
![]() |
Indonesia Kita Benahi Bersama
Ibaratnya Indonesia dirundung malang! Bencana dan musibah beruntun terjadi, terakhir terendamnya kembali akses ke Bandara Soekarno-Hatta.
Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat menjerit. Rasa keterpurukan umum diperparah fakta serba kontras dan kontradiktif. Ketika masyarakat umum berjuang bertahan bisa hidup, sebaliknya segelintir kelompok masyarakat hidup berkelimpahan. Ketika pemberantasan korupsi digalakkan dengan motor KPK, praktik korupsi jalan terus. Ketika jumlah orang miskin 16,85 persen dari total penduduk atau sekitar 36,8 juta jiwa seolah-olah tidak membuat gerah kelompok elite politik dan pengambil keputusan strategis, pesta pora korupsi justru dinikmati semakin masif.
Pemerintahan pada zaman reformasi, saat ini, berada dalam keadaan serba sulit sehingga perlu hati-hati. Namun, ketika sikap dan cara bertindak hati-hati itu dominan, yang berkembang adalah mudah jadi sasaran empuk bagi pengkritik apalagi kelompok atau individu yang merasa lebih siap memimpin. Ajakan hidup hemat yang tidak diikuti instruksi, eksekusi, dan sanksi hanya menambah pekat rasa pengap. Mungkin tanpa muatan politik, rasa pengap diluapkan dengan hura-hura menentang kebijakan pemerintah, sebaliknya rasa pengap amat mudah menjadi bensin menyulut kebencian masyarakat umum.
Ada yang menyebut keadaan ini sebagai menganganya jurang warga dan pemerintah. Warga telanjur dipahami sebagai antitese pemerintah. Praktisi politik akan melihatnya sebagai belum terejawantahkannya jati diri kekuasaan sebagai ”melayani dan mengusahakan kesejahteraan umum”.
Diperlukan jalan keluar, semacam win win solution, mengatasi renggangnya hubungan warga dan pemerintah. Kehati-hatian melangkah dan lambat mengambil keputusan akan memperpanjang rasa perasaan ketertinggalan warga masyarakat. Ketegasan dengan perhitungan matang justru membuahkan hasil positif: terjembataninya rasa perasaan ketertinggalan.
Masalah Indonesia yang saat ini serba kontras dan kontradiktif berurat akar pada target muatan politik. Dibutuhkan ketulusan hati dalam mengambil keputusan, modal memperoleh dukungan warga masyarakat.
Kita tak ingin menjadi negara yang gagal. Kita bersama ingin disebut punya derajat dan martabat sebagai bangsa besar, modern, dan bermartabat; dan, bukan negara masa lalu yang ditandai oleh dominasinya kekerasan untuk menyelesaikan masalah, berkembangnya praktik pemegang kuasa sebagai pangreh dan bukan pamong.
Pesan ”kutitipkan Indonesia padamu” menyulutkan semangat membenahi negara dan bangsa. Masa depan Indonesia ada di tangan kita. Kita hentikan rasa perasaan ketertinggalan. Kita kembangkan jabatan kekuasaan yang membawa tanggung jawab dan kenikmatan, dan meninggalkan kegemaran parade pameran citra (wacana) untuk kepentingan pragmatis, Pemilu 2009.
***
Pertemuan Dua Raksasa Asia
Kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Jepang selama lima hari sejak Selasa lalu membuka lembaran baru dalam konteks hubungan kedua negara.
Terakhir kali kunjungan petinggi China ke Jepang dilakukan oleh mantan Presiden Jiang Zemin tahun 1998. Selama ini hubungan kedua negara selalu dalam lingkaran ”benci dan cinta” karena warisan PD II.
Kali ini merupakan kunjungan balasan Hu Jintao atas kunjungan PM Jepang Yasuo Fukuda beberapa waktu lalu ke China. Membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dengan tetangga adalah hal yang penting. Hal itu disadari betul oleh China yang kini tengah tumbuh dan bangkit menjadi kekuatan bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik dan militer di kawasan. Bagi China, pertumbuhan ekonominya amat bergantung pada terciptanya hubungan yang damai dengan tetangganya.
Jepang pun berpendapat serupa. Mengutip tulisan Michael Auslin di International Herald Tribune (8 Mei), hampir 20 persen ekspor Jepang langsung ke China. Perusahaan-perusahaan Jepang di China mempekerjakan 9 juta orang China. Selama beberapa tahun terakhir ini, perusahaan patungan mereka pun tumbuh dan berkembang.
Selain mengawasi pertumbuhan ekonomi China, Jepang juga dengan waswas mencermati pembangunan kekuatan militer negara tetangganya itu karena anggaran militer China setiap tahun meningkat dua digit dan tentaranya dilengkapi dengan mesin perang modern.
Sementara Jepang masih tetap dibatasi oleh konstitusi pascaperang, yang menetapkan kekuatan militernya tetap hanya untuk membela diri dan dengan anggaran tidak lebih dari 1 persen dari GDP. Meskipun, sejak tahun 2001, Jepang mengakali dengan meningkatkan anggaran pasukan penjaga pantainya dan dilengkapi dengan perlengkapan modern.
Sulit dimungkiri bahwa kini Jepang dan China merupakan dua dari tiga raksasa di Asia (raksasa ketiga adalah India) yang akan merajai kawasan di segala bidang. Ketiganya akan terus membangun diri dan bersaing. Asia akan menjadi arena pertarungan mereka. Namun, mengutip pendapat Bill Emmott dalam Rivals, tak satu pun di antara mereka yang akan muncul sebagai pemimpin. China mungkin akan muncul sebagai yang paling kuat, tetapi akan seperti Inggris pada abad ke-19, tidak dapat mendominasi kawasan.
Karena itu, hubungan baik di antara mereka adalah sangat penting artinya bukan hanya bagi mereka sendiri, tetapi juga bagi kawasan di masa depan, baik dari segi keamanan maupun pertumbuhan ekonomi.