
![]() |
|
|
/ Kompas Images
Carmen Piqueras Chacon |
Oleh Pieter P Gero
Pro dan kontra bermunculan saat Carme atau Carmen Piqueras Chacon menjadi perempuan pertama yang menjabat Menteri Pertahanan Spanyol, 14 April lalu. Bukan semata karena seorang perempuan ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan, pos yang lebih diperuntukkan bagi pria. Pro dan kontra lebih karena usia kandungan Chacon.
Tidak bisa disangkal, kehadiran Chacon sebagai Menteri Pertahanan merupakan bagian dari kontroversi yang acap dibuat pemerintahan sosialis pimpinan PM Jose Luis Rodriguez Zapatero. Seperti kontroversi Zapatero, menghadirkan sembilan menteri perempuan dibandingkan dengan delapan menteri pria saat diambil sumpah di hadapan Raja Juan Carlos, April lalu.
Sebuah kontroversi sekaligus sejarah dicatat Zapatero karena, pertama kali di Eropa, sebuah negara memiliki pemerintahan yang didominasi perempuan. Sebelumnya dominasi perempuan ini hanya ada dalam mitos Yunani, Amazon. Zapatero memang seorang pendukung fanatik kesetaraan jender.
Zapatero memang doyan kontroversi, seperti saat dia sebelumnya meluluskan UU Perkawinan Sesama Jenis. Begitu juga saat dia sebelumnya mengejutkan 45 juta warga Spanyol, yang mayoritas pemeluk Katolik, dengan meluluskan UU yang memperbolehkan perceraian.
Seperti juga kontroversi lain dalam kabinet Zapatero kali ini, saat dia menunjuk Bibiana Aido yang masih berusia 31 tahun sebagai Menteri Persamaan Hak. Sebuah rekor menteri termuda dalam sejarah pemerintahan Spanyol.
Cuti 16 pekan
Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan penunjukan perempuan kelahiran Esplugues de Llobregat, Provinsi Barcelona, 13 Maret 1971, itu sebagai Menteri Pertahanan. Kesetaraan jender di Spanyol memungkinkan perempuan menempati pos yang didominasi pria.
Bagi Chacon, pro dan kontra muncul karena perempuan berusia 37 tahun ini sedang hamil tujuh bulan. Pro dan kontra bukan soal kehamilan anak pertama dari perkawinannya dengan Miguel Barroso, wartawan yang juga mantan Menteri Negara untuk Komunikasi. Mereka menikah Desember 2007 setelah tiga tahun berpacaran.
Tetapi, pro dan kontra lebih pada soal cuti melahirkan selama 16 pekan, yang mengharuskan Chacon meninggalkan pekerjaannya. Pihak yang kontra menilai Chacon tak pantas untuk jabatan itu karena dia harus meninggalkan pos penting tersebut selama 16 pekan. Ada juga yang mengatakan, jabatan menteri pertahanan bukan jabatan enteng bagi perempuan.
Namun, Chacon tetap tak peduli. Hormat senjata langsung diberikan kepadanya saat dia memeriksa pasukan seusai pelantikan sebagai Menteri Pertahanan, April lalu. Mengenakan setelan hitam dan baju putih, Chacon tampil elegan dengan kandungan tujuh bulan yang jelas terlihat.
Chacon tetap berwibawa menatap para tentara. Begitu juga saat dia mengunjungi pasukan Spanyol yang bertugas di Afganistan dan Lebanon. Tentara harus serius menjelaskan jenis senjata saat ditanya perempuan penyandang gelar doktor hukum dari Universitas Autonomous Barcelona ini.
”Dia lebih dari seorang pria, melupakan kodrat perempuannya,” tulis Lucetta Scaraffia, wartawan Spanyol, soal Chacon. Tetapi, jauh hari Chacon menegaskan, dia akan tetap menyusui bayinya dan secara bertahap kembali menjalani tugasnya sebagai Menteri Pertahanan.
Chacon termasuk perempuan dengan kepercayaan diri tinggi. Pengalaman politiknya yang panjang membuat dia tak segan menerima jabatan menteri pertahanan sekalipun sedang hamil tujuh bulan. Dia memulainya tahun 1999 saat terpilih menjadi konsuler di kota kelahirannya. Dia menjadi deputi pertama wali kota urusan ekonomi, keamanan publik, dan sumber daya manusia.
Dari tingkat kota, tahun 2000, Chacon beranjak menjadi anggota parlemen Partai Sosialis untuk wilayah Barcelona. Oleh banyak lawan politiknya, dia dinilai genius dan jago berdebat. Bukan kejutan, dia langsung masuk dalam jajaran pimpinan Partai Sosialis.
Jalan Chacon menjadi menteri tinggal soal waktu. Jabatan anggota parlemen terus dia sandang. Saat Zapatero menjadi PM Spanyol pada pemilu tahun 2007, Chacon yang sebenarnya murah senyum ini ditunjuk sebagai Menteri Perumahan.
Bukan sekadar sejarah
Periode jabatan baru selang sebulan, apakah Carme Chacon cukup piawai sebagai Menteri Pertahanan dan bukan sekadar mencatat perempuan pertama yang menjabat Menteri Pertahanan Spanyol? Penunjukan Chacon bukan sekadar karena dia orang partai dan tak paham sedikit pun soal pertahanan.
Sejak aktif dalam Partai Sosialis, Chacon sebenarnya sudah sangat paham soal pertahanan. Dia pernah menjadi pengamat internasional dalam Organisasi bagi Kerja Sama dan Keamanan di Eropa (OSCE) di Bosnia-Herzegovina dan Albania. Karena itu, perjalanannya meninjau personel militer Spanyol di medan konflik bukan sebuah basa-basi.
”Zapatero akan menghadapi masalah,” ujar PM Italia Silvio Berlusconi soal sembilan perempuan dalam pemerintahan Spanyol. ”Terlalu feminis (genit),” tegas Berlusconi yang hanya menunjuk empat perempuan dari 12 menteri kabinetnya.
Apa pun alasan Berlusconi, Zapatero sudah mencatat sejarah, sedikitnya dengan kehadiran Chacon sebagai perempuan pertama di posisi menteri pertahanan. Sebuah upaya untuk memperlihatkan bahwa perempuan Spanyol punya kualitas setara dengan kaum pria.
Padahal, perempuan di Spanyol saat ini berpenghasilan 30 persen lebih kecil dibandingkan dengan kaum pria. Kurang dari 4 persen jabatan pimpinan perusahaan di Spanyol diemban kaum perempuan.
Carme Chacon menjadi simbol kehebatan perempuan Spanyol. Bukan kejutan kalau Chacon memeriksa barisan sembari menggendong bayinya.