
![]() |
|
|
AP photo/Susan Walsh / Kompas Images
Presiden AS George W Bush dan Ibu Negara AS Laura Bush duduk bersama Raja Abdullah (tengah) setelah mereka mendarat di Bandara Internasional Raja Kahlid di Riyadh, Arab Saudi, Jumat (16/5). |
Jerusalem, Kamis - Gedung Putih membantah bahwa Presiden AS George W Bush secara khusus mengkritik bakal calon presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama, dalam pidatonya mengenai pemenuhan tuntutan dari teroris.
Obama menuduh Bush melakukan politisasi kebijakan luar negeri di hadapan parlemen Israel, Kamis (15/5) lalu, dengan menyatakan bahwa Partai Demokrat bersedia berkompromi dengan para teroris.
Menurut Gedung Putih, pidato Bush sebenarnya mengacu pada pendapat orang yang setuju bahwa pembicaraan dengan teroris atau sponsor teroris merupakan tindakan yang tepat. ”Menurut kami, hal itu tidak dapat diinterpretasikan lain. Pernyataan itu tidak secara spesifik mengacu pada seseorang,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe.
Bush dalam kunjungan tiga hari di Israel membandingkan berbicara dengan ekstremis serupa seperti strategi Inggris memenuhi keinginan Nazi pada tahun 1930-an.
”Beberapa pihak percaya kita harus bernegosiasi dengan teroris atau radikal. Kita tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal ini, mencapai ketenteraman semu dan telah berulang kali didiskreditkan oleh sejarah,” kata Bush.
Kebijakan yang gagal
Namun, Obama membalikkan pernyataan itu. ”Sungguh menyedihkan jika Presiden Bush menggunakan kesempatan berbicara di depan Knesset (Parlemen Israel) pada ulang tahun ke-60 kemerdekaan Israel untuk melancarkan serangan politik yang salah,” kata Obama.
”Ini adalah waktu yang tepat untuk membahas kebijakan selama delapan tahun terakhir yang telah memperkuat Iran dan gagal melindungi AS atau kawan kita Israel. Walaupun pembicaraan alot dan tidak ada aksi, kita perlu melakukan apa yang telah dilakukan Richard Nixon dan Ronald Reagan (dua-duanya mantan Presiden AS) serta menggunakan seluruh kekuatan untuk menekan negara seperti Iran dan Suriah.”
Obama mengatakan pada Juli tahun lalu, dia akan bersedia berdialog dengan musuh AS tanpa syarat, seperti Iran, Suriah, Korea Utara, Venezuela, dan Kuba. April lalu, Obama memperbaiki penawarannya untuk berdialog dengan para pemimpin Iran bahwa mereka harus ditekan dengan ”hukuman” dan ”hadiah” agar mengakhiri program nuklirnya. Belum lama ini, AS melaksanakan konser musik sebagai diplomasi di Korea Utara. (AP/AFP/joe)