
![]() |
Medan, Kompas - Petugas Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Tipe A4 Teluk Nibung, Kabupaten Tanjung Balai, menyita 35.620 butir ekstasi asal Malaysia. Petugas itu juga menahan dua pembawa barang terlarang tersebut, berinisial Junaidi bin Zulkanan (22), warga Malaysia, dan Rustiadi (48), warga Indonesia.
”Petugas kami menemukan ekstasi itu disembunyikan dalam tas koper hitam dilapisi handuk dan tisu di sekoci kapal feri Aman III (milik perusahaan Malaysia),” kata Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (BC) Tipe A4 Teluk Nibung Nazarudin Hutasuhut, Jumat (16/5), saat memberikan keterangan dari Teluk Nibung, Tanjung Balai.
Saat sandar di pelabuhan pukul 20.30, petugas mengecek seluruh bagian kapal yang sudah tidak berpenumpang. Di bagian belakang di dalam sekoci kapal, petugas menemukan sebuah tas hitam berisi 36 kotak karton. Dalam kotak tersebut terdapat ribuan pil aneka warna bergambar bunga, walet, dan bintang.
Awalnya, petugas mengira pil dalam tas itu adalah obat-obatan biasa. Namun, setelah dicek bersama Polres Tanjung Balai, barang tersebut ternyata ekstasi yang terlarang beredar bebas.
Saat pemeriksaan berlangsung, tuturnya, kedua pemilik barang itu kabur ke Medan dengan memakai mobil sewaan. Selanjutnya, petugas Bea dan Cukai, bekerja sama dengan Pangkalan TNI AL Teluk Nibung dan Polres Tanjung Balai, mengejar pemilik barang itu, yang akhirnya berhasil ditangkap di Tanjung Mulia, Deli Serdang pada hari Jumat (16/5) pukul 02.00.
Hingga berita ini diturunkan, petugas mengamankan barang bukti dan pemilik barang di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe 4 Teluk Nibung. Rustiadi kemudian diketahui sebagai anak buah kapal feri Aman III, sedangkan Junaidi penumpang kapal. Penangkapan pil ekstasi dalam jumlah besar di pelabuhan itu merupakan peristiwa pertama sejak Nazarudin bertugas. Dia mengakui, pelabuhan itu sebelumnya dikenal masyarakat sebagai pintu keluar masuk barang ilegal.
Belakangan, pengawasan terhadap barang ilegal tersebut mulai mendapat pengawasan ketat. Sayangnya, peningkatan kerja ini tidak diimbangi dengan peralatan memadai petugas di lapangan. (NDY)