalam rangkaian peringatan Gerakan 30 September dan Kesaktian Pancasila. Kesaktian rakyat menerima tambahan beban sedang diuji dengan kenaikan harga BBM ini.

Kritik dan protes terhadap besarnya persentase kenaikan harga BBM ini muncul di media dan di jalanan melalui demonstrasi. Tetapi, untuk pemilihan waktu, bisa dikatakan pemerintah ”cerdas”. Pengumuman dilakukan Jumat tengah malam, diberlakukan Sabtu saat libur dan menjelang puasa Ramadhan. Dengan kombinasi libur dan puasa Ramadhan, protes dan rangkaian unjuk rasa bisa diminimalkan.

Dalam beberapa kesempatan pidatonya, Wapres mengakui kecerdasannya. Ramadhan lima hari setelah kenaikan harga BBM (5 Oktober 2005) membuat rakyat tidak mudah marah dan protes di jalan karena tengah berpuasa.

”Puasa menuntut pengendalian diri. Pada bulan puasa, diperkirakan juga beban penggunaan BBM di masyarakat akan berkurang karena selama puasa masyarakat hanya memasak menjelang sahur dan buka. Tidak seperti hari-hari biasa yang memasak tiga kali,” ujar Wapres.

Dengan bekal dua referensi dan terutama kisah sukses menaikkan harga BBM dengan gejolak minimal, Wapres yakin kenaikan harga BBM saat ini sebesar 28,7 persen tidak akan menimbulkan gejolak sosial.

Keyakinan Wapres yang berlatar belakang pedagang ini didasarkan pada data yang dihimpunnya. Kenaikan harga BBM 29 persen, Maret 2005, aksi protesnya hanya seminggu. Kenaikan harga BBM 128 persen, Oktober 2005, aksi protesnya tidak lebih dari dua minggu. Jadi, jika kenaikan harga BBM rata-rata 28,7 persen dikombinasikan dengan hari libur, diberlakukan pa- da hari libur, aksi protesnya tak akan terlalu mengkhawatirkan.

Namun, seperti dikatakan Presiden berkali-kali bahwa tahun 2008 tahun politik dan tahun 2009 tahun pemilu, meskipun kenaikan ”hanya” 28,7 persen, gejolak tidak bisa disepelekan. Di tengah kesulitan nyata yang memang akan makin dihadapi rakyat, tidak sedikit pihak yang memanfaatkan momentum ”jatuhnya” popularitas Yudhoyono saat kenaikan harga BBM ketiga. Memukul lawan saat jatuh akan membuat lawan kepayahan dan lebih sulit bangkit. Sia-sia mengharapkan sikap ksatria dalam politik yang makin memanas ini.

Untuk masalah politik ini, Partai Demokrat yang didirikan Yudhoyono siap karena telah lama dipersiapkan. Untuk meminimalkan dampak jatuhnya popularitas, rakyat akan diberi penjelasan mulia. Kenaikan harga BBM terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional. Kepentingan lebih besar dijadikan pijakan.

”Jika SBY egois memikirkan karier politiknya dalam Pemilu 2009, harga BBM tak akan dinaikkan,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Penjelasan serupa dikemukakan juga oleh Aburizal. Menanggapi sejumlah penolakan kepala daerah untuk menyalurkan BLT, ia berujar, ”Harusnya kepala daerah berterima kasih kepada Presiden yang mau menanggalkan popularitasnya.”

Lantas, kapan keputusan kenaikan harga BBM sebesar rata-rata 28,7 akan diputuskan dan diberlakukan? Jika hendak meminimalkan dampak yang mungkin timbul, akhir pekan ini adalah saat yang tepat.

BLT sebagai prasyarat utama kenaikan harga BBM sudah siap. Aburizal sebagai ”komandan” berulang-ulang mengatakan BLT dan semua program kompensasi telah siap. Orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes ini melihat penantian pengumuman kenaikan harga BBM telah berlarut-larut. Jika tidak segera diambil, keputusan justru akan memukul balik pemerintah.

Selain karena hari libur, keputusan kenaikan harga BBM pada 24 atau 25 Mei ini juga tepat karena Presiden akan memulai program ”Istana untuk Rakyat” dengan membuka kesempatan kepada rakyat berwisata ke Istana Merdeka.

Kegemaran Presiden Yudhoyono menjumpai dan mengecek langsung rakyatnya akan terbantu karena selama dua hari libur itu, Istana akan dipadati rakyat. Rakyat yang datang berwisata ke Istana Merdeka pasti akan lebih jernih saat menceritakan keadaan hidupnya dibandingkan dengan rakyat yang dalam beberapa hari terakhir ini berdemonstrasi di depan Istana Merdeka.

Saat menjadi pemandu untuk rombongan pertama wisatawan Istana dalam program ”Istana untuk Rakyat”, Presiden bisa menjelaskan, ”Tidak hanya Istana yang untuk rakyat, keputusan menaikkan harga BBM dengan sangat terpaksa juga untuk rakyat.” (INU/HAR)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort