
![]() |
Bandar Lampung, Kompas - Perum Bulog Lampung pesimistis mampu memenuhi pengadaan 100.000 ton beras. Hal itu karena harga komersial lebih tinggi dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah.
Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Lampung Novi Indiarto, Jumat (16/5), mengatakan, pada bulan April-Mei, Lampung sedang menghadapi panen raya. Namun, sejak pengadaan pertama bulan Februari 2008 hingga 15 Mei 2008, pengadaan beras baru tercapai 27.019 ton beras dari kontrak pengadaan 30.027 ton.
Pengadaan beras sebanyak itu diperoleh dari mitra kerja Perum Bulog Lampung di Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Bandar Lampung, dan Tanggamus.
Menurut Novi, pencapaian pengadaan sebesar itu terjadi karena Perum Bulog Lampung harus berhadapan dengan harga komersial atau harga pasar yang lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 4.300 per kilogram. Tingginya harga di pasaran menjadikan mitra kerja lebih memilih memasok beras ke pasaran daripada ke Perum Bulog.
Berdasarkan pantauan Kompas, Jumat (16/5), di sejumlah pasar dan toko beras di Bandar Lampung, harga di pasaran saat sekarang terpantau sebesar Rp 4.400 per kilogram beras asalan, Rp 4.800 per kilogram untuk beras kualitas sedang, dan Rp 5.400 per kilogram untuk beras kualitas bagus. Adapun beras kualitas super terpantau dijual dengan harga Rp 6.000 per kilogram.
Kepala Humas Perum Bulog Lampung Edi Hanif mengatakan, dengan harga setinggi itu, beras produksi Lampung banyak diminati pedagang beras asal Jambi, Bengkulu, Serang, Karawang, hingga Riau. Para pedagang beras antarprovinsi itu membeli beras Lampung dengan harga yang relatif tinggi, yakni sebesar Rp 5.000 per kilogram beras asalan diterima di tempat.
”Apabila ongkos angkut ke Jambi dan Bengkulu Rp 500 per kilogram, berarti harga beras dari penggilingan Rp 4.500 per kilogram,” kata Edi.
Lebih lanjut Novi mengatakan, khusus pembelian oleh pedagang asal Serang dan Karawang (Jawa Barat), beras asal Lampung akan dijadikan sebagai pencampur dari beras produksi Serang atau Karawang.
Namun, lanjut Novi, meski Perum Bulog harus berhadapan dengan harga komersial yang lebih tinggi, Perum Bulog optimistis pengadaan beras akan bertambah menjadi 40.000 ton hingga akhir Mei 2008. Hal itu karena saat panen raya saat ini penyerapan per hari sudah mencapai 1.000 ton per hari. (hln)