
![]() |
|
|
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images
Pemain dan ofisial tim Uber China berfoto bersama setelah penyerahan Piala Uber 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (17/5). China kembali mempertahankan Piala Uber setelah di final mengalahkan Indonesia dengan skor 3-0. |
Jakarta, Kompas - Kejutan tim Uber Indonesia pada Kejuaraan Piala Thomas dan Uber 2008 dihentikan China. Pada partai final yang digelar hari Sabtu (17/5) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Indonesia ditaklukkan China, 0-3. Meski kalah, apresiasi diberikan sekitar 9.000 penonton kepada putri-putri pelatnas itu.
Bentuk penghargaan penonton yang memadati Istora hingga ke pinggir lapangan tersebut tak hanya disampaikan dengan tepuk tangan, sorak-sorai, dan nyanyian, tetapi kepada setiap atlet yang sudah bermain dan kalah disalami oleh penonton yang berdiri di pinggir lapangan.
Menurut Manajer Tim Piala Uber Indonesia Susy Susanti, perjuangan pemain Indonesia sudah sangat luar biasa. Meski kecewa karena harus kembali mengakui keunggulan China, bagi Susy apa yang ditunjukkan pemain sudah sepantasnya diapresiasi.
Istora, pada Sabtu malam itu, memang ingar-bingar oleh teriakan penonton. Final tersebut juga dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ny Ani Yudhoyono.
Setelah 10 tahun lalu mendapat kabar tim Uber Indonesia tampil di final Piala Uber Hongkong, baru kali ini bangsa Indonesia bisa menyaksikan kembali pemain-pemain putri bermain di partai puncak kejuaraan beregu bulu tangkis paling bergengsi tersebut. Adapun selama masa 10 tahun tersebut, hasil terbaik yang didapat tim Uber adalah menjadi semifinalis pada tahun 2000 di Kuala Lumpur. Pada penyelenggaraan terakhir, dua tahun lalu, Indonesia bahkan tak meloloskan tim Uber ke putaran final di Sendai dan Tokyo.
Berdasarkan fakta inilah, penonton di Istora sangat menghargai perjuangan yang diperlihatkan Maria Kristin dan kawan-kawan. Tak seperti ke juaraan bulu tangkis internasional lain yang digelar di Indonesia, kali ini penonton tidak beranjak hingga pertandingan selesai, bahkan hingga pembagian medali.
Teriakan ”Indonesia! Indonesia!” juga tetap terdengar setelah China memastikan juara melalui kemenangan Lu Lan atas Adriyanti Firdasari di partai ketiga.
Firda, yang pernah dua kali dikalahkan Lu Lan, pada pertandingan kemarin juga harus mengakui keunggulan tunggal putri nomor dua dunia tersebut dengan skor 12-21, 10-21. Kekalahan dua game juga dialami Maria Kristin di tunggal pertama atas pemain nomor satu dunia, Xie Xingfang, 8-21, 15-21.
Harapan mendapat satu angka setelah tertinggal 0-1 datang melalui ganda pertama Vita Marissa/Lilyana Natsir saat melawan Yang Wei/Zhang Jiewen. Perjuangan Vita/Lilyana selama 1 jam 8 menit melawan ganda putri nomor satu dunia itu patut diacungi jempol.
Setelah kalah 15-21 pada game pertama, Vita/Lilyana memenangi game kedua melalui skor yang lebih ketat, 21-19. Di game ketiga, perlawanan yang diberikan ganda nomor sembilan dunia itu tak hentinya membuat penonton memberi semangat, terutama ketika Vita/Lilyana mampu menyamakan skor menjadi 14-14 setelah sebelumnya tertinggal hingga sembilan angka, 3-12.
Namun, perjuangan Vita/Lilyana harus berakhir dengan kekalahan karena faktor fisik yang tak lagi mendukung. Selalu bermain menyerang sejak awal pertandingan, fisik Vita/Lilyana pun terkuras.
Sementara itu, gelar ini menjadi yang keenam berturut-turut bagi tim Uber China. Bagi Manajer Tim China Li Yongbo, kemenangan ini masih belum terlalu memuaskan hatinya.
Dia ingin tim Piala Thomas China juga kembali berhasil mempertahankan supremasi kejuaraan dunia beregu putra tersebut saat menghadapi Korea Selatan, Minggu malam ini.
”Kalau kami sudah menjuarai kembali Piala Thomas, baru saya 100 persen merasakan kegembiraan,” ujarnya.
Kemenangan di Piala Uber atas Indonesia, kata Yongbo, sudah dia prediksi sebelumnya. Bahkan, dia mengatakan, sejak awal sudah memperkirakan bakal meraih kemenangan 3-0 atas Indonesia. ”Tentu saja ada beberapa prediksi kemenangan. Kami memang memprediksi bakal menang 3-0, tetapi ada juga prediksi kemenangan 3-1 dan 3-2,” kata mantan pemain ganda putra terbaik China era tahun 1980-an yang berpasangan dengan Tian Bing Yi.
Antre tiket
Dari luar arena, antrean pendukung tim Uber Indonesia yang mencoba peruntungannya sejak selepas subuh di loket Istora sebagian besar tak berhasil memenuhi keinginan mereka.
Panjang antrean yang hingga siang hari sudah mencapai 100 meter dan mendekati jalan pemisah menuju Hotel Sultan itu akhirnya mendesak ke arah loket begitu pembelian tiket dinyatakan dibuka sejak pukul 13.00, sekalipun nyaris tak ada petugas keamanan yang siap mengatasi serbuan itu. Sebagian petugas bahkan lebih sibuk menggunakan fasilitas kamera pada telepon genggam yang dimiliki.
Sejumlah calo tiket dengan bebas juga bisa saja menawarkan tiket kepada calon penonton itu. Adapun pengantre yang sudah berumur lebih memilih untuk menjauhi kerumunan itu, sementara anak-anak kecil dan bayi yang dibawa serta ditidurkan begitu saja di permukaan tanah beralaskan koran.
Loket akhirnya dinyatakan dibuka untuk penjualan tiket, selama tak lebih dari 30 menit saja sejak pukul 13.00 itu. Tak lama kemudian, sejumlah anggota panitia mengumumkan bahwa tiket sudah habis. Panitia sendiri tak pernah mengumumkan kapan loket akan dibuka. Hanya ada informasi simpang siur, di antaranya menyebutkan loket akan dibuka mulai pukul 09.00 dan 14.00 sekalipun terbukti kalau informasi itu hanyalah isapan jempol.
Antrean tiket sejak pukul 04.00 juga terjadi di toko peralatan olahraga Susy Sport milik Susy Susanti di Kelapa Gading. Susy mengatakan, dia akhirnya membawa polisi untuk menenangkan sekitar 300 orang yang menggedor-gedor pintu tokonya sejak dini hari.
Karena persediaan tiket terbatas, Susy akhirnya harus menenangkan calon pembeli tiket tersebut. ”Saya bilang kepada mereka kalau saya berterima kasih karena mereka mau mendukung tim Indonesia. Hanya saja, saya juga tidak bisa apa-apa karena persediaan tiket terbatas, dari sebelumnya 500 lembar, sementara untuk final jatah yang saya jual hanya 250 lembar,” kata Susy.
Sementara itu, kedatangan Presiden untuk menyaksikan final Piala Uber menimbulkan suasana sibuk di Istora sejak Sabtu pagi. Tak kurang satu panser dan dua kendaraan lapis baja sudah parkir di pelataran Istora sejak pagi hari.
Seorang penggila bulu tangkis asal Selandia Baru, Ping Wang, mengaku heran dengan prosedur yang ditempuh panitia. Ia menyesalkan ulah segelintir orang yang demikian gampangnya, bahkan hanya tinggal menelepon, untuk mendapatkan tiket dalam jumlah banyak, sementara di sisi lain ribuan pendukung fanatik harus rela tak kebagian.
”Akhirnya, tim Indonesia kehilangan tulang punggung mereka, yaitu suporter fanatik, karena para penonton yang datang kebanyakan tidak mengerti bulu tangkis dan mereka hanya diam saja,” kata Wang.
Hartono (27) dan Zaki (26), warga Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, akhirnya menyerah setelah mengetahui tak ada lagi harapan bagi mereka beroleh tiket. ”Ini sangat memalukan bagi Indonesia. Harusnya panitia bisa menyediakan loket yang lebih besar,” kata Zaki.
Sementara itu, Heri, warga Matraman, Jakarta Timur, dengan wajah kusut menyebutkan kekacauan dalam pengurusan tiket sebetulnya merupakan hal usang yang selayaknya tidak terjadi lagi. Pasalnya, Indonesia sudah berkali-kali menjadi tuan rumah perebutan Piala Thomas dan Uber.
”Tahun 2004, kualitas penyelenggaraan bahkan lebih bagus daripada yang sekarang ini,” kata Yanti (29) yang berdomisili di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Yanti yang datang bersama sejumlah rekannya dan akhirnya juga tidak kebagian tiket itu akhirnya memutuskan untuk menonton dari fasilitas layar lebar yang disediakan panitia di luar Istora. (ink/bil/was/iya)