
![]() |
Shigeru Takatori
Sulit sekali PM Jepang Yasuo Fukuda menjalankan pemerintahan menghadapi golongan oposisi yang menguasai Majelis Tinggi. Popularitas kabinetnya merosot terus melewati ambang bahaya 20 persen.
Pekan lalu, survei opini umum koran Asahi menunjukkan 20 persen pendukung; turun dari 25 persen. Survei kantor berita Kyodo menunjukkan angka serupa, yaitu 19,8 persen. Turunnya dukungan atas Fukuda tampaknya justru akibat mayoritas mutlak Partai Demokrat Liberal (LDP)- nya di Majelis Rendah. Lho?
Kecenderungan merosotnya dukungan rakyat terhadap LDP terbukti lagi dalam pemilihan untuk mengisi kekosongan anggota Majelis Rendah di Provinsi Yamaguchi, Jepang selatan, akhir April. Calon dari koalisi LDP-Partai Komei kalah besar dari calon Partai Demokrat yang oposisi. Dalam pemilihan yang merupakan kesempatan baik pertama untuk menguji dukungan masyarakat terhadap Kabinet Fukuda itu, baik partai-partai berkuasa maupun oposisi mati-matian bersaing untuk menang.
Penyebab utama kekalahan Fukuda diperkirakan adalah sistem asuransi kesehatan baru bagi orang-orang lanjut usia yang mulai diberlakukan awal April lalu. Sistem yang mengharuskan sebagian besar kaum lansia di atas 75 tahun membayar premi yang lebih besar itu, ditambah kekacauan administratif pada hari-hari peluncurannya, mendorong para pemilih yang lanjut usia menjauh dari LDP. Padahal, selama ini merekalah inti simpatisan LDP yang kebijakannya konservatif.
Masalah harga bensin juga jadi penyebab turunnya popularitas Fukuda. Dengan habisnya masa berlaku pajak tambahan bensin akhir Maret lalu, masyarakat Jepang sempat menikmati turunnya harga bensin dari 150 yen (Rp 12750) menjadi 125 yen (Rp 10.625) per liter. Upaya LDP untuk memperpanjang masa berlakunya pajak gagal akibat penolakan golongan oposisi di Majelis Tinggi. Namun, sebulan kemudian, dengan memanfaatkan mayoritas mutlaknya pemerintah berhasil memberlakukan kembali pajak tambahan itu melalui pemungutan suara di Majelis Rendah. Simpati masyarakat pada golongan oposisi tercermin dalam survei opini kantor berita Kyodo yang mengungkapkan 72 persen responden tidak senang dengan diberlakukannya lagi pajak itu.
Ruginya mayoritas mutlak
Berdasarkan Konstitusi Jepang, Majelis Rendah memiliki kewenangan lebih besar daripada Majelis Tinggi sehingga dengan suara mayoritas 2/3 dapat menolak keputusan Majelis Tinggi. Sebelum soal pajak bensin, Fukuda pernah menggunakan kewenangan itu, yaitu waktu meloloskan RUU Antiterorisme Baru yang memungkinkan pasukan Bela Diri Jepang (SDF) kembali ke Samudra Hindia guna menyuplai bahan bakar bagi kapal-kapal multinasional yang terlibat dalam operasi perang antiteroris, hal yang ditentang keras oleh PD.
Ketika itu opini publik pun tampaknya terbagi dua. Survei koran Asahi segera setelah pengesahan itu menunjukkan 36 persen responden mendukung UU yang baru itu dan 40 persen menentangnya. Tentu saja Fukuda dan LDP-nya menganggap, walaupun tidak disenangi kebanyakan rakyat, kebijakan-kebijakan yang diperlukan harus dijalankan demi kepentingan nasional jangka panjang.
Mayoritas mutlak LDP sekarang dimenangkan dalam pemilu September 2005 di bawah pimpinan PM Junichiro Koizumi, di mana LDP berhasil memenangi 327 dari 480 kursi parlemen; suatu hal yang jarang terjadi dalam politik Jepang. Ketika Koizumi menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada penggantinya, Shinzo Abe, tahun 2006, mayoritas itu dianggap sebuah kado istimewa Koizumi untuk LDP. Namun, sejauh ini mayoritas mutlak itu ternyata malah menurunkan dukungan rakyat terhadap LDP.
Dengan memiliki mayoritas mutlak di Majelis Rendah yang lebih berkuasa, LDP tidak merasa perlu bersungguh-sungguh mencari kompromi dengan golongan oposisi. Pilihan politik Fukuda jadi terbatas karena akan ditentang oleh LDP-nya sendiri kalau ia menawarkan kompromi kepada golongan oposisi. Dalam pembahasan kebijakan kontroversial di Majelis Tinggi, LDP tidak lagi membahasnya, tetapi menunggu selesainya masa sidang.
Mantan PM Koizumi pernah mengatakan bahwa demi untuk reformasi Jepang, dirinya tidak segan menghancurkan LDP-nya sendiri. Sikapnya ini mendapat dukungan luar biasa sampai LDP memenangi mayoritas mutlak di Majelis Rendah. Mayoritas mutlak yang mulanya seperti kado istimewa itu ternyata menjadi sebuah bom waktu bagi Fukuda.
Shigeru Takatori Mantan Produser Senior NHK; S-2 dari Melbourne University dalam Media Massa Indonesia