Rabu, 8 Oktober 2008
Kenaikan Harga
Pengasuh Anak Terpaksa Di-PHK, Makan Pun Diirit
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images
Saat jam makan siang, ratusan pekerja kantoran di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, memenuhi warung-warung tenda di pinggir Jalan Karet Pasar Baru Timur, Senin (28/4).
Sabtu, 17 Mei 2008 | 03:00 WIB

Oleh Neli Triana

”Baby sitter anakku terpaksa harus berhenti kerja bulan depan kalau harga BBM jadi naik. Itu satu-satunya jalan biar kami bisa tetap punya uang lebih di akhir bulan,” ujar Tanti Cahyaningrum (29), Jumat (16/5).

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 30 persen per 1 Juni nanti dipastikan turut mendongkrak kenaikan harga bahan makanan pokok dan barang-barang lainnya. Otomatis, kata Tanti, biaya hidup sehari-hari pun bakal membengkak.

Selain mem-PHK pengasuh anaknya, Tanti juga memastikan akan makin mengirit pengeluaran belanja, terutama biaya makan. Ia tetapkan anggaran maksimal Rp 10.000 untuk makan siang di kantor. Jika mungkin, ia akan membawa nasi putih dari rumah.

Saat ini Tanti hidup bersama suami, Agus Wibowo (29), pegawai perusahaan asuransi, anak mereka, Farel Ibnu Fajar (9 bulan), seorang pembantu, dan seorang pengasuh bayi. Tanti mengatakan, dengan masa kerja empat tahun, pendapatannya per bulan hanya sekitar Rp 2,7 juta, sudah termasuk berbagai macam tunjangan. Suaminya hanya digaji Rp 1,9 juta per bulan.

Tanti mengatakan, gabungan gajinya dan Agus sebenarnya tidak pernah cukup untuk bisa membeli rumah. Namun, dengan bantuan orangtua, mereka bisa membayar uang muka rumah di Kedaung Hijau, Kelurahan Ciputat, Tangerang, dua tahun lalu. Kini, kewajiban Tanti dan Agus adalah membayar cicilan sebesar Rp 1,2 juta per bulan hingga lima tahun ke depan.

”Sekarang, biaya baby sitter Rp 1 juta, transportasi aku dan suamiku Rp 600.000, untuk pembantu dan masak di rumah Rp 1,1 juta. Belum lagi biaya makan siang di kantor berdua, rekening listrik, dan lainnya. Totalnya per bulan antara Rp 3,8 juta-Rp 4 juta. Itu tidak termasuk kalau si kecil sakit atau ada kebutuhan mendadak. Tabungan kami tipis banget,” kata Tanti.

Jumat kemarin, Tanti ditemui tengah asyik makan siang bersama beberapa temannya. Mereka, antara lain, memilih gado-gado dengan telur rebus setengah potong dan nasi dengan porsi setengah seharga Rp 8.000. Paket soto betawi dan nasi Rp 9.000 di deretan warung di Jalan Karet Pasar Baru Timur, tepat di belakang kompleks gedung perkantoran di daerah Sudirman, Jakarta.

Seorang teman, Winda (30), mengatakan, makanan murah tersebut sudah cukup mewah jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005. Kala itu harga BBM naik hingga dua kali. Mereka terpaksa membawa bekal makanan dari rumah agar tidak mengeluarkan biaya lebih untuk makan.

”Kondisi demikian berlangsung nyaris satu tahun penuh. Keadaan berangsur normal setelah ada kebijakan kenaikan gaji dari kantor meskipun sebenarnya tidak mampu menutup semua pembengkakan biaya. Mulai Juni nanti kondisi serupa mungkin bakal terulang lagi,” kata Winda.

Di dalam perkantoran, sebenarnya terdapat banyak restoran dan kafe. Namun, hanya para pimpinan kantor, nasabah, atau pekerja asing yang mampu secara rutin menghabiskan waktu dan puluhan hingga ratusan ribu rupiah untuk makan di sana.

Maria Silalahi (34) dan suaminya, Ricky (37), penjual martabak bangka di Jalan Percetakan Negara, Salemba, Jakarta Pusat, mengatakan, usaha mereka mampu meraup omzet cukup besar, yaitu Rp 8 juta per bulan. Keuntungan bersih yang didapatkannya sebesar Rp 3,5 juta-Rp 4 juta.

”Dengan keuntungan tersebut, kami membiayai dua anak remaja yang duduk di bangku SD dan SMP. Kami juga harus membayar cicilan rumah kami di Bekasi Timur Rp 740.000 per bulan. Biaya transportasi beli bensin untuk berdua pergi pulang Bekasi-Salemba dengan sepeda motor sekitar Rp 300.000. Setiap bulan hanya sisa Rp 400.000-an,” kata Maria.

Maria mengaku tidak tahu lagi apa yang harus diirit demi mengantisipasi lonjakan harga bahan pokok dan BBM. Dipastikan, harga martabak buatannya akan dinaikkan 10-15 persen. Namun, hampir pasti juga omzetnya akan turun. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya adalah mem-PHK salah satu atau kedua pembantunya agar usahanya tetap dapat berjalan.

Lapangan kerja

Soedaryatmo dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pernah mengatakan amat memahami jika PHK bakal marak dilakukan seiring kenaikan harga BBM. Pekerja kerah putih, buruh perusahaan, hingga pembantu rumah tangga pun harus siap-siap menganggur. Sebagian kalangan menengah akan ada yang jatuh miskin, sementara mereka yang bergaji di bawah Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta dipastikan makin terpuruk.

”Pemerintah perlu menyiapkan rencana matang untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. Oleh sebab itu, jangan cuma menyalurkan bantuan langsung tunai, tetapi juga membuat lapangan kerja agar roda perekonomian tetap bergerak,” kata Soedaryatmo.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort