Selasa, 2 Desember 2008
Pekerja Industri Merosot
Sektor Padat Karya Paling Terpukul Kenaikan Harga BBM
Sabtu, 17 Mei 2008 | 00:50 WIB

Jakarta, Kompas - Kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM dipastikan menurunkan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Perindustrian pada tahun 2008 pun ditargetkan tumbuh paling rendah dalam tujuh tahun terakhir. Padahal, sektor industri adalah penyedia terbesar lapangan kerja formal.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian tahun 2007, jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor industri pengolahan nonmigas 13,22 juta orang, sedangkan 2006 sebanyak 12,6 juta pekerja. Saat terjadi kenaikan harga BBM tahun 2005, jumlah tenaga kerja di sektor ini turun 631.518 pekerja dibandingkan dengan 2004.

Padahal, target pertumbuhan industri 2008, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Depperin Dedi Mulyadi di Jakarta, Jumat (16/5), dipangkas kembali menjadi 5 persen.

Revisi target pertumbuhan industri sudah dilakukan tiga kali dalam lima bulan terakhir. Awalnya, industri nonmigas tahun ini diprediksi tumbuh 7,4 persen.

Menurut Dedi, revisi dilakukan dengan mempertimbangkan realisasi pertumbuhan industri yang merosot pada triwulan I- 2008. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, industri pengolahan tumbuh 4,3 persen pada triwulan I-2008 ketimbang triwulan I-2007. Pertumbuhan ini lebih didorong oleh subsektor padat modal, seperti alat angkut, mesin, dan peralatan, yang tumbuh 17,38 persen.

Subsektor industri yang paling terpukul justru yang padat karya, antara lain industri tekstil serta makanan dan minuman.

Triwulan I-2008, pertumbuhan industri tekstil merosot 7,10 persen dan industri makanan turun 1,26 persen. Kelompok industri barang lain yang didominasi usaha kerajinan berskala kecil dan menengah juga tumbuh minus 6,88 persen.

Melemahnya industri makanan dan tekstil berdampak besar karena dua jenis industri ini menyumbang 29 persen dan 10 persen dari total produk domestik bruto sektor industri.

Penyerapan tenaga kerja

Balitbang Depperin memprediksi kenaikan harga BBM akan menurunkan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Untuk industri makanan, penurunan tenaga kerja diperhitungkan 6,47 persen, saat ini ada 4,65 juta pekerja di sektor ini. Di industri tekstil, penurunan tenaga kerja 2,26-3,38 persen, dari sekitar 2,3 juta pekerja di industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno menyatakan, industri tekstil skala besar telah merumahkan sebagian karyawan dengan tetap membayar 50 persen gaji per bulan. ”Industri tekstil skala kecil dan menengah kebanyakan kerja dengan sistem borongan, jadi tinggal menghentikan pekerjaan. Kalau industri besar enggak gampang PHK karena biayanya mahal,” ujarnya.

Menurut Benny, pengurangan tenaga kerja seiring turunnya volume produksi, karena permintaan pasar domestik dan ekspor turun 10 persen. Padahal, harga bahan baku rata-rata naik 23 persen. Sementara biaya produksi, termasuk energi, distribusi, dan pengemasan, naik 7 persen

”Harga jual produk harus naik minimal 15 persen. Padahal, permintaan pasar turun,” ujarnya.

Tenaga kerja yang tersingkir di sektor formal umumnya beralih ke sektor informal, misalnya berdagang di kaki lima. (DAY)

BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort