
![]() |
|
|
KOMPAS/SIDIK PRAMONO / Kompas Images
Jalanan yang buruk menjadi kendala perjalanan di lintas barat Sulawesi. Sebuah bus terguling di kawasan Topoyo, Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (6/5) siang. |
Sidik Pramono
Para pedagang antardaerah jangan berdagang telur di daerah pantai Sulawesi Barat kalau tidak mau merugi. Pasalnya, bisa-bisa telur yang dibawa sudah lebih banyak yang pecah ketimbang yang selamat sampai tujuan.
Pernah Hj Naimah (42), warga Karossa, Mamuju, membawa telur 10 rak dari Polewali. Sampai di tujuan, sebagian besar dari 300-an telur yang dibawanya pecah akibat guncangan sepanjang perjalanan. ”Pokoknya, rugi banyak,” kata Naimah.
Kebutuhan telur untuk warga Sulawesi Barat memang dipasok dari wilayah Sulawesi Selatan atau juga Sulawesi Tengah. Namun, bisa jadi karena jalanan yang rusak dan risiko telur rusak yang lebih besar, harga telur di Sulawesi Barat menjadi jauh lebih mahal ketimbang di provinsi tetangga.
Menurut Ali Amran (50-an), warga Pasangkayu, Mamuju Utara, jika harga telur di Palu diperoleh dengan maksimal Rp 20.000 per rak, di Pasangkayu harganya bisa melonjak menjadi Rp 30.000 setiap rak. ”Mungkin saja pedagangnya sudah berhitung pecah di jalan,” kata Ali, pemilik rumah makan di Pasangkayu.
Butuh kesabaran ekstra untuk melintas jalur pantai barat Sulawesi yang merupakan perlintasan wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Kalaupun pelintas lebih memilih jalur lintas barat Sulawesi, mayoritas karena tuntutan pekerjaan. Misalnya, sopir canvas seperti Ade yang mesti mengantarkan barang dari Palu ke wilayah-wilayah di barat Sulawesi.
Sekalipun jarak tempuh lebih jauh, yang memilih lewat jalur tengah Sulawesi via Poso kebanyakan karena pertimbangan jalanan yang lebih baik kondisinya. ”Kalau lewat sini berat, tidak bisa cepat,” kata Ade.
Memang sulit menghitung dengan pasti seberapa lama perjalanan bisa ditempuh. Perjalanan dari Mamuju ke Pasangkayu di Mamuju Utara sepanjang 270-an kilometer makan waktu lebih kurang 8 jam. Jadi, jarak memang bukan satu-satunya ukuran. Pasalnya, jalanan berlubang di badan jalan, aspal yang terkelupas, longsoran lempung- pasir-batu dari badan bukit merupakan hal yang jamak ditemui.
Jalanan seperti itu pastilah bukan jaminan perjalanan yang nyaman. ”Kalau orang hamil muda, bisa langsung keguguran,” kata Naimah sambil tertawa masam.
Musim kering, debu akan menemani perjalanan. Sebaliknya, hujan pun seolah menjadi ”musuh alami”. Lubang-lubang di jalanan berubah menjadi kubangan setelah turun hujan. Bahkan nyaris bisa dipastikan akan ada saja ruas jalan yang terputus tertutup longsoran sesaat atau setelah hujan. Kondisi pun bisa berubah seketika: hari ini berangkat dan bebas melintas, bisa jadi keesokan harinya terhalang. Alhasil, kondisi di lapangan saat itulah yang paling menentukan kapan kita bakal sampai ke tujuan.
Misalnya pada Senin (5/5) dini hari ketika longsoran memutus trans-Sulawesi di Salletto, Kecamatan Simboro Kepulauan, Mamuju, akibat hujan deras sejak Minggu malam. Lebar jalanan yang awalnya sekitar 5 meter menyusut tinggal separuhnya.
Antrean kendaraan memanjang sampai 5 kilometer menunggu pembersihan longsoran dari badan jalan. Akibatnya, perjalanan Mamuju-Majene yang biasanya makan waktu 3 jam molor sampai 5 jam.
Bukan sekadar mundur dari rencana. Bisa jadi pengalaman yang lebih tak menyenangkan mesti dialami. Selasa (6/5) siang, Naimah beroleh kejadian buruk. Bus yang ditumpanginya nyaris terguling di kawasan Salubarana, Topoyo, Mamuju. Saat hendak mendaki tanjakan yang aspalnya terkelupas parah, bus ”terengah- engah” lantas melintir. Sebelah sisinya terangkat sekitar setengah meter dari permukaan tanah. Penumpang panik berebut berhamburan keluar dari bus.
Gangguan keamanan juga mesti diwaspadai jika hendak melintas jalur barat trans-Sulawesi. Selalu ada yang mewanti- wanti untuk tidak melintas sendiri di wilayah sepi. Penghadangan di jalan dan perampokan bisa terjadi di wilayah yang jarang penduduknya. Misalnya di wilayah Tikke, Mamuju Utara. Jalanan buruk di tengah perkebunan sawit berisiko jika harus dilewati sendirian pada malam hari.
Kendala utama
Kondisi yang memprihatinkan itu bukan hanya di jalur poros barat trans-Sulawesi. Akses antarkabupaten dan antarkecamatan di wilayah Sulawesi Barat lebih buruk lagi. Tebak saja berapa waktu tempuh perjalanan dari Polewali ke Mamasa sepanjang 90-an kilometer dengan kendaraan pribadi? Bisa dibayangkan bagaimana kondisi jalanan jika jarak itu memakan 5 jam perjalanan?
Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh mengakui bahwa infrastruktur jalan merupakan kendala utama untuk membangun Sulawesi Barat. Setiap kali terjadi longsor, butuh waktu untuk mengatasinya karena keterbatasan alat berat.
Untuk mengatasi masalah di lapangan, Pemerintah Daerah Sulawesi Barat menyiagakan para mandor jalan yang ditempatkan per 5 kilometer jalan. Beban kendaraan yang lebih berat ketimbang kapasitas jalan juga berkontribusi pada kerusakan jalan.
Padahal, di masa awal pemerintahannya sekarang, Anwar menjanjikan infrastruktur menjadi program prioritas. Hanya dengan infrastruktur yang baik, daerah pedalaman bisa lebih terbuka dan pembangunan bisa berjalan lebih cepat.
Hanya saja, kemampuan daerah tidak bisa sepenuhnya diharapkan. Bantuan keuangan dari pemerintah pusat tetap menjadi andalan.
Untuk tahun 2008, dana bantuan Bank Dunia Rp 500 miliar diperuntukkan bagi pembangunan dan perbaikan trans-Sulawesi. Namun, Anwar juga menyatakan, harus pula diakui bahwa kondisi saat ini membaik dibandingkan dengan sebelumnya.
Tentu tidak seluruh jalur lintas barat Sulawesi sedemikian buruknya. Setidaknya, jembatan darurat dengan susunan batang kelapa sudah jarang ditemui. Jalanan Pasangkayu menuju Palu yang mencapai 120 kilometer relatif lebih baik ketimbang poros Mamuju-Mamuju Utara, misalnya. Perpindahan baik-buruk kondisi jalan dari wilayah Sulawesi Barat ke wilayah Donggala, Sulawesi Tengah, tidak sedrastis masa-masa sebelumnya.
dARI Pengamatan Kompas, perbaikan besar-besaran mulai terlihat di sejumlah wilayah di Sulawesi Barat. Sangat mudah ditemui papan nama penanda adanya proyek pembangunan, perbaikan, atau perawatan jalan dan jembatan di ruas trans-Sulawesi. Alat berat yang terparkir di pinggir jalan yang mulai dikeraskan memperlihatkan perbedaan dibandingkan dengan kondisi pada akhir tahun lalu.
Jalanan dengan aspal mulus yang masih baru juga bisa ditemukan di beberapa ruas. Namun, kalau ketemu jalan bagus, jangan terburu-buru menghela napas lega dan memuji. Belum lepas mulut memuji, jalanan buruk langsung terpampang di hadapan.
Anwar yakin, jika sudah tuntas diperbaiki, jalur barat Sulawesi akan menjadi pilihan karena jaraknya yang lebih pendek, keamanan lebih baik, sekalipun pos penjagaan polisi memang relatif lebih sedikit ketimbang jalanan lewat jantung Sulawesi di wilayah Poso.
Jika lalu lintas antarwilayah lebih lancar, Anwar yakin perekonomian rakyat pun akan meningkat. Produk dari masyarakat di pedalaman akan lebih mudah dipasarkan dan harga bahan kebutuhan di Mamuju bisa sama dengan harga di Makassar atau Palu.
Apa pun, bagi warga pelintas rutin jalur lintas barat Sulawesi seperti Pieter, yang dibutuhkan adalah perbaikan besar dan juga perawatan berkala. Faktanya, tidak semua ruas rawan longsor sehingga mestinya tidak ada alasan lagi membiarkan jalanan cepat rusak.
Bagi warga Makassar yang sudah hampir sembilan tahun menjadi sopir truk itu, selama ini perbaikan memang ada meski masih jauh dari signifikan dibandingkan dengan masa-masa panjang kerusakan jalan.
Harapan Pieter, jangan sampai pembangunan infrastruktur hanya terjadi sesaat menjelang dan sesudah pergantian pejabat. Juga jangan sampai pembangunan jalan sekadar dimaksudkan untuk menyambut kedatangan pejabat dari Jakarta.
Kenyang menghabiskan hari di jalanan trans-Sulawesi, Pieter bahkan hafal betul jika gereget perbaikan jalan senantiasa berendengan waktunya dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada).
Dengan tawa berderai, Pieter memberi masukan, ”Kalau begitu, ya, pilkada saja terus tiap hari.”