
![]() |
Jika mengingat perhelatan Piala Thomas 1984, saat Indonesia tampil sebagai juara setelah mengalahkan China di final, ingatan kita pasti akan tertuju ke Hastomo Arbi. Pemain tunggal kedua tim Thomas 1984 itu menjadi pahlawan bagi Indonesia dengan menyumbangkan satu angka dari nomor tunggal, dalam laga final melawan China. Hastomo, yang kini berusia 50 tahun, mengalahkan Han Jian, 14-17, 15-6, 15-8.
Dengan kemenangan itu, skor tim menjadi 1-1 setelah Liem Swie King tumbang dari Luan Jin di partai pertama. Tim Merah Putih tertinggal lagi, 1-2, seusai Icuk Sugiarto kalah dari Yang Yang. Indonesia akhirnya menang, 3-2, setelah dua ganda putra Christian Hadinata/Hadibowo dan Swie King/Kartono menang.
Hastomo menjadi hero karena awalnya dia diprediksi kalah dari Han Jian. Saat ditanya resep kemenangannya, Hastomo berujar singkat, ”Ya main saja, Mas. Lepas saja. Enggak mikir menang-kalah.” Ia menambahkan, ketika itu Pelatih Tan Joe Hok dan Tahir Djide hanya memintanya untuk terus mengejar bola.
”Saya memang diperkirakan kalah dari Ha Jian, karena kalah terus dalam tiga pertemuan terakhir. Jadi rumusnya ya cuma kejar bola itu. Senang juga akhirnya bisa menyumbangkan poin penting buat tim,” ujar Hastomo, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Burikan, Kudus, belum lama ini.
Soal tim Piala Thomas kali ini ia mengakui secara tim memang kalah tangguh ketimbang China. Namun, bukan berarti kans tertutup 100 persen. Kakak kandung Eddy Hartono dan Heryanto Arbi itu mencontohkan, tim Thomas 1984 juga kalah kuat ketimbang China karena waktu itu tim Negeri Tirai Bambu punya tiga pemain tunggal hebat, Luan Jin, Han Jian, dan Yang Yang.
Kondisi ini tak jauh beda dengan saat ini karena China memiliki trio Lin Dan, Bao Chunlai, dan Chen Jin.
”Tetapi, toh kita bisa menang. Saya pikir kemenangan 1984 bisa menjadi inspirasi bagi tim kali ini,” kata mantan pemain yang kini aktif sebagai pelatih di PB Djarum, Kudus, itu.
Selain Hastomo, tim Thomas 1984 juga punya Liem Swie King. Juara tiga kali All England—1978, 1979, 1981—yang terkenal dengan ”king smash” itu adalah bintang bulu tangkis yang namanya masih dikenang hingga kini.
King, pemain bertipe penyerang kelas dunia itu, namanya sejajar dengan atlet-atlet papan atas masa itu, seperti Morten Frost Hansen (Denmark), Han Jian (China), dan Prakash Padukone (India).
Prestasi yang diraih King tak terlepas dari kerasnya latihan pria kelahiran 28 Februari 1956 itu. Swie King juga dikenal sebagai pemain yang sering menambah porsi latihan sendiri, di luar program pelatih.
King dan Hastomo adalah bagian dari sejarah yang bisa meraih kesuksesan dari sesuatu yang semula dianggap tak mungkin. Kondisi itu, seperti dikatakan Hastomo, bisa menjadi inspirasi tim Thomas 2008. (adp)