Senin, 21 Juli 2008
(Bukan Sekadar) Kategori dan Klasifikasi
Sabtu, 10 Mei 2008 | 00:45 WIB

Christina M Udiani

Klasifikasi dan kategori. Tak banyak yang dikatakan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang kata ini selain bahwa ”klasifikasi” adalah ”penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut standar yang ditetapkan”, dan ”kategori” adalah ”bagian dari suatu sistem klasifikasi (golongan, jenis pangkat, dan sebagainya)”.

Namun, mari sejenak kita buka kembali riwayat perjalanan bangsa kita. Banyak cerita seputar klasifikasi dan kategori akan kita dengar, cerita yang tak jarang melibatkan pertumpahan darah.

Ambil misal salah satu kisah pada awal abad ke-17. Demi pembagian catu bulanan dan pengelolaan kota, VOC memilah-milah penduduk Batavia dan membedakannya dari penduduk di luar Batavia. Penduduk Batavia dibagi menjadi lima kelompok, di antaranya Eropa, China, dan warga biasa atau warga bebas. Pendatang yang kebanyakan berasal dari Mataram dan Banten dianggap orang Jawa (Javannen) dan diklasifikasikan sebagai orang asing (vreemdelingen). Kelompok belakangan ini sering dipersalahkan masuk diam-diam ke Batavia dan dianggap membahayakan gubernur jenderal. Sebab itu, VOC melarang mereka masuk ke kota.

Pada 1628 dan 1629, setelah gagal mengambil hati VOC dan mendekati Portugis di Malaka, Mataram di bawah komando Sultan Agung menggempur VOC. Mataram kalah, ribuan nyawa melayang. Kini VOC telah bubar dan penjajah sudah lama angkat kaki dari Nusantara, tetapi klasifikasi sosial politis China dan Jawa tetap bertahan hingga detik ini.

Dalih yang sah

Ada kisah lain yang relatif belum lama berselang dibandingkan dengan kisah di atas. Sekitar pukul 20.00, pada 1 Oktober 1965, RRI pusat menyiarkan pidato Mayjen Soeharto yang menyatakan, telah terjadi kudeta oleh PKI melalui Gerakan 30 September. Tiga hari kemudian, dalam penggalian jenazah para jenderal dan perwira di Lubang Buaya, Soeharto kembali menegaskan, jenazah tersebut merupakan korban ”tindakan biadab dari petualang yang dinamakan Gerakan 30 September”. Soeharto pun tak lupa memberi gambaran palsu tentang buruknya kondisi tubuh korban, ”Ketujuh jenazah... ditemukan dalam keadaan tubuh yang jelas penuh luka siksaan. Bekas luka di sekujur tubuh akibat siksaan sebelum ditembak mati masih membalur pada tubuh-tubuh pahlawan kita....”

Maka, lebih kurang sejak saat itu, kisah-kisah horor betapa kejam dan biadabnya G-30-S merantak merebak. Bersamaan dengan itu, orang mulai sibuk dengan label PKI dan non-PKI atau anti-PKI. Makin hari pemilahan makin tajam membelah masyarakat karena tersebar kabar tentang perlakuan biadab yang sama akan menimpa mereka yang non-PKI seandainya kudeta G-30-S berhasil. Puncaknya, sebagaimana dituturkan oleh John Roosa, tafsiran menyimpang tentang G-30-S dan PKI menjadi dalih yang sah bagi Soeharto untuk membantai jutaan orang yang diklasifikasikan sebagai PKI, entah itu benar atau hanya dugaan. Sekarang Soeharto sudah meninggal, tetapi kategori PKI dan non-PKI, komunis dan nonkomunis, tetap tinggal dengan segala konsekuensinya yang menghancurluluhkan sendi-sendi rasa kemanusiaan.

Setelah peristiwa G-30-S, kisah berdarah akibat klasifikasi masih bisa dijumpai di sana-sini dalam perjalanan bangsa kita, termasuk perburuan mereka yang diduga dukun santet di Banyuwangi. Namun, yang juga tak kalah penting adalah klasifikasi sosial yang setiap hari berseliweran di benak kita, mulai dari yang mengatakan bahwa dia miskin, terbelakang, hingga bahwa ini bidah, itu sesat, ini melanggar akidah, itu tak beradat, ini porno, itu tak bermoral sehingga pantas dibubarkan, ditiadakan, dan dibinasakan.

Juga sebaliknya, tak bisa diabaikan kategori yang menyatakan seseorang terpandang, terhormat, berakhlak atau benar, murni, sejati, hingga paling pantas dan layak menetapkan standar-standar moral. Kategori demi kategori terus bermunculan dengan konsekuensinya masing-masing, yang umumnya mendiskreditkan kelompok tertentu dan mengagulkan kelompok yang lain.

Logika penguasa

Ada seorang pemikir, Michel Foucault, yang tertarik melihat bagaimana suatu kategori muncul dalam suatu masyarakat, bagaimana orang bisa disebut gila, sakit, kriminal, ataupun berperilaku seksual menyimpang dan apa akibat klasifikasi tersebut. Studi yang dia lakukan cukup unik, memanfaatkan pendekatan arkeologi dan genealogi ketimbang mengikuti logika sejarah kendati banyak memanfaatkan fakta-fakta sejarah. Dalam salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Discipline and Punish, setebal 223 halaman, Foucault memanfaatkan tak kurang daripada 190 sumber, dan sekitar 80 persen di antaranya merupakan terbitan abad ke-19.

Salah satu yang menarik dari studi Foucault adalah bahwa kategori yang tampaknya alamiah sekalipun, ”gila” atau ”sakit” atau ”kriminal” atau ”seks abnormal”, pada dasarnya ditentukan oleh kekuasaan, dan karena itu senantiasa berubah sesuai dengan logika si penguasa. Siapa yang dimaksud sebagai orang gila tak sama dari waktu ke waktu. Begitu juga siapa yang disebut kriminal, tak sama dari masa ke masa. Kekuasaan bisa sepenuhnya menentukan kategori dan menyusun klasifikasi.

Yang lebih menarik dari studi Foucault tersebut adalah konsekuensi suatu kategorisasi. Begitu seseorang dianggap oleh kekuasaan masuk dalam kategori tertentu, dia pantas dan layak dikenai tindakan yang dipandang sesuai oleh kekuasaan. Kategori, dalam studi Foucault, menjadi dalih yang sah untuk mengirim orang ke penjara, ke rumah sakit jiwa, ataupun dikendalikan perilaku seksualnya.

Tak banyak yang dikatakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang kategori. Namun, bila kita tengok ke belakang pengalaman bangsa kita, banyak cerita bisa kita dapatkan. Mungkin cerita itu akan lebih banyak lagi mengingat Pemilu 2009 sudah di depan mata. Mari kita lihat kategori apa lagi yang akan bermunculan.

Christina M Udiani Mantan Editor Penerbitan Buku; Kini Studi dan Tinggal di Pune, India

 

 

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort