
![]() |
Jakarta, Kompas - Rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak maksimal 30 persen pada akhir Mei mengkhawatirkan pengemudi angkutan umum. Apabila kebijakan itu dijalankan, para pengemudi ini khawatir pendapatannya akan merosot hingga 70 persen
Sejumlah pengemudi angkutan umum yang dihubungi sejak Jumat hingga Minggu (11/5) mengemukakan kekhawatiran itu. Di antaranya pengemudi metromini P15 Setia Budi-Senen, P70 Ciledug-Blok M lewat Pos Pengumben, metromini M01 Kampung Melayu-Senen, M09 Tanah Abang-Kebayoran Lama, C01 Ciledug-Kebayoran Lama, dan C05 Pondok Aren-Kebayoran Lama.
Para pengemudi mengatakan, sejak proses kredit sepeda motor begitu mudah, banyak orang beralih dari angkutan kota (angkot) ke sepeda motor pribadi. Dampaknya pendapatan mereka turun hingga 50 persen.
Kalau terjadi kenaikan harga BBM, otomatis pendapatan mereka akan berkurang lagi 20 persen. ”Sekarang ini sejak banyak sepeda motor ’sewa’ (penumpang) kurang. Kalau harga bensin naik, kami harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bensin. Belum lagi setoran ke bos (pemilik angkutan) pasti naik. Kami dapat apa?” kata Alex, pengemudi M01.
Terancam
Alex mengatakan, bahan bakar menjadi tanggung jawab pengemudi. Dengan kenaikan harga bensin dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter membuat pengeluaran bertambah. Dengan harga bensin Rp 4.500 per liter, dirinya mengeluarkan biaya Rp 100.000 per setengah hari. Apabila harga bensin Rp 6.000 per liter, itu berarti biaya untuk bensin Rp 120.00 per setengah hari.
Selain bahan bakar, kenaikan harga BBM juga akan memengaruhi setoran kepada pemilik kendaraan. ”Setiap kali terjadi kenaikan harga BBM, bos pasti menaikkan setoran dengan alasan biaya perawatan dan surat-surat juga ikut naik,” kata Edi (47), pengemudi mikrolet C01. Biasanya kenaikan setoran hampir sama dengan persentase kenaikan harga BBM.
Selama ini Edi hanya mampu bekerja setengah hari dengan setoran Rp 50.000. Apabila terjadi kenaikan harga BBM, ia harus menyetor minimal Rp 60.000 per setengah hari.
Lain lagi dengan Sur (37), pengemudi metromini P15. Menurut dia, selama ini dia menyetor Rp 200.000 per setengah hari. Kalau harga BBM naik, setoran akan naik menjadi minimal Rp 240.000 per setengah hari.
”Dalam kondisi seperti ini, bagaimana para pengemudi terus bertahan. Semua naik, sedangkan jumlah penumpang kemungkinan turun. Anak dan istri mau makan apa?” kata Sur. (PIN)