
![]() |
Depok, Kompas - Ledakan terjadi di atas kereta rel listrik jurusan Jakarta-Bogor, Sabtu (17/5) malam. Beberapa penumpang luka-luka setelah berebut keluar dari kereta api yang sedang berhenti di Stasiun Depok Lama itu.
Menurut kesaksian Hendro (31), seorang penumpang, setidaknya terjadi tiga kali ledakan serta percikan api di atas gerbong II KRL Nomor 602 arah Bogor. Ledakan dan percikan api yang berlangsung sekitar lima menit mengakibatkan penumpang panik dan berhamburan keluar dari rangkaian kereta kelas ekonomi itu. Mereka berdesak-desakan sehingga beberapa di antara mereka luka-luka.
Kendati penumpang di gerbong kereta api itu tidak terlalu berjejal, beberapa penumpang terjatuh dan cedera ketika terjadi saling dorong saat mereka berebut keluar dari kereta api. Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Saksi lain bernama Jaya, tukang ojek yang kebetulan berada di Stasiun Depok Lama, menyatakan, ledakan terjadi sekitar pukul 19.00. Mungkin karena hari Sabtu, kereta yang sedang mengangkut para pekerja yang pulang dari Jakarta itu tidak terlalu penuh. ”Saya sempat ikut panik, tapi posisi saya tidak terlalu dekat dengan kereta. Jadi, saya hanya melihat saja,” katanya.
Menurut Agus, masinis yang mengemudikan kereta rel listrik itu, memang terjadi kerusakan di gerbong II. Kerusakan terjadi di dekat pantograf, mungkin akibat korsleting setelah hujan. Kerusakan juga diduga terjadi karena usia kereta tersebut sudah tua. ”Itu, kan, kereta tahun 1970-an,” kata masinis tersebut menjelaskan.
Saat dimintai konfirmasinya, Sarju, Kepala Stasiun Depok Lama, membantah telah terjadi ledakan di KRL Nomor 602 di stasiun yang dipimpinnya. Menurut dia, apa yang terjadi hanya hubungan pendek arus listrik atau korsleting.
”Tidak ada ledakan apa pun. Hanya korsleting,” kata Sarju. Namun, ia menjelaskan, setelah insiden itu rangkaian KRL langsung dibawa ke Depo Perawatan KRL di Depok.
Insiden ledakan itu tidak sampai mengakibatkan keterlambatan kereta api lain. Peristiwa itu juga tidak sampai mengakibatkan penumpukan penumpang. Jalur rel lain dapat digunakan. (MUK)