
![]() |
Oleh Nur Afifi
Eksistensi kafe di Yogyakarta kini tampaknya menjadi pemandangan yang fenomenal. Melalui beragam nama, mulai dari warung kopi, coffee shop, caf?, kedai, sampai angkringan, kafe tumbuh bak jamur di musim hujan di kota gudeg ini. Fenomena kafe ini tak pelak merupakan sesuatu yang menggembirakan dan menjadi pesona tersendiri bagi "Bumi Mataram" ini. Inilah era baru generasi kafe.
Betapa tidak, keberadaan kafe untuk beragam usia di kota pendidikan ini tak bisa disangkal ternyata bukan sekadar tempat untuk menghilangkan rasa haus dan lapar, melepaskan penat dan rehat sejenak sehabis bekerja, atau sekadar untuk "menyeruput" secangkir kopi dengan asap rokok yang menyala-nyala sembari menikmati alunan musik (slow music) belaka; refreshing dan rendezvous!
Lebih dari itu, kafe tak jarang menjadi sarana lahirnya "state of mind" (kultur berpikir); menjadi tempat "lalu lalang" para aktivis, tokoh, dan politisi berdiskusi, "beradu silat" dan mengatur taktik dan strategi sambil menikmati layanan internet (hot spot), bahkan acap kali menjadi medium bagi para sastrawan dan seniman untuk mencari ide dan inspirasi, membincang sana-sini seputar bangsa, politik, ekonomi, sosial, sastra, maupun budaya.
Tentang yang terakhir tersebut, kehadiran kafe seperti itu tak ayal memiliki fungsi dan peran strategis dalam melahirkan pemikir- pemikir dan seniman-seniman yang andal. Sejumlah sosok seperti WS Rendra, Ebiet GAD, Emha Ainun Nadjib, JJ Kusni, dan Kuswaidi Syafi'i bisa dijadikan tamsil dalam hal ini, di mana "jagat kesusastraan" mereka dibentuk tak jauh-jauh amat dari "sekitar" kafe, meski tak sepenuhnya otomatis.
Kenyataan tersebut memaksa kita untuk menjelajah "rekam jejak" lahirnya sebuah kafe. Sejarah kafe acap kali dinisbatkan pada periode pencerahan (aufklarung) di Eropa (abad ke-18) yang ditandai dengan bangkitnya kesadaran intelektual, seperti tumbuhnya minat baca dan menjamurnya penerbitan sejumlah karya dari pelbagai disiplin, mulai dari sastra, agama, filsafat, hingga sains.
Kafe di Perancis seperti Deux Magots dan de Flore, misalnya, menjadi "saksi sejarah" tentang ide-ide besar dilahirkan dan langkah- langkah bersejarah dicanangkan. Kafe model ini tak pelak menjadi medium bangkitnya tradisi berpikir (state of mind) sejak Voltaire sampai zaman Revolusi Perancis, yang diekspresikan melalui pelbagai bentuk karya yang pada gilirannya mengantarkan sejumlah tokoh seperti Albert Camus, Jean Paul Sartre, dan Andre Malraux sebagai pemenang nobel bertaraf internasional.
Sejumlah buku, seperti Socrates Cafe (Citarasa Baru Filsafat) karya Christopher Phillips atau Das Cafe der Toten Philosophen (Minum Kopi bersama Arwah Para Filosof dari Socrates hingga al- Ghazali) hasil "goresan" Nora K dan Vittorio Hosle, menunjukkan akan fungsi dan peran strategis kafe tersebut.
Keberadaan kafe seperti itu tampaknya tak hanya terjadi di Eropa atau Perancis, tetapi juga menjamur di Mesir. Kafe atau akrab disebut "maqha" menjadi inspirator bangkitanya tradisi sufi, sastra, dan semangat revolusi di Mesir sejak abad ke-19. Dalam Ayyam laha Tarikh (Hari-hari yang Memiliki Sejarah), sastrawan Mesir, Ahmad Bahauddin, menyatakan bahwa kafe memiliki kekuatan (power) mengubah jalannya sejarah Mesir.
Sejumlah kafe di Mesir, seperti Kafe El-Fishawi, Maqh? Mitatia, atau Kafe Jamaluddin al-Afghani, menjadi titik tolak lahirnya peristiwa paling heroik dalam lintasan sejarah negeri Mesir, yaitu revolusi rakyat mendepak kolonialisme Inggris tahun 1919 yang terkesohor itu.
Lebih dari itu, kafe di Mesir tak hanya menjadi medium bangkitnya kesadaran politik untuk "mengusir" kolonialisme dan imperialisme, tapi juga menjadi titik tolak lahirnya sastrawan- sastrawan. Adalah sastrawan kawakan Mesir, Naguib Mahfouz, peraih Nobel Sastra 1988, yang membentuk pola pikir dan tulisannya dari kafe ke kafe, menjadi contoh akan kenyataan itu. Belajar pada sejarah
Sederhana. Dahsyat! Itulah ungkapan yang pas tatkala menelisik arti dan elan vital sebuah kafe di Eropa, Perancis, dan Mesir. Sederhana karena keberadaan kafe jauh dari kesan hiruk-pikuk hedonisme yang menjadi gaya hidup (life style). Dahsyat karena kafe menjadi titik tolak dan "saksi empiris" munculnya ide-ide besar dalam pelbagai bidang dan meletusnya sejumlah revolusi rakyat untuk mendepak "jejaring" kolonialisme dan imperialisme.
Dalam konteks itu, menjamurnya kafe di Yogyakarta perlu mendapat perhatian. Pertanyaan penting perlu diajukan, bagaimana wajah kafe di Yogyakarta? Mula-mula kafe di Yogyakarta memang telah menjadi titik tolak lahirnya sejumlah sastrawan kawakan seperti yang disinggung di atas tetapi keberadaan kafe kini menjadi "bukan apa- apa" dan tak lebih dari sekadar gaya hidup, yang cenderung berwatak individualis dan hedonis an sich.
Hal tersebut bisa ditilik dari menjamurnya kafe di provinsi yang disebut Never Ending Asia ini di satu sisi dan "mandulnya" peran dan fungsi kafe itu sendiri di sisi lain. Sebab itu, belajar pada "spirit" dan "kejayaan" kafe-kafe di Eropa, Perancis, dan Mesir perlu digalakkan di sejumlah kafe Yogyakarta ini. Fakta menegaskan bahwa kafe dihadirkan sebagai sarana lahirnya "kultur berpikir" (state of mind). Ini merupakan raison d'etre dari lahirnya sebuah kafe yang harus dipahami lebih dulu.
Karena itu, meretas elan vital kafe seperti pada awal kelahirannya tak ayal merupakan suatu keniscayaan. Andai saja hal itu benar-benar dipahami dan berbuah kenyataan, bukanlah hal yang mustahil kafe-kafe Yogyakarta di kemudian hari akan menjadi titik tolak dan "saksi bisu" lahirnya sejumlah "pakar" atau "pendekar" dalam pelbagai disiplin keilmuan dan kajian. Sesuatu yang menjadi impian kita, bukan? Nur Afifi Penikmat Kafe, Staf Peneliti The Annajah Institute di Yogyakarta, Pernah Tinggal di Perancis