Kamis, 28 Agustus 2008
Tragedi Mei Belum Diakui
Rabu, 14 Mei 2008 | 00:25 WIB

Oleh Limas Sutanto

Setelah 10 tahun berlalu, mungkin bangsa ini dapat membuat refleksi yang jujur dan sehat tentang tragedi Mei. Dalam refleksi tersebut, mungkin tragedi itu dapat dirangkum dalam ungkapan yang berbunyi demikian: ”Tragedi Mei adalah tebaran perlakuan nirmanusiawi terencana oleh kelompok orang tertentu terhadap etnisitas minoritas Tionghoa di Jakarta dan beberapa kota lain pada 13-15 Mei 1998, tanpa tindakan perlindungan apa pun dari aparat keamanan negara. Perlakuan nirmanusiawi itu, antara lain, berupa pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita etnisitas itu, pembunuhan terhadap warga etnisitas itu, serta pembakaran dan penjarahan barang-barang milik mereka.”

Refleksi jujur dan sehat tentu tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan, apalagi mengambinghitamkan siapa pun. Ia dimaksudkan menggugah kembali kemauan bangsa belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan pada masa lampau demi perbaikan pikiran, perilaku, dan kehidupan kini dan mendatang yang tidak lagi ditandai dengan pengulangan kesalahan serupa.

Jika refleksi jujur dan sehat itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan nurani kemanusiaan yang wajar, kita akan dapat merasakan kengerian yang bermakna. Rasa ngeri yang merebak itu sehat dan ia dapat mengantar siapa pun yang merasakannya untuk mengakui karut-marut kesalahan yang terangkum dalam peristiwa yang disebut tragedi Mei.

Enggan belajar

Kendati kengerian yang merebak dari ingatan tentang peristiwa tragedi itu cukup kuat, sesungguhnya kengerian yang lebih kuat justru memancar dari realitas ”perilaku enggan belajar” yang mengkristal telak dalam ketidakmauan untuk mengakui tragedi itu, yang disusul dengan pelupaan tragedi itu begitu saja. Di balik perilaku enggan belajar itu bekerja beberapa mekanisme defensi ego (operasi- operasi kejiwaan tak jujur dan tak realistis yang bertujuan menyelamatkan diri sendiri) yang terutama berupa proyeksi, formasi reaksi, dan pengingkaran. Ini menyerupai mekanisme defensi utama yang bekerja pada pasien-pasien skizofrenia.

Melalui mekanisme defensi proyeksi, manusia melekatkan kesalahannya sendiri kepada pihak lain hingga ia melihat pihak- pihak lain itulah yang bersalah. Bekerjanya mekanisme defensi ini melandasi munculnya gejala curiga berlebih terhadap siapa pun yang membicarakan atau mempersoalkan tragedi Mei.

Mekanisme formasi reaksi berfungsi membalikkan kesalahan yang pernah dilakukan menjadi perbuatan kebalikannya, tanpa mengakui kesalahan itu. Mekanisme ini memunculkan gejala berupa tampilnya perbuatan amat baik justru oleh orang- orang yang sesungguhnya pernah melakukan kesalahan parah tanpa mengakui kesalahan itu. Sementara itu, mekanisme pengingkaran berfungsi mengingkari kesalahan yang sesungguhnya pernah dilakukan. Ia melandasi munculnya gejala melupakan kesalahan dan tiadanya pengakuan atas kesalahan.

Bekerjanya ketiga mekanisme defensi ego berakibatkan penghambatan bermakna terhadap proses mengakui kesalahan serta proses belajar. Realitas antibelajar inilah yang sangat mengerikan, lebih mengerikan daripada tebaran peristiwa nirmanusiawi yang sungguh terangkum dalam tragedi Mei. Mengapa demikian? Karena realitas antibelajar itu mencerminkan bersarangnya dua hal yang sangat memprihatinkan jika ditinjau pada perspektif keberadaban dan kemanusiaan.

Pertama, keterjebakan bangsa dalam problem mental lama—problem kekerasan, impulsivitas, dan agresivitas—yang hingga kini belum berubah karena memang tidak diubah oleh proses belajar. Kedua, ketiadaan jaminan yang dapat dipercaya untuk tidak akan berulangnya kesalahan dan perilaku kekerasan seperti yang pernah terjadi dalam tragedi Mei.

Mengakui kesalahan

Sudah banyak pihak secara berulang mengatakan betapa tindakan mengakui kesalahan dan mengingat peristiwa yang merangkum kesalahan itu begitu penting demi berlangsungnya perubahan mental bangsa. Banyak pula pihak yang secara berulang mengatakan bahwa desakan untuk mengakui kesalahan dan mengingat peristiwa yang merangkum kesalahan itu bukan dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan, bukan untuk mempermalukan, dan bukan pula untuk membalas dendam. Kendati demikian, bangsa ini hingga kini masih belum membentangkan kelegaan jiwa untuk mengakui tragedi Mei.

Tidak berlebih jika dikatakan hingga kini tragedi Mei belum diakui. Namun, mungkin masih ada harapan karena aneka pengalaman krisis yang terus dialami akhir-akhir ini mungkin dapat mendesak bangsa ini belajar lebih banyak dan terus belajar. Bangsa Amerika Serikat pun butuh waktu mengakui kesalahan mereka dalam politik segregasi kulit putih-kulit hitam.

Masih terdapat harapan, bahkan keyakinan, bahwa suatu saat tragedi Mei akan diakui secara jujur, sehat, dan bening. Semoga tidak terlalu lama lagi.

Limas Sutanto Psikiater Konsultan Psikoterapi; Wakil Presiden Asosiasi Psikoterapis Se-Asia Pasifik; Tinggal di Malang

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort