
![]() |
|
|
KOMPAS/DANU KUSWORO / Kompas Images
Taufik Hidayat yang bermain di partai ketiga melawan tunggal Korea Selatan, Lee Hyun-ill, Jumat (16/5), gagal menyelamatkan tim Thomas Indonesia ke partai final. Tim Thomas Korea Selatan yang mengalahkan tim Indonesia, 3-0, akan bertemu China di babak final. |
Jakarta, Kompas - Kegagalan merengkuh target juara—bahkan gagal melangkah ke partai puncak—setelah takluk dari Korea Selatan di semifinal Piala Thomas, Jumat (16/5) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, merupakan gambaran kemampuan pemain Indonesia. Inilah kemampuan terbaik Sony Dwi Kuncoro dan kawan-kawan.
Pemain tunggal kedua Indonesia Taufik Hidayat mengakui pemain sudah tampil sebagus dan semaksimal yang mereka bisa. Namun, kata dia, Indonesia tidak dinaungi dewi fortuna. ”Lihat saja Sony. Dia kalah pada game pertama, tetapi menang pada game kedua. Pada game ketiga dia bisa menyamakan kedudukan hingga 17-17. Siapa sih pemain yang enggak mau menang,” katanya.
Taufik mengatakan, siap dicaci maki atas kekalahan ini. Menurut dia, masyarakat berhak kecewa dengan kegagalan tim Piala Thomas Indonesia yang sejak awal ditargetkan juara. ”Untuk itu saya minta maaf,” kata Taufik.
Sebagai tunggal ketiga, Taufik tak mampu menyelamatkan Indonesia yang lebih dulu ketinggalan, 0-2, setelah Sonny kalah dari Park Sung-hwan dan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan kandas di tangan Jung Jae-sung/Lee Yong-dae. Tak seperti dua nomor sebelumnya—saat Indonesia memaksa Korsel bermain tiga game sebelum kalah—Taufik justru menyerah mudah dua game langsung.
Ganda pertama Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan— yang dikalahkan ganda pertama Korsel, Jung Jae-sung/Lee Yong- dae, 18-21, 21-18, 10-21—mengaku, kekuatan tangan mereka kalah jauh dibandingkan ganda Korsel.
”Tenaga tangan kita kalah. Latihan fisik yang dilakukan dengan bimbingan Jason Kurfurst juga belum terlalu terasa pengaruhnya. Mungkin memang karena baru saja dilakukan,” ujar Kido.
Hendra Setiawan menyebutkan kekalahan itu disebabkan keterlambatan memulai perburuan poin. ”Kami kalah start. Pertahanan mereka juga sangat rapat, kita serang balik malah tidak tembus,” kata Hendra.
Ditemui di Hotel Sultan, tempat menginap pemain, Manajer Lutfi Hamid mengatakan, para pemain pelatnas harus fokus untuk turun di Olimpiade 2008 di Beijing setelah kegagalan ini. Adapun mantan pemain, Iie Sumirat, berkomentar, Indonesia harus menyiapkan pemain-pemain baru. Jika tidak, dalam kejuaraan Piala Thomas 2010, Indonesia akan kehabisan pemain.
Sejarah Korsel
Setelah memastikan kemenangan atas Indonesia di semifinal, Manajer Korsel Kim Jong- soo mengaku ingin mencetak sejarah menjadi juara Piala Thomas.
Sebenarnya, lolosnya Korsel ke final Piala Thomas sudah merupakan sejarah tersendiri bagi Negeri Ginseng tersebut. Inilah untuk pertama kali sejak Piala Thomas diperebutkan tahun 1949 Korsel lolos ke final. Prestasi terbaik Korsel selama ini hanya mencapai semifinal.
”Di final kami kembali lagi menjadi underdog. Kami sudah berjuang mencapai final dan tentu saja ingin menjadi juara. Apalagi kalau melihat prestasi pemain Korea Selatan di berbagai turnamen internasional. Pemain kami bisa tampil bagus di Asian Games atau olimpiade. Sementara di Piala Thomas, ini yang pertama kami bisa mencapai final. Tentu kami ingin menciptakan sejarah,” ujar Manajer Tim Piala Thomas Korea Selatan Kim Jong-soo.
Namun, Kim justru senang dengan kondisi tersebut. Dia mengakui justru dengan posisi sebagai underdog, Korsel bisa mengalahkan Indonesia di semifinal.
Seperti melawan Indonesia, Kim mengungkapkan Korsel tetap memiliki kesempatan mencuri poin. Bahkan berbeda dengan saat sebelum menghadapi Indonesia, Kim kemarin mengatakan, timnya hanya memiliki peluang mengambil poin di tunggal pertama, ganda pertama, dan ganda kedua melawan China nanti. Namun, Korsel cukup percaya diri.
”Peluang kami meraih poin bisa diraih di tunggal pertama, ganda pertama, dan ganda kedua. Tetapi, bagaimanapun China saat ini merupakan tim terbaik dunia. Akan sangat sulit menghadapi China, tetapi pertandingan nanti bakal berlangsung ketat dan seru. Bakal jadi hiburan tersendiri untuk penonton di Istora,” katanya. (BIL/INK/IYA)