
![]() |
Oleh BUDIARTO SHAMBAZY
Banyak penggemar suka Jack Nicholson di film A Few Good Men (1992) saat mengucapkan kalimat, ”Bisakah kamu menghadapi kenyataan?” Tom Berenger di film Platoon (1986) mengatakan, ”Saya adalah realitas....”
Nicholson dan Berenger menokohkan orang yang posisinya terjepit. Padahal, mereka bersikap amat realistis.
Keputusan tak populer yang diambil Nicholson dan Berenger sebagai komandan militer secara politis benar, tetapi secara moral salah. ”Politically correct, morally wrong.”
Mereka mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompoknya. Kepentingan umum dan negara dikorbankan.
Begitu pula posisi pemerintah saat ini yang berencana menaikkan harga BBM. Tak sedikit rakyat memahami keputusan itu perlu, tetapi lebih banyak lagi yang tak setuju.
Harga BBM harus naik karena membebani APBN, itu teorinya. Sebagai keputusan berdiri sendiri dan tak bertali-temali dengan kondisi yang sedang rentan, itu wajar.
Harga minyak internasional terus meningkat. Apakah ada opsi-opsi lain di luar kenaikan harga BBM, itu pertanyaannya.
Negeri ini bukan Rusia, misalnya, yang menikmati keajaiban pertumbuhan. Harga BBM kini mencapai sekitar Rp 10.000 per liter dan tak memberatkan kehidupan sehari-hari kelas menengah/bawah.
Pemerintah Rusia malah puyeng karena suplai mobil terbatas, sementara permintaan meningkat. Padahal, nyaris semua pabrikan, seperti Mercedes-Benz, BMW, atau Jaguar, mengebut produksi sekencang-kencangnya.
Negeri ini juga bukan Amerika Serikat (AS). Harga BBM di sana melonjak ke sekitar Rp 9.000 per liter, membuat kelas menengah/bawah marah kepada kepemimpinan Presiden George W Bush.
Popularitas Bush anjlok drastis. Namun, tidak ada satu pihak pun yang melampiaskannya melalui demonstrasi—apalagi menunggangi mahasiswa.
Nah, bisa dibayangkan betapa sukarnya posisi SBY-JK. Meskipun jelas bukan Nicholson-Berenger, posisi mereka tentang realitas mirip adanya.
Namun, nasib Nicholson- Berenger tak seberuntung SBY-JK. Mereka berdua akhirnya diadili dan dijebloskan ke penjara.
SBY-JK masih punya waktu hanya sekitar setahun sebelum Pilpres 2009 untuk membuktikan keputusan itu benar adanya. Risiko terburuk bagi mereka berdua tak terpilih lagi memimpin bangsa.
Baik Nicholson maupun Berenger tak menyesali perbuatan mereka. Bukan mustahil SBY-JK bersikap serupa dan siap menerima akibatnya.
Nah, di negeri ini rencana kenaikan harga BBM makin memukul kelas menengah—apalagi rakyat miskin—sejak kenaikan Oktober 2005. Seperti kata pepatah, ”Tak perlu ahli roket untuk menjelaskannya.”
Ini semua telanjur menjadi realitas yang teramat sukar diubah. Sebagian besar rakyat hampir tak mungkin lagi mengencangkan ikat pinggang karena, ibaratnya, bahkan sudah tak punya celana.
Sesungguhnya argumen subsidi BBM hanya dinikmati ”kalangan mampu” ada benarnya. Masalahnya, siapa gerangan kalangan mampu itu?
Menurut pengamatan sederhana, kalangan mampu antara lain yang tiap hari memakai kendaraan roda empat dan dua—jelas bukan orang kaya saja. Jadi, tak ada manfaatnya main pukul rata.
Dalam menilai demonstrasi mahasiswa belakangan ini terjadi salah kaprah. Tampaknya rakyat tak lagi menumpukan harapan kepada pemerintah, DPR, parpol, atau ulama.
Seperti diajarkan sejarah bangsa, mahasiswa tinggal satu-satunya harapan bersama. Perubahan penting tahun 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998 selalu dipelopori mahasiswa.
Saya terkenang tahun 1998 ada dua pejabat yang merasa berjasa. Pejabat A bilang kebebasan pers merupakan berkah dari dia, pejabat B sesumbar kalau mau, ia bisa berkuasa.
Itu keliru karena andaikan tak memberlakukan kebebasan pers atau mengambil alih kekuasaan, mereka digilas gerakan mahasiswa. Tatkala mahasiswa menduduki Kompleks MPR-DPR, itulah yang disebut dengan the higher power.
Oleh sebab itu, tidak bijaksana menyebut ada yang menunggangi mahasiswa. Dengan segala hormat, mahasiswa abad ke-21 amat berbeda dengan para pendahulu mereka.
Tanyakan saja kepada sebagian menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang jadi pemimpin justru berkat kiprah mereka di masa lalu sebagai tokoh mahasiswa. Pasti jawaban mereka sama dengan pandangan Anda dan saya.
Saya yakin SBY-JK tak begitu terganggu dengan demonstrasi mahasiswa. Rakyat juga tidak pernah suka mereka yang coba mendompleng—bukan menunggangi—gerakan mahasiswa.
Kini bukan zaman penunggangan seperti orang naik kuda. Janganlah krisis moral, politik, dan ekonomi semakin mengambrukkan bangsa.
Rencana kenaikan harga BBM peluang bagi pemerintah kembali mengkaji ulang kebijakan terhadap eksplorasi migas kita yang kaya-raya. Pada era pasar bebas ini mustahil mengabaikan keterlibatan perusahaan-perusahaan besar dari mancanegara.
Di lain pihak, bagaimana sesungguhnya rencana besar pemerintah? Setiap terjadi kenaikan muncul persepsi kita, pengekspor minyak mestinya menikmati harga BBM murah.
Timbul pertanyaan kenapa kita mengimpor BBM dari Singapura? Sukar memotong habis free riders yang selama puluhan tahun menikmati keuntungan berlimpah.
Sesuai cerita awal, meski bersalah, Nicholson dan Berenger dihormati sebagai patriot bangsa. Kita kekurangan patriot bangsa.