
![]() |
|
|
KOMPAS/BONI DWI PRAMUDYANTO / Kompas Images
Sebagian masyarakat Palembang tidak lagi bergantung pada kain songket dalam menghadiri kegiatan resmi dan bernuansa budaya. Akulturasi budaya berpakaian mulai muncul, salah satunya ditandai maraknya pemasaran kain batik dari Pekalongan dan Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/5). |
Palembang, Kompas - Warga Palembang mulai beradaptasi dengan kain batik asal Pulau Jawa. Hal itu terlihat dari maraknya peredaran batik di pasar lokal Palembang. Bahkan pedagang merasakan peningkatan omzet penjualan karena penggemar kain batik di Palembang terus bertambah.
Pemantauan Kompas, Jumat (16/5), menunjukkan, peredaran kain batik di Palembang sudah cukup luas, mulai dari pasar tradisional, di sejumlah rumah toko (ruko), hingga ke stan-stan berbagai pameran.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sejumlah pelaku usaha juga menunjukkan bahwa geliat di sektor perdagangan pakaian jadi tradisional tersebut selama ini masih didominasi oleh produk batik jenis cap dan tulis asal Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagian kecil pakaian batik lainnya disuplai oleh produsen batik asal Kota Solo (Jawa Tengah) dan Yogyakarta (DIY).
Menurut Hanafiah (34), pedagang batik asal Palembang, sebagian masyarakat Palembang mulai melirik pakaian batik dan di sisi lain tidak lagi terlalu bergantung pada kain songket dalam menghadiri atau melakukan berbagai kegiatan formal dan adat. Hanafiah mulai memanfaatkan fenomena tersebut dengan mencoba berdagang batik sejak tiga tahun silam.
Harundang (43), warga Kelurahan Dempo, mengaku kenal baju batik pertama kali pada empat tahun silam. Saat itu, anak lelakinya yang bekerja di Semarang pulang ke Palembang membawa oleh-oleh baju batik dari Pekalongan.
”Setelah dipakai, baju batik ternyata sangat nyaman. Mulai saat itu, saya kerap menggunakan batik dalam acara resepsi pernikahan atau kegiatan budaya lainnya,” kata Harundang.
Lebih terjangkau
Hanafiah menambahkan, pakaian batik bisa mendapat tempat di Palembang terutama didukung oleh faktor harga jual yang lebih terjangkau. Faktor harga ini berbeda dengan kain songket yang rata-rata tak terjangkau sebagian masyarakat.
”Untuk perbandingan, batik bahan katun harganya Rp 40.000 hingga Rp 75.000 per potong. Songket harganya ratusan ribu hingga jutaan. Songket unggul dalam unsur keunikan, sedangkan batik unggul dari sisi praktis dan murah,” kata dia. (ONI)